POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Suara mesin perontok padi menderu di kawasan Agrowisata Keretak Sawah Nujau Hijau, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Kamis (26/3/2026). Para petani tampak bahu membahu mengangkut karung-karung gabah yang mulai terisi penuh untuk dibawa ke tempat penggilingan.
Di balik hamparan padi menguning itu, tersimpan perjuangan panjang para petani dalam menghadapi tantangan alam.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Danau Nujau, Lizar Susanto, berdiri di tepi petakan sawah seluas sekitar 2 hektare sambil mengamati bulir padi yang siap dipanen.
Lizar mengungkapkan, musim panen kali ini membawa kabar baik. Produktivitas lahan mengalami peningkatan signifikan dibandingkan sebelumnya. Jika sebelumnya hasil panen hanya berkisar 3 hingga 4 ton per hektare, kini diperkirakan mampu mencapai 5 hingga 6 ton per hektare.
"Tahun ini lumayan cukup tinggi hasilnya karena kalau kita lihat dari pokok batang dan anakannya, padi tumbuh dengan sangat subur. Kami menggunakan varietas Inpari 32 dengan umur sekitar 115 hari setelah tanam," ujarnya.
Meski hasil meningkat, Lizar tak menutupi fakta bahwa para petani di Danau Nujau masih harus berhadapan dengan beberapa kendala, sati di antaranya ketersediaan air bersih. Sumber air yang selama ini mengaliri sawah mereka seringkali tercemar oleh sisa-sisa limbah aktivitas tambang yang ada di sekitar kawasan tersebut.
Baca juga: Panen Perdana Sawah Nujau, Bupati Beltim Janji Perbaiki Akses Jalan Petani
Lizar menjelaskan bahwa air bekas limbah tersebut membawa tingkat keasaman yang cukup tinggi. Kondisi air yang tercemar ini menjadi tantangan bagi para petani untuk menjaga stabilitas produksi pangan.
"Kendala utama kami ada di air karena air yang dialirkan ke sawah ini bercampur dengan limbah tambang. Tingkat asamnya tinggi, jadi kalau air sudah tercemar, itu pasti berpengaruh langsung pada produktivitas kita di lapangan," ucapnya.
Selain itu, musim kemarau juga mulai menghantui perencanaan tanam para anggota Gapoktan untuk periode berikutnya. Menyiasati hal tersebut, Lizar sudah menyiapkan strategi dengan beralih ke varietas padi yang memiliki umur lebih pendek atau dikenal sebagai benih genjah.
Strategi menggunakan benih genjah ini dianggap paling masuk akal jika prediksi BMKG menunjukkan akan adanya musim panas yang panjang di Belitung Timur. Menggunakan benih genjah, padi sudah bisa dipanen hanya dalam waktu 70 hari setelah tanam sehingga risiko gagal panen akibat kekeringan bisa diminimalisir.
"Kalau pakai varietas yang umurnya panjang, kita tidak bisa jamin, biasanya suplai airnya putus di tengah jalan sebelum panen. Maka kami siasati dengan varietas 70 hari agar masa tanamnya ter-cover oleh sisa air irigasi yang masih ada," ungkapnya.
Setelah proses panen hari ini selesai, hasil gabah tersebut rencananya akan dikelola oleh pihak desa atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gantung. Namun, para petani juga tetap membuka peluang jika ada konsumen luar yang ingin membeli.
Mengenai harga, Lizar menyebutkan bahwa beras Danau Nujau biasanya dibanderol di kisaran Rp12.500 hingga Rp13.000 per kilogram jika dibeli langsung dari gudang. Harga ini dinilai cukup kompetitif mengingat kualitas beras yang dihasilkan memiliki karakteristik pulen dan segar karena baru saja dipanen.
"Nantinya mekanisme penjualan tergantung kesepakatan dengan pihak desa, apakah dikelola BUMDes atau langsung ke konsumen lainnya," ungkapnya.
Lizar berharap agar program Agrowisata Sawah Nujau ini terus berkembang dan didukung oleh infrastruktur yang memadai. Dengan begitu, petani tidak lagi merasa berjuang sendiri dalam menjaga ketahanan pangan di tanah mereka. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)