Renungan Harian Katolik Jumat 27 Maret 2026, "Dituduh Menghujat Allah"
Eflin Rote March 27, 2026 10:39 AM

Renungan Harian Katolik Suara Pagi 
Bersama Pastor John Lewar SVD 
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor
Jumat, 27 Maret 2026
Hari Biasa Pekan V Prapaskah
Yer. 20:10-13; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,5-6,7; Yoh. 10:31-42
Warna Liturgi Ungu

Dituduh Menghujat Allah

Suasana sebagaimana dilukiskan dalam injil Yohanes (10:31-42) hari ini, boleh dibilang sangat mencekam.

Orang-orang Yahudi kembali mengambil batu untuk melempari Yesus. Kaum Yahudi menuduh Yesus menghujat Allah. 

Menghujat (Blasphemy=kerusakan nama baik) berarti menghina Allah dan hal-hal suci baik dengan kata-kata, pikiran maupun perbuatan.

Tuduhan tersebut terjadi karena mereka tidak bisa mengerti perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Yesus.

Mereka hanya menafsir sesuai dengan kemampuan pikiran; mereka hanya berpatokan pada tradisi nenek moyang mereka.

Meskipun banyak perbuatan baik dan mengagumkan yang dilakukan oleh Yesus, mereka tetap menuduh Yesus menghujat Allah. Yesus memang Allah yang menjadi manusia. 

Seluruh perbuatan dan pengajaran-Nya adalah ungkapan cinta kasih-Nya bagi manusia supaya selamat.

Memandang Dia berarti memandang Allah yang mahakuasa. Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah diantaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?"

Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah (Yoh.10:32-33).

Tuduhan ditujukan kepada Yesus karena dianggap menghujat Allah. Ini menunjukkan kepada kita bahwa hal yang sakral sekalipun bisa menjadi ajang untuk menjatuhkan bahkan menjerumuskan seseorang.

Hal ini sangat nampak nyata di tengah sosial masyarakat kita. Sudah bukan rahasia bahwa isu-isu penistaan agama mudah sekali menggerakkan massa untuk menghakimi dan menjerat karir politis di negeri ini.

Ironis tetapi terjadi! Sejatinya semakin orang mengenal ajaran suci tentang Allah, umat beriman semakin hidup dalam nilai ajaran-Nya, tetapi kenyataannya banyak orang justru memanfaatkan ajaran itu dan menjadikannya komoditas politis. Tuduhan bisa terjadi juga karena rasa iri hati.

Di zaman sekarang dimana kebebasan pers dijunjung tinggi, banyak oknum yang memanfaatkannya untuk kepentingan politis semata. 

Program kerja, yang baik sekalipun, yang dilakukan oleh pemerintah, selalu mendapat tuduhan, misalnya mereka menuduhkan bahwa pemerintah lebih mengutamakan pekerja-pekerja asing di negeri ini; utang negara yang terus meningkat dan semakin menekan ekonomi masyarakat.

Masih banyak tuduhan lain. Kenyataannya, bukan demikian adanya. Pemerintah mendatangkan pekerja asing sesuai dengan standar professional kerja. 

Demikian juga dengan utang negara; pemerintah melakukannya demi menunjang perekonomian masyarakat dengan menyediakan sarana-sarana yang produktif.

Pada masa pertobatan ini khususnya menjelang hari-hari pekan suci ini, kita semakin menyadari betapa besar kasih Yesus bagi kita. Ia dituduh menghina Allah dan tuduhan itu berakhir dengan sengsara dan wafat di kayu salib.

Pada hari ketiga bangkit dengan jaya. Mari kita merenung sejenak dan bertanya dalam hati. Apakah kita pernah menjadi korban tuduhan palsu atas kebenaran atau perbuatan baik yang kita lakukan?

Jika pernah, tetaplah bertahan, sebab Yesus telah mengalaminya. Lebih baik kita turut mengalami sengsara daripada mengorbankan nilai kebenaran dalam hidup.

Pada saat yang sama, mari kita juga bertanya apakah kita pernah menjadi pelaku yang melakukan tuduhan palsu kepada sesama?

Jika pernah, mari kita dengan rendah hati menyadarinya dan memohon pengampunan Tuhan, sebab itu pasti bukan berasal dari Tuhan.

Kita diundang untuk semakin melihat secara lebih dekat kasih Tuhan dalam diri Yesus. ia telah menjadi kurban bebalnya hati manusia.

Kita harus bertobat. Hati kita harus dibimbing oleh kasih Tuhan bukan dikendalikan semata oleh keinginan dan ambisi yang sangat mementingkan diri sendiri.

Setiap keputusan yang hanya berorientasi pada kepentingan diri sendiri pasti mengorbankan orang lain.

Yesus telah datang bukan dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Beranikah kita setia meneladan Dia?

Doa: Allah Bapa yang Maharahim, seringkali hati kami menjadi keras dan kaku seperti batu ketika menghadapi teguran dan sapaan-Mu. Kami mohon ampun jika prasangka dan kesombongan kami seringkali menghalangi kami untuk melihat kemuliaan-Mu dalam diri sesama dan dalam peristiwa hidup kami.

Berilah kami mata hati yang terang agar kami mampu mengenali jejak-jejak kasih Putra-Mu, Yesus Kristus, dalam setiap pekerjaan baik yang kami jumpai. Bantulah kami untuk selalu 
bersatu dengan-Mu dalam doa dan karya, sehingga hidup kami pun dapat menjadi kesaksian yang membawa orang lain untuk percaya. Semoga kami tidak pernah lelah mencari Engkau, Sang Sumber Kebenaran yang sejati. Amin.

Sahabatku yang terkasih. Selamat Jalan Salib, hari ke 33 Masa Prapaskah. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. (Pastor John Lewar SVD)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.