TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Sikap tegas Wali Kota Bogor Dedie Rachim saat menertibkan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan eks Pasar Bogor menjadi perbincangan.
Dedie menunjukan kekesalannya pada pedagang yang membandel dan membuat kawasan Kota Bogor kotor.
Padahal pedagang sudah membuat kesepakatan dengan Pemerintah Kota Bogor (Pemkot) untuk mengosongkan wilayah tersebut.
Pedagang diberi izin berjualan di wilayah itu sampai pasca Lebaran 2026, lalu pindah ke Pasar Gembrong dan Pasar Warung Jambu yang sudah disediakan Pemkot Bogor.
Tapi kenyataannya mereka tak kunjung meninggalkan kawasan eks Pasar Bogor.
"Kang nanti dimasukin ke sini, saya jalan ke sana dikeluarin lagi," kata Dedie ke pedagang.
Ia bahkan sempat mengucap kata kasar dalam Bahasa Sunda.
"Disangkana mere duit ka aing, gitu kan. (Disangkanya ngasih duit ke saya)," kata Dedie.
Bukan hanya teguran keras, Dedie pun memberi sindiran pedas ke pedagang kelapa parut di Jalan Bata.
"Selalu mengotori Bogor, nuhun (terimakasih)," katanya.
Dedie Rachim juga mengultimatum pada pedagang yang ngeyel membuka lapak di lokasi tersebut.
"Isukan mun aya di dieu moal, urang moal mere toleransi (besok kalau masih di sini gak akan, saya gak akan kasih toleransi)," katanya.
Baca juga: Tak Ingin Lagi Ada Lapak PKL Sayur Mayur di Bahu Jalan, Dedie Rachim: Jual Beli Harus di Dalam Pasar
Dedie Rachim merasa miris ketika melihat sampah yang dihasilkan pedagang kali lima.
"Ya Allah sampahnya. Kamu udah berapa kali saya ke sini, udah angkut aja lah," katanya.
Beberapa pedagang yang bertemu Dedie malah bukan warga Kota Bogor.
Mereka berasal dari Kabupaten Bogor sampai Sukabumi, Jawa Barat.
"Orang Sukabumi teu ngarti, teu nyaho aturan. Masa gak ngerti jalan dipakai jualan," katanya.
Baca juga: Sudah Sepakat, Dedie Rachim Sebut Besok Tak Boleh Lagi Ada PKL di Jalan Roda hingga Jalan Pedati
Dedie Rachim Wali Kota Bogor menjelaskan penertiban PKL termasuk langkah pemerintah untuk menata kawasan Pasar Bogor dan Plaza Bogor.
"Kita ingin mengakselerasikan penataan kawasan eks Pasar Bogor dan Plaza Bogor. Jadi sesuai kesepakatan yang sudah ditandatangani beberapa waktu lalu pada saat kita melaksanakan sosialisasi relokasi mereka berkomintmen pedagang lapak PKL ini akan selesai di tanggal 26 Maret 2026 atau pasca lebaran," katanya.
Tindakan ini diberlakukan demi mengefektifkan Pasar Gembrong dan Pasar Warung Jambu yang sudah disiapkan Pemkot Bogor sebagai tempat pengganti.
"Kesepakatan bersama ya dimana kita ingin mengefektifkan dua pasar yang sudah dibangun Pemerintah Kota Bogor dengan Perumda Pasar Pakuan Jaya. 2 pasar ini mampu menampung 1.200 pedagang, kita siapkan mereka yang belum memilik silahkan dikordinasikan segera pindah, " katanya.
Namun langkah tersebut justru mendapat kritikan dari pegiat media sosial Denny Siregar.
Denny menilai sikap tegas Dedie sebagai bentuk ketidakmampuan dalam menata PKL.
"Ini contoh kemampuan manajerial yang buruk dari kepala daerah. Karena gak mampu, akhirnya selalu marah2," katanya.
Menurut Denny menata PKL sangat mudah, cukup dengan menempatkan petugas di lokasi.
"Gampang sebenarnya, dia cuman harus menempatkan petugas untuk menjaga supaya PKL gak datang kesana lagi," katanya di Instagram.
Bahkan Denny Siregar sampai menyebut Dedie Rachim terancam terserang stroke jika terus-menerus bersikap tegas.
Baca juga: Dedie Rachim Minta Warga Stop Belanja di Lapak PKL Eks Pasar Bogor, Imbau ke Jambu Dua dan Gembrong
"Kalo kerjaan marah2, gak lama stroke lho.." tulisnya di Instagram.
Dosen Komunikasi Politik Universitas Pakuan Bogor, Toto Sugiarto berpendapat sikap tegas atau marah yang dilakukan Dedie sebagai bentuk kepemimpinan yang hadir di tengah persoalan.
"Secara komunikasi politik, apa yang dilakukan Walikota Bogor adalah bentuk "Leadership by Presence" ya. Seorang pemimpin ingin menunjukkan bahwa ia hadir langsung di tengah persoalan yang selama ini macet di tingkat birokrasi bawah. Ungkapan kemarahan tersebut, jika dilihat dari kacamata komunikasi, adalah pesan simbolik yang dikirimkan bisa kepada dua pihak, yang pertama kepada PKL itu sendiri memberikan sinyal peringatan terakhir (ultimatum) bahwa toleransi sudah habis," kata Toto kepada TribunnewsBogor.com, Kamis (26/3/2026).
Selain itu sikap tegas Dedie menjadi sinyal keras bagi Satpol PP Kota Bogor untuk merealisasikan perintah dari pemimpin.
"Jajaran birokrasi/Satpol PP karena bisa jadi sinyal perintah tegas agar tidak ada lagi main mata atau pembiaran di lapangan. Hal lainnya, mungkin sja komunikasi persuasi tidak lagi efektif pada saat itu, karenanya pemimpin biasanya bergeser ke arah koersi (pemaksaan yang sah sesuai aturan).
Kemarahan di sini bukan sekadar emosi personal, melainkan kemarahan institusional," jelasnya.
Soal terserang stroke yang disebut Denny Siregar, Toto berpendapat hal tersebut tidak patut diucapkan.
https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t