TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Deru mesin KM Prince Soya perlahan mereda saat kapal besar itu merapat di Pelabuhan Samarinda, Kamis (26/3/2026) pagi.
Di balik pagar besi dek kapal, ribuan pasang mata menatap rindu ke arah daratan.
Bagi mereka, perjalanan laut dari Parepare bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan akhir dari sebuah perjuangan demi keluarga.
Di antara kerumunan penumpang, tampak Diana (30), perempuan asal Sopeng yang bekerja hari-hari di Samarinda.
Raut wajahnya tak bisa ditutupi antara lelah dan lega. Perempuan asal Soppeng ini harus rela memangkas waktu liburnya lebih awal.
"Harusnya kalau ikut jadwal anak sekolah, saya pulangnya Sabtu. Tapi karena cuti habis dan besok sudah harus masuk kerja, ya mau tidak mau pulang sekarang," ujar Diana sambil membenahi barang bawaannya di pelabuhan.
Baca juga: Pelabuhan Semayang Padat, 6.345 Penumpang Tiba di Balikpapan Selama Arus Balik Lebaran
Perjalanannya tahun ini penuh drama. Diana, sempat berburu tiket pesawat sebulan sebelumnya, namun ketidakpastian izin cuti sang suami membuatnya kehilangan kesempatan.
Saat cuti akhirnya keluar di H-3, tiket pesawat sudah ludes tak bersisa. Kapal laut menjadi satu-satunya jembatan untuk pulang.
"Hanya lima hari di kampung. Capek sekali di kapal, tapi semuanya terbayar lunas pas bisa lihat muka orang tua. Butuh perjuangan banget pokoknya," tambahnya dengan mata berbinar.
Tak jauh dari Diana, Agus, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Samarinda, juga baru saja menginjakkan kaki di dermaga.
Bagi Agus, mudik ke Enrekang adalah ritual tahunan yang tak boleh terlewatkan selama orang tuanya masih ada.
Ia memilih jalur laut bukan semata karena harga tiket yang stabil di angka normal, melainkan karena efisiensi waktu perjalanan darat menuju kampung halamannya.
"Kalau lewat udara, dari Makassar ke Enrekang itu bisa 6 jam. Kalau dari Parepare cuma 2 jam. Jadi lebih dekat lewat pelabuhan," jelasnya.
Meski merasa kondisi kapal tahun ini cukup nyaman dengan tempat tidur yang rapi, Agus memberikan satu catatan kecil yang cukup krusial bagi para penumpang.
"Kondisinya bagus, cuma satu kekurangannya, fasilitas ibadah. Penumpang sangat padat, jadi mau ke mushola itu sulit sekali karena terhalang penumpang lain di sepanjang jalan. Harapannya itu bisa diperbaiki ke depan," harap pria yang tinggal di kawasan Loa Bakung ini.
Baca juga: Arus Balik Lebaran Samarinda Meningkat, 1.683 Penumpang Tiba dengan KM Prince Soya
Kini, peluit kapal telah berhenti berbunyi. Satu per satu penumpang mulai meninggalkan pelabuhan, termasuk Diana yang harus bergegas menyiapkan seragam untuk esok hari, dan Agus yang siap kembali mengabdi sebagai pelayan publik.
Meski harus berdesakan dan menempuh belasan jam di atas ombak, bagi mereka, Pelabuhan Samarinda hari ini adalah gerbang untuk kembali merajut asa di perantauan, setelah mengisi ulang energi lewat pelukan orang tua di kampung halaman. (*)