SURYA.CO.ID, PASURUAN - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung kondisi banjir di Dusun Bandaran, Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Kamis (26/3/2025).
Menggunakan perahu karet, Khofifah menyisir area pemukiman untuk membagikan paket sembako kepada ratusan warga yang terjebak genangan air. Ia memastikan keselamatan warga menjadi prioritas utama penanganan bencana kali ini.
"Pemprov Jatim bersama seluruh jajaran terus bersiaga untuk memastikan keselamatan warga serta percepatan penanganan dampak banjir," ujar Khofifah di lokasi bencana.
Khofifah menjelaskan, bahwa Pemprov Jatim berkoordinasi dengan Pemkab Pasuruan telah menyiapkan 10 unit pompa air untuk menyedot genangan di pemukiman warga.
Dari total tersebut, enam pompa merupakan milik Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jatim, sementara empat lainnya milik pemerintah kabupaten setempat.
Namun, operasional pompa mengalami kendala karena ketinggian air di anak sungai masih sejajar dengan daratan. Pompa baru bisa bekerja maksimal setelah debit sungai mulai surut.
Berdasarkan data BPBD, banjir kali ini merendam pemukiman dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa. Berikut rincian wilayah terdampak:
Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 1.148 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Pasuruan yang terdampak oleh luapan air akibat tingginya intensitas hujan dan fenomena pasang air laut.
Selain bantuan logistik, Khofifah menegaskan komitmennya untuk membantu para petani yang sawahnya terendam banjir. Sawah yang dinyatakan puso atau gagal panen akan mendapatkan bantuan benih gratis.
"Dinas Pertanian Pemprov Jatim siap membantu benih jika pendataan sudah final. Kami ingin memastikan petani tidak terbebani kerugian yang terlalu dalam akibat bencana ini," tegasnya.
Secara geografis, wilayah Rejoso merupakan dataran rendah yang menjadi titik temu beberapa anak sungai sebelum mengalir ke laut. Kondisi ini diperparah dengan sedimentasi pada aliran anak sungai yang memicu luapan air setiap kali curah hujan tinggi terjadi di wilayah hulu.
Normalisasi anak sungai menjadi salah satu solusi strategis jangka panjang yang sedang dikaji oleh Pemprov Jatim dan Kementerian PUPR, guna meminimalisir dampak banjir tahunan di wilayah tersebut.