Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Di tengah hiruk-pikuk aktivitas transportasi antar kota antar provinsi di Terminal tipe A Rajabasa, Bandar Lampung seorang pemuda bernama Rudi (25) tampak duduk melepas lelah dari perjalanan panjang yang tengah ia tempuh.
Dengan ransel besar di punggungnya, Rudi bukan sekadar melakukan perjalanan biasa. Ia sedang menapaki kembali jalan hidupnya sebagai seorang perantauan, meninggalkan kampung halaman di Tulangbawang, Lampung menuju Solo, Jawa Tengah.
Perjalanan Rudi dimulai dari Kecamatan Banjar Agung, Kabupaten Tulang Bawang, pada siang hari sekitar pukul 11.00 WIB. Ia memilih menggunakan bus Puspa Jaya ekonomi sebagai langkah awal perjalanannya.
Dengan ongkos Rp 50.000, Rudi menumpang bus Puspa Jaya pilihan yang ia ambil karena tiket bus langganannya, Sinar Jaya, saat itu tengah habis.
"Biasanya naik Sinar Jaya, tapi tiketnya habis, jadi naik Puspa Jaya yang ekonomi," ujar Rudi sambil tersenyum, Kamis (26/3/2026).
Baca juga: 52 Kasus Kecelakaan Selama Mudik Lebaran 2026 di Lampung, 13 Orang Meninggal Dunia
Sekitar pukul 15.00 WIB, ia tiba di titik persinggahan. Waktu jeda ini dimanfaatkannya untuk beristirahat sekaligus mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan berikutnya yang tak kalah panjang.
Ia kembali melanjutkan perjalanan malam hari menggunakan bus DAMRI menuju Stasiun Gambir, Jakarta. Sesuai jadwal berangkat pukul 20.00 WIB dengan biaya sekitar Rp 300.000.
Dari Gambir, ia akan berpindah moda transportasi menggunakan kereta api menuju Solo. Rudi mengaku, perjalanan lintas pulau seperti ini bukanlah hal baru baginya.
Sejak lulus SMA, ia telah memutuskan merantau ke Pulau Jawa demi mencari pekerjaan dan pengalaman hidup yang lebih luas.
Beberapa daerah di Jawa Tengah pun sudah pernah ia singgahi sebelum akhirnya menetap dan bekerja di wilayah Solo, tepatnya di Sukoharjo.
"Ini pengalaman mudik saya yang kesekian kali. Sudah sering bolak-balik Lampung–Jawa. Saya merantau ke Jawa Tengah sejak lulus SMA, tujuannya kerja," tuturnya.
Untuk mencapai tujuan akhirnya, Rudi telah menyusun rencana perjalanan dengan matang. Meski perjalanan yang ditempuh cukup panjang dan melelahkan, Rudi tetap terlihat santai dan penuh semangat.
Baginya, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan bagian dari perjuangan hidup sebagai seorang perantau. Di balik perjalanan panjang itu, tersimpan tekad kuat, kerja keras, serta kerinduan akan kampung halaman yang selalu menanti untuk dikunjungi kembali.
Di sela waktu tunggunya, Rudi hanya berharap perjalanan kali ini berjalan lancar hingga ia kembali tiba di tanah perantauan, melanjutkan kehidupan dan pekerjaannya seperti sediakala.
( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )