TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pascalibur Lebaran, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta, sekolah tidak langsung membebani siswa dengan intensitas materi yang berat.
Faktor kelelahan pasca perjalanan panjang tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga kondisi psikologis anak saat kembali pada rutinitas belajar.
Baca juga: BGN Sebut Siswa Harus ke Sekolah Ambil MBG Jika Belajar Daring Adalah Hoaks
Menurut Wakil Ketua KPAI Jasra Putra, anak-anak membutuhkan fase transisi dari suasana liburan menuju kesiapan kognitif untuk belajar.
"Pendekatan humanis diperlukan untuk memulihkan kesiapan mental anak dalam menimba ilmu," tutur Jasra di Jakarta, Kamis (26/3).
Para pengajar bisa memberikan metode seperti belajar reflektif dan metode bercerita (storytelling) mengenai pengalaman mudik di kampung halaman dapat menjadi instrumen transisi yang efektif, sehingga anak-anak bisa masuk kembali ke dunia belajarnya tanpa tekanan.
KPAI mendukung penuh imbauan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti agar sekolah menciptakan suasana kembali belajar yang gembira dan reflektif.
Di ranah pendidikan keagamaan, persiapan serupa juga harus diterapkan.
Baca juga: ChatGPT dan Claude Kini Punya Fitur Visual Interaktif untuk Belajar Matematika dan Sains
KPAI mendorong pondok pesantren untuk selaras dengan semangat Kementerian Agama di bawah arahan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam menyambut kembalinya para santri.
"Masa transisi yang ideal ini membutuhkan sistem dukungan yang tangguh untuk mengembalikan ritme hidup anak kembali secara bertahap," tutur dia.
Orang tua juga perlu mulai mengatur kembali jam tidur anak serta mengurangi paparan gawai (screen time) yang mungkin meningkat selama masa liburan.