SURYA.CO.ID - Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) masih belum mereda.
Salah satu nama yang mencuat di tengah pusaran konflik ini adalah Mohammad Bagher Ghalibaf.
Ketua Parlemen Iran ini dikabarkan sempat masuk dalam daftar target operasi militer Amerika Serikat sebelum akhirnya dihapus untuk sementara demi membuka ruang negosiasi.
Laporan terbaru mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah mengambil langkah taktis dengan menghapus nama dua pejabat senior Iran dari daftar target serangan.
Mereka adalah Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Baca juga: Profil Abbas Araghchi Menlu Iran yang Puji Solidaritas Muslim Indonesia: Terima Kasih
Penghapusan ini bersifat sementara, yakni sekitar empat hingga lima hari, dengan tujuan menjajaki kemungkinan pembicaraan damai.
Sebagaimana dikutip dari Wall Street Journal via Kompas.com, langkah ini diambil atas desakan mediator dari Turkiye, Pakistan, dan Mesir yang mendorong adanya pertemuan untuk membahas penghentian sementara perang.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa AS tidak akan ragu bertindak lebih keras jika Teheran menolak meja perundingan.
Di sisi lain, Israel menegaskan akan terus memburu pemimpin Iran sebagai bagian dari "strategi pemenggalan kepala" (decapitation strategy).
Siapa sebenarnya Mohammad Bagher Ghalibaf, hingga menjadi target penting Amerika Serikat?
Mohammad Bagher Ghalibaf bukan sekadar politisi biasa, melainkan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam struktur kekuasaan Iran saat ini.
Lahir pada tahun 1961, Ghalibaf memulai kariernya di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak 1980.
Dia memiliki rekam jejak militer yang cemerlang, mulai dari komandan penting saat perang Iran-Irak hingga menjabat sebagai Komandan Angkatan Udara IRGC.
Setelah berkarier di militer, ia ditunjuk sebagai Kepala Kepolisian Iran oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Dia juga dikenal luas sebagai Wali Kota Teheran selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran sejak 2020.
Dr. Raz Zimmt, seorang peneliti senior, mendeskripsikannya sebagai figur orang dalam yang langka.
“Ia adalah ‘orang dalam’ dengan cara yang jarang dimiliki politisi lain,” katanya.
“Tidak seperti moderat sipil, Ghalibaf memiliki koneksi dengan (Qasem) Soleimani, yang memberinya kredibilitas di IRGC.”
Meski dipuji sebagai sosok konservatif pragmatis yang andal mengelola birokrasi, Ghalibaf tidak lepas dari kontroversi, termasuk tuduhan korupsi selama masa jabatannya sebagai wali kota.
Meski AS telah menghapus nama Mohammad Bagher Ghaliba dari daftar target, pihak Iran tampak tetap pada pendiriannya.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa belum ada rencana untuk bernegosiasi.
"Saat ini, kebijakan kami adalah melanjutkan perlawanan. Kami tidak berniat untuk bernegosiasi sejauh ini, belum ada negosiasi yang terjadi dan saya yakin posisi kami sepenuhnya berprinsip. Membicarakan negosiasi sekarang sama saja dengan mengakui kekalahan," kata Araghchi di televisi pemerintah dikutip dari AFP (Kamis, 26/3/2026),
Araghchi juga menambahkan bahwa Iran telah menciptakan "perisai keamanan" sendiri melalui kekuatan militer mereka.
"Sebenarnya kita telah menciptakan perisai keamanan bagi diri kita sendiri sehingga seluruh dunia memahami bahwa memprovokasi Iran dan mempermainkan kepentingan kita akan membawa konsekuensi yang berat," pungkasnya.