TRIBUNJOGJA.COM - Dunia bisnis Tanah Air baru saja diterpa kabar duka dengan berpulangnya Michael Bambang Hartono, pemilik salah satu perusahaan produsen rokok terbesar yang terus berkembang hingga saat ini, Djarum Group.
Wafat pada usia 86 tahun, pebisnis legendaris Indonesia ini dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura.
Sebelumnya, Bambang Hartono memang tengah berjuang melawan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) yang membuatnya dirawat secara intensif di Singapura hingga akhir hayatnya.
Berbagai ucapan belasungkawa dikirimkan secara langsung maupun tidak langsung oleh para rekan pebisnis dan bahkan masyarakat Indonesia secara umum setelah mendapatkan informasi yang mencengangkan tersebut.
Bukanlah fenomena yang mengejutkan, sebab memang banyak sekali jasa yang telah dilakukan Michael Bambang Hartono baik sebagai bos Djarum Group maupun sebagai individu tanpa nama besar sekalipun bagi masyarakat Indonesia.
Baca juga: Mengenang Michael Bambang Hartono, Atlet Indonesia di Balik Djarum dan Como 1907
Melalui pembentukan Djarum Group yang dilakukan oleh Hartono bersaudara, jutaan lapangan pekerjaan ditawarkan kepada masyarakat lokal semenjak berkembangnya perusahaan ini.
Dengan adanya bisnis utama dan berbagai peranakan bisnis yang hadir, berbagai lapangan pekerjaan tercipta mulai dari bidang rokok kretek, sektor perbankan, properti, elektronik, hingga digital sekalipun.
Tercatat per tahun 2024, Djarum Group berhasil mempekerjakan kurang lebih 60.000 karyawan untuk menempati berbagai posisi staf dari bagian produksi hingga profesional di pabrik utama yang terletak di Kudus, Jawa Tengah.
Belum lagi data dari perusahaan peranakan lainnya yang belum terhitung dalam data yang disebutkan, sehingga tentu tak terhitung lagi total lapangan pekerjaan yang dibuka oleh Djarum Group.
Tak hanya membuka sebanyak-banyaknya lapangan pekerjaan, kesejahteraan karyawan juga dipastikan terjamin dengan pemberian kompensasi dan THR rutin tiap tahunnya kepada satu-satunya karyawan yang terdata.
Baca juga: Kembali Jadi Juara Bertahan, PB Djarum Sapu Bersih Empat Piala Bergengsi
Djarum Foundation merupakan lembaga sosial (filantropi) yang didirikan oleh Djarum Group dengan tujuan untuk menjalankan berbagai program pengabdian kepada masyarakat Tanah Air.
Lembaga ini menjadi wadah bagi Djarum Group untuk berkontribusi secara nyata terhadap perkembangan serta pertumbuhan pendidikan, olahraga, lingkungan, dan budaya Indonesia.
Sejumlah dana dari perusahaan akan digelintirkan utamanya kepada generasi muda Ibu Pertiwi dalam rangka meningkatkan SDM melalui perkembangan yang berdampak positif dalam jangka panjang.
Djarum Beasiswa Plus, PB Djarum, dan berbagai program sadar lingkungan dan budaya sekitar menjadi program unggulan yang diberikan tiap tahunnya oleh Djarum Foundation.
Meski terkadang menuai kritikan etika sebab dana yang disalurkan berasal dari perusahaan utama rokok, filantropi milik Djarum Group ini tetap diakui sebagai kontributor besar bagi perkembangan kehidupan sosial Tanah Air.
Baca juga: Berlatar Yogyakarta, Bakti Lingkungan Djarum Foundation Luncurkan Video Series Pusaka
Selain menjadi pabrik raksasa kretek nasional, Djarum Group juga berhasil hadir sebagai pencetak atlet bulutangkis Indonesia.
Peranan besar bagi perkembangan dunia bulutangkis bahkan dimulai dari usia dini, di mana Djarum Group menghadirkan PB Djarum yang menjadi “sekolah” bulutangkis lokal di dalam negeri.
Berbasis di Kudus, Jawa Tengah, klub ini melatih anak-anak berbakat dari seluruh penjuru negeri untuk menjadi atlet profesional kelas dunia di bidang olahraga bulutangkis.
Diresmikan pada tahun 1974, pelatihan bulutangkis ini sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1969 oleh saudara Michael Bambang Hartono, Budi Hartono.
Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, dan Kevin Sanjaya Sukamuljo merupakan tiga di antara banyaknya atlet jebolan PB Djarum yang sukses mengharumkan nama Indonesia di dunia bulutangkis internasional.
Baca juga: Kado HUT ke-79 RI, PB Djarum Bawa Pulang Piala Yuni Kartika, Pertahankan Piala Hariyanto Arbi
Seperti yang telah sedikit disinggung sebelumnya, Michael Bambang Hartono melalui Djarum Group senantiasa menyediakan beasiswa pendidikan tiap tahunnya.
Melalui program Djarum Beasiswa Plus, ribuan mahasiswa telah terbantu dalam menggapai mimpi-mimpinya sebagai lulusan sarjana/diploma.
Tidak hanya berupa bantuan uang, beasiswa yang disediakan juga memberikan pelatihan soft skills yang bisa menunjang kesiapan generasi muda dalam menghadapi dunia kerja dengan kemampuan leadership.
Nantinya, bagi mahasiswa berprestasi penerima beasiswa, bantuan dana akan diberikan selama satu tahun penuh tiap bulannya dengan disertai kegiatan seminar, workshop, dan kegiatan sosial lainnya.
Sehingga, tidak hanya memberikan dukungan dalam bentuk dana perkuliahan, Djarum Group juga memberikan kesempatan bagi tiap mahasiswa penerima beasiswa untuk memperluas relasi dan pengalaman yang akan berguna kelak di tangga kehidupan yang lebih tinggi.
Baca juga: Ini Strategi Kunci Tingkatkan Peluang Dapat Beasiswa Menurut Direktur LPDP
Di tengah hiruk-pikuk sebagai pebisnis ulung yang harus dilalui, bos besar Djarum Group ini masih sempat-sempatnya menyumbangkan medali perunggu bagi tanah kelahirannya.
Michael Bambang Hartono tercatat sebagai salah satu atlet olahraga kartu bridge dalam ajang Asian Games 2018.
Di usianya yang menginjak angka 78 tahun waktu itu, Michael Bambang tercatat sebagai atlet tertua keempat yang turut memeriahkan pesta olahraga Asia yang digelar empat tahun sekali tersebut.
Tidak hanya disoroti karena usia senjanya, ia juga cukup disoroti sebab berhasil membawa pulang medali perunggu atas partisipasinya dalam pertandingan bridge yang diikuti.
Lebih-lebih bonus serta hadiah yang diberikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga kala itu cukup membuat warganet terhibur, sebab sudah menjadi rahasia umum bahwa atlet bridge satu ini berstatus sebagai orang terkaya di Indonesia.
Namun, kerendahan hati dan kehangatan jiwa Michael Bambang dapat terpancar dari caranya menerima dengan sumringah hadiah dan bonus tersebut selayaknya rekan-rekan atlet lain tanpa memperhatikan status pengusaha yang diemban.
(MG Azka Adelia)
Baca juga: Atlet Para Badminton DIY Bidik Medali di Para Asian Games Nagoya dan Paralimpiade LA