Pengelolaan Sawah Nujau Beltim yang Sempat Tak Terurus Belasan Tahun Pancing Semangat Warga
Ardhina Trisila Sakti March 26, 2026 06:19 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Terik matahari menyengat kulit saat jarum jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, menyinari hamparan gabah yang sedang dalam proses perontokan di kawasan Agrowisata Keretak Sawah Nujau Hijau, Kamis (26/3/2026).

Suara batang padi yang baru dipotong terdengar di telinga, menciptakan atmosfer khas pedesaan yang kental.

Visual mata disajikan oleh suasana para petani yang memikul karung berisi hasil panen di pundak mereka.

Meskipun akses menuju sawah masih berupa jalur tanah merah yang berdebu, hal itu tidak menyurutkan langkah warga Desa Gantung untuk datang menyaksikan langsung hasil dari inisiasi pemerintah desa mereka.

Suasana di lokasi tak kalah sederhana, hanya beralaskan tanah kering. Tenda-tenda tenant kecil bekas perhelatan panen perdana pagi tadi pun masih berdiri tegak tepat di depan area sawah. 

Di bawah naungan sepetak tenda tersebut, Arief berbincang mengenai perjuangan timnya dalam menyiapkan acara ini di tengah keterbatasan waktu karena kondisi padi yang sudah sangat tua.

​"Persiapannya memang sangat mepet karena kita mengejar jadwal panen, padinya sudah tua jadi harus cepat-cepat dipotong," ujarnya.

​Arief menatap ke arah lahan seluas 1,8 hektar yang kini menjadi pusat perhatian masyarakat Desa Gantung.

Lahan yang saat ini dipenuhi warna hijau keemasan itu dulunya hanyalah hamparan tanah kosong yang ditumbuhi semak belukar dan tidak tersentuh tangan manusia.

Arief mengatakan lahan ini sudah terbengkalai selama belasan tahun tanpa ada aktivitas pertanian yang berarti dulunya.

Namun, melalui program optimalisasi lahan yang didanai oleh Dana Desa, Pemerintah Desa Gantung mencoba membangkitkan kembali potensi agrararia tempat ini.

​"Inisiasi ini kami mulai karena melihat banyak lahan persawahan yang belum tergarap selama belasan tahun. Kami mulai kelola dengan Dana Desa, dan alhamdulillah 1,8 hektar ini hasilnya sangat memuaskan," ucapnya.

​Keputusan pemerintah desa untuk menggarap lahan tidur ini rupanya memberikan efek domino bagi mentalitas petani lokal.

Arief bercerita bahwa setelah desa mulai membuka lahan, semangat para petani di sekitar kawasan tersebut seolah ikut terpancing untuk kembali turun ke sawah.

Arief mengatakan bahwa saat ini terlihat lahan-lahan pribadi milik warga yang awalnya semak belukar mulai digarap secara mandiri.

Para petani merasa sayang melihat potensi tanah yang subur tersebut jika hanya dibiarkan kosong, apalagi setelah melihat keberhasilan padi milik desa tumbuh subur.

​"Ada imbas positif yang sangat terasa, mereka seperti terpancing melihat perkembangan padi kami yang bagus, akhirnya lahan di sebelah sana juga mulai dibuka warga," ungkapnya.

​Arief juga menjelaskan panen perdana ini melampaui target minimal yang ditetapkan sebesar 4 ton per hektar. Hal ini merupakan suatu pencapaian yang cukup baik untuk sebuah lahan yang baru dibuka kembali.

​Meski begitu, Arief menyadari bahwa tantangan terbesar dalam mengelola agrowisata adalah menjaga konsistensi agar kunjungan tidak hanya ramai saat sedang viral.

Ia berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi baru agar program Agrowisata Sawah Nujau Hijau ini bisa terus berkelanjutan.

Karena itulah Arief mulai menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah kabupaten hingga sektor swasta. Langkah ini diambil karena penggunaan Dana Desa untuk pengembangan fisik pariwisata mulai mengalami efisiensi.

​"Kami harus menggandeng mitra swasta atau sponsor perorangan karena fokus Dana Desa sekarang lebih ke KDMP," ujarnya.

​Kegiatan panen hari ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Desa Gantung dalam mengelola aset alamnya secara mandiri. Semangat terpancing yang dirasakan para petani bisa menjadi modal yang kuat untuk menjaga keberlanjutan agrowisata ini.

​"Harapan kami, program ini tidak berhenti di sini, tapi terus tumbuh menjadi kebanggaan bagi seluruh warga masyarakat Desa Gantung. Ketahanan pangan adalah kunci, dan agrowisata adalah cara kita untuk menikmatinya bersama," tutup Arief.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.