Selat Hormuz menjadi perhatian dunia usai Iran memblokir jalur ekspor-impor minyak global tersebut sejak Februari 2026 lalu. Pihak Iran hanya mengizinkan jalur untuk negara yang dianggap sahabat. Lalu, apakah Selat Hormuz hanya punya Iran?
Untuk diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur bagi lebih dari 20 persen minyak global dan ekspor gas alam cair. Hormuz menjadi jalur utama bagi Iran, Irak, Kuwait, Qatar, hingga Uni Emirat Arab, demikian dikutip dari Britannica.
Kondisi ini menjadikan Selat Hormuz salah satu titik hambatan minyak paling vital dalam ekonomi global.
Ada Berapa Negara yang Berbatasan dengan Selat Hormuz?
Selat Hormuz memiliki lebar 55 hingga 95 km. Selat ini dibatasi di utara oleh Iran dan di selatan oleh Oman dan Uni Emirat Arab (UEA), sebagaimana dikutip dari BBC.
Di garis pantai utaranya, terdapat Bandar Abbas, yakni sebuah pelabuhan Iran yang penting secara ekonomi dan militer. Di dekat pelabuhan tersebut, terdapat pulau-pulau Iran Qeshm (Qishm), Hormuz , Hengām (Henjām), dan Lārak.
Uni Emirat Arab juga terletak di dekat selat tersebut, sekitar 65 hingga 80 km dari titik tersempit selat di kedua sisi Semenanjung Musandam. Meskipun berbasis agak jauh dari selat, Armada Kelima Angkatan Laut AS telah bermarkas di Bahrain sejak 1995 dan berperan dalam menjamin jalur aman di selat tersebut.
Jalur pelayaran masuk dan keluar yang lebarnya 3 km, sebagian besar berada di perairan teritorial Oman dan sebagian di perairan teritorial Iran. Namun, jalur tetap diatur oleh hukum maritim internasional dan sesuai dengan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS).
Dalam hal ini, Iran mengendalikan selat di sebelah utara jalur pelayaran tersebut dan Oman mengendalikan selat di sebelah selatan.
Kenapa Iran Menguasai Selat Hormuz?
Mengutip BBC, wilayah perairan telah diatur oleh PBB. Peraturan PBB mengizinkan negara-negara untuk mengendalikan perairan teritorial hingga 22,22 km laut (25 km) dari garis pantai mereka.
Pada titik tersempitnya, Selat Hormuz dan jalur pelayarannya seluruhnya berada di dalam perairan teritorial Iran dan Oman. Namun, karena sepanjang pantai utara, yang merupakan jalur utama, menjadi kendali Iran, maka wilayah Hormuz lebih dominan dikontrol oleh Iran dengan militernya.
Menurut para ahli, salah satu cara paling efektif bagi Iran untuk membatasi selat tersebut secara militer adalah dengan memasang ranjau menggunakan kapal serang cepat dan kapal selam. Dalam hal ini, kapal-kapal cepat Iran sering kali dipersenjatai dengan rudal anti-kapal.
Apa Dampak Jika Selat Hormuz Ditutup oleh Iran?
Sekitar 3.000 kapal biasanya berlayar melalui selat ini setiap bulan. Pada 2025, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak melewati Selat Hormuz setiap hari, menurut perkiraan dari Badan Informasi Energi AS (EIA). Itu hampir senilai USD 600 miliar (Rp 10,139 kuadriliun) perdagangan energi per tahun.
Dengan nilai perdagangan yang fantastis, penutupan Selat Hormuz sudah cukup untuk menggoyahkan perekonomian global. Negara-negara Teluk, termasuk Iran, juga sangat bergantung pada ekspor energi untuk pendapatan mereka.
Blokade selat tersebut juga akan sangat memukul Asia. Ini karena China diperkirakan membeli sekitar 90 persen minyak yang diekspor Iran ke pasar global.
China menggunakan minyak tersebut untuk membuat produk yang kemudian diekspor ke negara lain. Jadi, jika harga minyak lebih tinggi, maka harga yang mereka jual ke konsumen di seluruh dunia juga lebih tinggi.







