Ini Syarat yang Diberikan Iran pada Negara-negara Agar Kapal Diizinkan Melintas di Selat Hormuz
Gryfid Talumedun March 26, 2026 07:47 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Di tengah ketegangan yang mengguncang jalur energi dunia, Iran membuka akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal asing.

Namun hal itu hanya berlaku bagi yang dianggap “tidak bermusuhan” dan bersedia mengikuti aturan ketat dari Teheran.

Iran menyatakan kapal-kapal “non-hostile” atau yang tidak bermusuhan dapat melintas dengan aman di Selat Hormuz. Hal itu disampaikan di tengah anjloknya lalu lintas pelayaran yang memicu krisis energi global.

Baca juga: BMKG Deteksi Gempa Bumi Magnitudo 2,4 di Bitung Sulawesi Utara, Kamis 26 Maret 2026

Dalam pernyataan resmi pada Selasa (24/3/2026), misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kapal dapat memperoleh “jalur aman” asalkan tidak terlibat atau mendukung tindakan agresi terhadap Iran serta mematuhi aturan keselamatan dan keamanan yang ditetapkan.

Dilansir dari Aljazeera, Kamis (26/3/2026), Iran menegaskan bahwa pelayaran harus dilakukan dengan koordinasi bersama otoritas terkait di Teheran. Pernyataan serupa sebelumnya telah disampaikan kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO).

Meski demikian, Iran tidak merinci aturan teknis yang harus dipatuhi kapal untuk melintasi jalur tersebut.

Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Pernyataan ini muncul di tengah klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut negosiasi untuk mengakhiri perang dengan Iran tengah berlangsung, meski sebelumnya dibantah oleh Teheran.

Lalu Lintas Kapal Anjlok, Risiko Energi Meningkat

Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, lalu lintas kapal di Selat Hormuz merosot tajam. Data perusahaan intelijen maritim Windward menunjukkan hanya lima kapal yang melintas dalam sehari, jauh turun dari rata-rata sekitar 120 kapal per hari sebelum perang.

Pada awal konflik, Iran sempat memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas berisiko diserang. Namun belakangan, pejabat Teheran menyatakan jalur tersebut tetap terbuka, kecuali bagi pihak yang dianggap musuh.

Anjloknya aktivitas pelayaran ini turut mendorong lonjakan harga energi global. Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga minyak dapat menembus 150 hingga 200 dollar AS per barel jika jalur tersebut tetap terganggu.

Setelah sempat bertahan di atas 100 dollar AS per barel sepanjang Maret, harga minyak Brent turun lebih dari 9 persen pada Rabu. Penurunan ini terjadi setelah laporan media menyebut adanya upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik.

Isi Proposal AS: Nuklir hingga Akses Selat Hormuz

Sebagai tambahan, Amerika Serikat dilaporkan telah mengajukan proposal perdamaian berisi 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri konflik. Proposal tersebut mencakup pembatasan program nuklir Iran serta pembukaan kembali akses Selat Hormuz.

Laporan The New York Times menyebutkan proposal itu disampaikan melalui Pakistan sebagai mediator. Media Israel Channel 12 juga melaporkan adanya rencana gencatan senjata selama satu bulan untuk membuka ruang negosiasi lanjutan.

Salah satu poin utama dalam rencana tersebut adalah penghentian pengayaan uranium di wilayah Iran.

Iran juga diminta menyerahkan seluruh material uranium yang telah diperkaya karena dinilai berpotensi dikembangkan menjadi senjata nuklir.

Selain itu, Iran diminta membuka akses tanpa hambatan di Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur strategis menuju Teluk yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Blokade parsial yang sebelumnya dilakukan Iran dilaporkan telah memicu lonjakan harga energi global.

Sebagai imbalannya, Iran disebut akan memperoleh pencabutan sanksi serta dukungan pengembangan energi nuklir sipil, termasuk di fasilitas Bushehr.

Bushehr sendiri menjadi salah satu lokasi penting yang sebelumnya dituduhkan Iran menjadi target serangan Israel.

Iran Tolak Proposal AS, Klaim Negosiasi Dibantah

Sementara itu, sumber diplomatik menyebut Iran menilai proposal perdamaian dari AS sebagai “terlalu maksimalis dan tidak masuk akal”.

Teheran juga menegaskan tidak ada negosiasi langsung dengan Washington, meski komunikasi tetap berlangsung melalui sejumlah mediator.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pertukaran pesan melalui mediator tidak dapat diartikan sebagai negosiasi.

Ia juga menyebut Iran tidak menginginkan perang dan mengupayakan berakhirnya konflik secara permanen, namun tetap menuntut kompensasi atas kerusakan akibat serangan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump terus menyatakan bahwa proses diplomasi masih berjalan.

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.