Tribunlampung.co.id - Di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah akibat konflik Iran-Israel yang meluas hingga ke Lebanon, jutaan umat Muslim tetap memadati Tanah Suci Makkah untuk beribadah.
Satu di antaranya adalah Kuswanto, jemaah umrah mandiri asal Lampung yang baru saja menyelesaikan rangkaian ibadahnya di Makkah dan Madinah.
Melalui sambungan telepon pada Kamis (26/3), Kuswanto berbagi pengalamannya merasakan suasana Lebaran Idul Fitri yang jauh berbeda dengan di tanah air, sembari menepis kekhawatiran terkait dampak konflik bersenjata bagi para peziarah.
Kuswanto menjelaskan bahwa kunci keamanan perjalanannya adalah pemilihan rute penerbangan langsung (direct flight) yang rutenya jauh dari titik konflik.
Ia menceritakan banyak rekan sejawatnya yang memilih rute transit justru mengalami pembatalan penerbangan.
"Saya umrah mandiri dan penerbangan langsung, Alhamdulillah sejauh ini aman saja. Yang saya rasakan di sini enggak ada dampak sama-sekali, jutaan manusia penuh sesak dan padat di 10 hari terakhir, ibadah juga semua berjalan lancar, tidak ada yang terganggu," kata dia.
Di kota Suci Makkah, Kuswanto menjadi saksi mata betapa membeludaknya umat Muslim dari seluruh dunia yang memadati Makkah.
"Mungkin apa yang dibagikan di medsos itu benar, sekitar 11 jutaan orang memadati Makkah pada 10 hari terakhir Ramadan. Saya salah satu dari jutaan orang itu," ujar Kuswanto.
Meski harus berdesakan, mengantre, bahkan hingga tidak sengaja tertendang atau terdorong di tengah lautan manusia, ia mengaku tidak ada pikiran negatif. "Kita mikirnya ujian kesabaran saja, semua tetap kondusif," tambahnya.
Pengalaman paling berkesan bagi Kuswanto adalah merayakan Idul Fitri di Masjidil Haram. Ia sempat terkejut dengan perbedaan budaya perayaan Lebaran antara Arab Saudi dan Indonesia.
Jika di Indonesia Lebaran identik dengan berkeliling mengunjungi kerabat di pagi hari, di Makkah suasana justru sepi setelah salat Id.
"Habis salat Id, orang-orang bubar pulang ke rumah masing-masing, sepi banget. Ramainya justru setelah Magrib sampai Isya.
Warga lokal semua keluar ke Masjidil Haram, kemudian mereka makan-makan di food court sekitar Zam-zam Tower yang buka 24 jam," kenangnya.
Sebagai jemaah mandiri, Kuswanto harus mengurus segala keperluan sendiri. Bosan dengan menu nasi briyani setiap hari, ia sempat membatin merindukan masakan khas kampung halaman.
"Sempat membatin, enak kali ya makan nasi uduk. Tiba-tiba ada ibu-ibu jemaah Indonesia di kamar sebelah (hotel) masak dan nawarin nasi kuning.
Alhamdulillah, apa yang ada di batin langsung dikabulkan," ceritanya.
Kuswanto yang berencana kembali ke tanah air pada Kamis malam ini, memberikan saran penting bagi warga Lampung yang berniat umrah dalam waktu dekat.
"Mau umrah mandiri atau lewat travel, cari yang penerbangan langsung (direct) saja supaya lebih aman dari gangguan rute akibat situasi geopolitik," pungkasnya.
( Tribun Lampung / Hurri Agusto )