Kompaknya Warga Delanggu Klaten Buat 1.500 Ketupat Jelang Bakdo Kupat, Seminggu Setelah Idulfitri
Rifatun Nadhiroh March 26, 2026 04:29 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN – Masyarakat Padukuhan Kebonsari, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, bergotong royong memasak 1.500 ketupat pada Kamis (26/3/2026).

Tradisi ini dilakukan menjelang perayaan bakda kupat atau Lebaran Ketupat yang biasa digelar masyarakat Jawa sepekan setelah Idulfitri.

Pantauan TribunSolo.com, warga tampak saling membantu dalam proses pembuatan ketupat.

Kegiatan dimulai dari menganyam janur menjadi wadah berbentuk persegi, yang kemudian diisi beras.

Selanjutnya, belasan tungku berjejer dengan bahan bakar kayu digunakan untuk merebus ketupat.

Sementara itu, warga lainnya turut memasak berbagai hidangan pendamping.

Baca juga: SAR Klaten Respon Cepat Lakukan Pencarian dan Evakuasi Kakek yang Tenggelam di Embung Krikilan Bayat

Baik pria maupun wanita, dari kalangan orang tua hingga anak-anak, terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.

Ketua Sanggar Rojolele, Eksan Hartanto, mengatakan kegiatan ini merupakan tradisi adang kupat atau memasak ketupat bersama.

“Hari pertama ini adang kupat, yakni membuat ketupat bersama-sama warga,” ujar Eksan kepada TribunSolo.com.

Ia menjelaskan, dalam kegiatan tersebut juga diadakan workshop membuat ketupat bagi warga yang belum memiliki keterampilan tersebut.

“Kami juga mengadakan workshop membuat ketupat bagi masyarakat luar Delanggu yang ingin belajar,” jelasnya.

Workshop tersebut mencakup seluruh proses, mulai dari menganyam janur, memasukkan beras, hingga memasak ketupat.

Baca juga: Tahun ini Momen Lebaran, Nyepi dan Paskah Berdekatan, Bupati Hamenang Sebut Harmoni Klaten Terjaga

Selain ketupat, warga juga memasak berbagai hidangan pelengkap seperti opor ayam kampung, sambal goreng, dan krecek.

Pada hari berikutnya, ketupat yang telah dimasak akan dikirab pada pagi hari, kemudian dinikmati bersama oleh masyarakat.

Eksan menambahkan, tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat, khususnya yang berprofesi sebagai petani.

“Melalui tradisi kenduri seni ini, kami berharap relasi sosial antarwarga, khususnya masyarakat pertanian di Delanggu, dapat kembali guyub, rukun, dan semangat gotong royong tetap terjaga,” ujarnya.

“Sehingga, masa pasca-Idulfitri dan bulan Syawal bisa kembali seperti semula,” tambahnya.

Selain sebagai ajang saling memaafkan, kegiatan ini juga diharapkan dapat mempererat kekompakan masyarakat.

Baca juga: Momen Halalbihalal Pemkab Klaten 2026 Dihadiri Ribuan Lapisan Masyarakat, Wadah Saling Memaafkan

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.