Jakarta (ANTARA) - Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) mengingatkan pemerintah perlunya perbaikan penanganan kemacetan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang sempat terhambat pada penyelenggaraan pelayanan mudik Idul Fitri 1447 H/2026.

Dalam penilaiannya, Ketua FKBI Tulus Abadi mengapresiasi penyelenggaraan pelayanan mudik Idul Fitri 1447 H/2026 yang berlangsung aman, meskipun masih terjadi kemacetan di beberapa titik.

"Secara umum prosesi pelayanan mudik Lebaran berjalan baik di semua sektor. Hal ini ditandai dengan tidak adanya kecelakaan fatal dengan korban massal di angkutan umum," kata Tulus Abadi dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Pelayanan mudik di sektor udara dan perkeretaapian juga dinilai mulus dan lancar tanpa gangguan berarti.

"Tidak ada delay signifikan di maskapai maupun kereta api, serta tidak ada kecelakaan kereta api," kata Tulus yang juga Anggota Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) dari unsur masyarakat.

Kendati demikian, Tulus menyoroti kemacetan yang masih terjadi di sejumlah titik, terutama di jalan tol dan penyeberangan.

"Di tol MBZ kemacetan bisa mencapai lima jam, namun ini belum sampai level horror traffic. Level tersebut justru terjadi di Pelabuhan Gilimanuk dengan antrean hingga 20 km," katanya.

Menurut dia, kemacetan di Gilimanuk dipicu oleh angkutan barang bersumbu tiga ke atas yang masih beroperasi, padahal seharusnya dibatasi.

Tulus mengatakan hambatan distribusi akibat kemacetan juga menyebabkan gangguan ketersediaan BBM di sejumlah titik. Hal itu lantaran mobil tangki BBM terjebak kemacetan sehingga pasokan terganggu.

Di sisi lain, ia menegaskan pengelola SPBU harus menjamin ketersediaan BBM bagi masyarakat.

"Apapun alasannya tidak boleh BBM di SPBU sampai kosong, karena melanggar hak-hak publik," tegasnya.

Tulus juga mendorong pemerintah dan Korlantas Polri untuk mengoptimalkan rekayasa lalu lintas tidak hanya di jalan tol, tetapi juga jalur pantau utara Jawa (Pantura) karena jumlah kendaraan yang terus meningkat.

Selain itu, ia juga mendesak pembatasan lebih ketat terhadap pemudik sepeda motor serta pelaksanaan contraflow yang lebih mengutamakan keselamatan.

"Pemudik motor perlu dibatasi karena risikonya tinggi, dan contraflow harus dilakukan lebih hati-hati dengan pembatas yang lebih aman," kata Tulus.

'