Berkantor Lagi, Terasa Berat?
Sukmawati Ibrahim March 27, 2026 10:20 AM

Berkantor Lagi, Terasa Berat?

Oleh:Adekamwa

Humas Pusjar SKMP LAN

TRIBUN-TIMUR.COM - Pagi pertama setelah libur panjang itu, Penulis datang lebih awal dari biasanya.

Ruang kerjamasih lengang, kursi-kursi tertata rapi, dan layar komputer belum menyala.

Ada jedabeberapa menit sebelum aktivitas dimulai, sebuah jeda yang terasa lebih panjang daribiasanya.

Perasaan itu muncul secara perlahan.

Tubuh telah berada di meja kerja, tetapi pikiran masihmenyisakan fragmen suasana Lebaran 1447 H di kampung, teringat sebuah percakapan yang hangat, waktu yang berjalan tanpa tergesa, dan kehadiran yang tidak diukur oleh target.

Apakah Pembaca juga merasakan hal yang sama? Sudah kembali ke kantor, tetapi belumsepenuhnya kembali ke ritme kerja?

Jeda dan Transisi Kerja

Libur panjang, khususnya dalam konteks mudik Lebaran, tidak hanya menghadirkan jedaadministratif, tetapi juga perubahan psikologis yang signifikan.

Selama periode ini, ritmehidup melambat, interaksi sosial meningkat, dan keterikatan terhadap pekerjaan terputussementara. 

Ketika fase tersebut berakhir, individu dihadapkan pada kebutuhan untuk menyesuaikan dirikembali dengan ritme kerja yang berbeda.

Fase pasca-libur kerap diiringi fenomena post-holiday blues, yang ditandai penurunanmotivasi, kecemasan ringan, serta resistensi terhadap rutinitas kerja.

Pengalaman mudik dengan intensitas perjalanan dan interaksi yang tinggi memperkuat kebutuhan pemulihan, sehingga proses kembali bekerja menjadi tidak sepenuhnya linear.

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, kondisi ini berkaitan dengan bagaimana organisasimengelola ekspektasi dan makna kerja.

Terdapat norma implisit yang mendorong individuuntuk segera tampil produktif setelah kembali, yang pada praktiknya membentuk tekanansimbolik dalam interaksi sehari-hari.

Seorang pegawai, dalam konteks tersebut, terdorong untuk menunjukkan kinerja secara cepatguna mempertahankan legitimasi profesional.

Erving Goffman (1955) melalui On Face-work: An Analysis of Ritual Elements of Social Interaction menjelaskan bahwa individu secaraaktif mengelola citra diri (impression management) dalam interaksi sosial. 

Dalam lingkungan kerja yang menekankan produktivitas berkelanjutan, mekanisme inimemperkuat tekanan untuk segera “pulih”, sehingga kelelahan pasca-libur tidak sematapersoalan personal, melainkan refleksi dari norma komunikasi organisasi.

Komunikasi dalam Organisasi

Dalam konteks ini, kualitas komunikasi organisasi menjadi faktor penentu yang kerap luputdari perhatian.

Dr. Sandra Metts, Profesor Emeritus di bidang komunikasi dari Illinois State University, menegaskan bahwa stres saat kembali bekerja sering kali berkaitan dengansaluran komunikasi yang tidak jelas atau tidak terkelola dengan baik.

Ketika ekspektasi disampaikan secara kabur dan ruang dialog tidak tersedia, individucenderung menafsirkan tuntutan secara berlebihan.

Sebaliknya, organisasi yang membangunkomunikasi yang jelas, empatik, dan transparan akan lebih mampu mempercepat proses reintegrasi sekaligus mereduksi tekanan yang tidak perlu.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa transisi menuju rutinitas pra-liburan kerapmemunculkan beban psikologis tertentu.

Dalam konteks ini, penetapan target yang moderatpada minggu-minggu awal pasca-liburan menjadi pendekatan yang lebih adaptif, memberiruang bagi individu untuk menata kembali ritme kerja tanpa kehilangan arah kinerja.

Namun, efektivitas transisi tersebut tidak hanya ditentukan oleh lingkungan kerja, melainkanjuga oleh kualitas pemulihan selama masa libur.

Istirahat yang utuh, dalam arti benar-benarmelepaskan diri dari urusan pekerjaan, termasuk komunikasi yang terkait, menjadi prasyaratpenting. 

Dengan demikian, transisi kembali bekerja tidak seharusnya dipandang sebagai percepatanmenuju ritme lama, melainkan sebagai proses penyesuaian yang membutuhkan kesiapanpsikologis dan dukungan lingkungan. 

Kombinasi antara istirahat yang berkualitas dan pengelolaan ritme kerja yang adaptif menjadikunci untuk menjaga keberlanjutan kinerja secara lebih stabil.

Menata Ulang Ritme Kerja

Penulis memandang bahwa persoalan pasca-Lebaran tidak dapat lagi ditempatkan sematasebagai tantangan individual.

Hal tersebut mencerminkan bagaimana budaya kerja kita masihcenderung menuntut pemulihan yang instan, tanpa menyediakan ruang transisi yang memadai. 

Penulis meyakini perlunya pergeseran pendekatan, dari sekadar mengejar percepatanproduktivitas menuju pengelolaan ritme kerja yang lebih realistis, di mana komunikasi yang terbuka dan ekspektasi yang proporsional menjadi fokus utama.

Cara kita memaknai “kembali bekerja” menjadi relevan untuk ditinjau ulang. Barangkali yang keliru selama ini adalah cara kita kembali. Ada kecenderungan untuk segera menutupjeda, seolah pemulihan adalah kemewahan yang harus ditebus dengan percepatan. 

Lebaran, dengan segala kesederhanaannya, menawarkan pelajaran yang sering terabaikan, yakni manusia tidak dirancang untuk bergerak tanpa henti.

Syahdan, jika ritme baru dibangun dengan kesadaran itu, maka akan menandai pergeserandari orientasi mengejar menuju praktik menjaga keseimbangan demi keberlanjutan kinerja. Wallahu A’lam Bishawab. (*)

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.