LPG 3 Kg: Antara Isu Kelangkaan dan Fakta Pergeseran Konsumsi
Wahyu Widiyantoro March 26, 2026 09:04 PM

Oleh: Dr. H. Ahsanul Khalik 
Kadis Kominfotik NTB

Riuh soal kelangkaan LPG 3 kg dalam beberapa hari terakhir bukan sekedar isu biasa. Ia hadir di mana-mana, di media sosial, grup WhatsApp, hingga percakapan sehari-hari. Di sejumlah tempat, warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas. Antrean muncul, harga di tingkat pengecer melonjak, bahkan ada yang menjual jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Sekilas, semua ini tampak seperti kelangkaan.

Namun, apakah benar pasokan LPG sedang bermasalah?

Jika menengok data distribusi, jawabannya justru sebaliknya.

Dalam beberapa hari terakhir, penyaluran LPG 3 kg ditingkatkan secara signifikan. Berdasarkan data Hiswana Migas, pada tanggal 17, 18, 19, 22, dan 25 Maret 2026, dilakukan tambahan distribusi hingga 250 persen dari alokasi harian, dengan total sekitar 87.360 tabung. Bahkan pada hari tertentu, distribusi harian masih ditambah hingga 50 persen.

Penguatan pasokan ini juga ditegaskan oleh Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) yang memastikan bahwa penyaluran LPG subsidi di wilayah Lombok tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, meskipun terjadi peningkatan konsumsi menjelang dan setelah hari besar keagamaan.

Lonjakan permintaan, menurut Pertamina, dipicu oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam menyambut Hari Raya Nyepi, Idulfitri, serta tradisi Lebaran Ketupat, momentum yang secara historis memang selalu diikuti peningkatan konsumsi energi rumah tangga.

Baca juga: Disdag Lotim Sidak Pangkalan Elpiji Subsidi: Jamin Stok Aman, Warga Diimbau Tak Panic Buying

Untuk mengantisipasi hal tersebut, tambahan distribusi dilakukan secara terukur di berbagai wilayah. Di Kabupaten Lombok Tengah, misalnya, extra dropping mencapai 89.600 tabung atau sekitar 13,2 persen dari alokasi bulanan. Sementara di Kabupaten Lombok Timur, tambahan pasokan mencapai 110.320 tabung dengan persentase yang relatif sama.

Artinya, dari sisi pasokan, tidak terjadi pengurangan, justru ada penguatan.

Lalu mengapa masyarakat tetap merasakan kelangkaan?

Di sinilah letak persoalan sebenarnya: bukan pada ketersediaan, melainkan pada pergeseran konsumsi yang tidak diikuti distribusi yang cukup adaptif dalam waktu singkat.

Momentum Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri mendorong arus mudik dalam skala besar. Banyak masyarakat, mulai dari pekerja (termasuk PMI), aparatur sipil negara, TNI - POLRI hingga mahasiswa kembali ke daerah asal. Dampaknya langsung terasa pada pola konsumsi.

Kota Mataram yang selama ini menjadi pusat konsumsi justru mengalami penurunan permintaan, karena sebagian masyarakatnya berpindah ke daerah asal selama masa mudik. Sebaliknya, daerah-daerah tujuan mudik mengalami lonjakan kebutuhan secara tiba-tiba.

Di titik ini terjadi ketidakseimbangan:
stok ada, tetapi tidak berada di lokasi dengan tekanan permintaan tertinggi.

Inilah yang kemudian dirasakan masyarakat sebagai “kelangkaan”.

Kondisi ini semakin diperparah oleh perilaku konsumsi yang tidak biasa. Menjelang hari raya, masyarakat cenderung membeli lebih awal, bahkan dalam jumlah lebih banyak dari kebutuhan normal. Akibatnya, stok di pangkalan cepat habis, meskipun distribusi tetap berjalan.

Ketika pangkalan kosong, masyarakat beralih ke pengecer. Di sinilah persoalan lain muncul: harga yang tidak terkendali. Karena berada di luar jalur distribusi resmi, harga di tingkat pengecer sering kali melonjak tajam. Situasi ini memperkuat persepsi bahwa LPG benar-benar langka.

Padahal, jika dilihat secara keseluruhan, pasokan tetap tersedia.

Yang terjadi bukan krisis pasokan, melainkan krisis persepsi yang diperkuat oleh kepanikan.

Di era media sosial, persepsi sering bergerak lebih cepat daripada fakta. Satu unggahan tentang kelangkaan dapat menyebar luas dalam hitungan menit, membentuk kepanikan kolektif. Informasi yang parsial dengan mudah berubah menjadi kesimpulan umum.

Akibatnya, kondisi yang sebenarnya bersifat sementara terasa seolah-olah krisis yang lebih besar.

Jika tidak diluruskan, pola seperti ini akan terus berulang setiap momentum musiman. Padahal, arus mudik dan lonjakan konsumsi menjelang hari raya adalah fenomena tahunan yang seharusnya bisa diantisipasi dengan lebih presisi.

Karena itu, ke depan diperlukan langkah yang lebih adaptif dan terukur.

Pertama, distribusi harus berbasis pada pola mobilitas masyarakat, bukan sekedar alokasi statis. Data pergerakan penduduk saat mudik perlu menjadi dasar dalam menentukan wilayah prioritas penyaluran.

Kedua, mekanisme extra dropping harus dilakukan lebih dini dan lebih terarah, terutama di daerah tujuan utama pemudik.

Ketiga, pengawasan distribusi harus diperkuat hingga ke tingkat pangkalan dan pengecer, termasuk memastikan penerapan HET serta pembinaan terhadap mitra penyalur.

Keempat, koordinasi antara Pertamina dan pemerintah daerah perlu terus diperkuat agar respons terhadap dinamika di lapangan dapat lebih cepat dan tepat.

Kelima, komunikasi publik harus lebih cepat, terbuka, dan berbasis data, agar tidak memberi ruang bagi spekulasi yang memicu kepanikanbdan ketika terjadi gangguan distribusi, penjelasan perlu segera disampaikan agar tidak memberi ruang bagi spekulasi.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting. Membeli sesuai kebutuhan, tidak melakukan penimbunan, serta lebih bijak dalam menyikapi informasi menjadi bagian dari solusi bersama.

Pada akhirnya, dinamika LPG 3 kg ini memberi pelajaran penting:
tidak semua yang terasa langka benar-benar langka.

Sering kali, persoalan terletak pada ketidakseimbangan antara pasokan, distribusi, dan perilaku konsumsi.

Memahami hal ini menjadi kunci, agar kita tidak terus terjebak dalam kepanikan yang berulang, tetapi mampu melihat persoalan secara lebih jernih, rasional, dan proporsional.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.