TRIBUNGORONTALO.COM -- Aktris Aurelie Moeremans tengah menyiapkan langkah baru dengan membawa kisah dalam novelnya, Broken Strings, ke medium film.
Rencana ini bukan keputusan yang datang begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang penuh pertimbangan matang.
Di balik antusiasme tersebut, Aurelie sempat dihantui rasa bimbang.
Ia menyadari bahwa cerita yang ia tulis bukan sekadar fiksi, melainkan potongan pengalaman hidup yang sangat personal dan emosional.
Hal itu membuatnya harus berpikir dua kali sebelum membiarkan kisahnya diangkat ke layar lebar.
Namun di luar dugaan, sambutan publik terhadap buku Broken Strings justru melampaui ekspektasinya.
Ketertarikan dari berbagai rumah produksi pun datang silih berganti, membuatnya terkejut sekaligus tersadar bahwa ceritanya memiliki daya jangkau yang lebih luas dari yang ia bayangkan.
“Sempet banget (ragu), jujur aku juga gak nyangka bakal serame itu," ujar Aurelie Moeremans pada Jumat (27/3/2026) mengutip dari Tribunnews.com.
"Waktu tiba-tiba banyak banget PH yang ngontak, aku malah kaget,” lanjutnya.
Situasi tersebut justru membuatnya lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan membawa kisahnya ke layar lebar.
Ia tidak ingin adaptasi ini hanya sekadar memanfaatkan tren atau popularitas tanpa mempertahankan makna mendalam dari cerita aslinya.
“Karena ini cerita aku dan sangat penting buat aku, aku jadi makin hati-hati," ucapnya.
"Aku gak mau kesannya kayak aji mumpung atau filmnya dibuat cuma karena lagi viral aja, tapi gak sesuai sama esensi ceritanya,” lanjut Aurelie.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, Aurelie akhirnya mantap untuk membawa ceritanya dari novel ke layar lebar.
Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan didorong oleh momentum semata, melainkan keinginan untuk menyampaikan pesan yang lebih luas kepada masyarakat.
Menurutnya, film memiliki kekuatan untuk menjangkau audiens yang lebih beragam, termasuk mereka yang mungkin tidak terbiasa membaca buku.
Dengan begitu, pesan yang terkandung dalam Broken Strings diharapkan bisa diterima oleh lebih banyak orang.
“Aku melihatnya kalau ini bisa menjangkau lebih banyak orang dan spread awareness lebih luas, itu sudah jadi tujuan utamaku. That’s the only goal,” tuturnya.
Ia pun berharap adaptasi film tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga membawa nilai edukatif.
Aurelie bahkan mengungkap bahwa saat ini sudah ada sekolah yang menjadikan bukunya sebagai bahan bacaan, dan ia berharap versi filmnya nanti juga dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran.
“Banyak sekolah yang sudah mulai meminta muridnya untuk baca buku aku, mungkin nanti kalau udah ada filmnya itu bisa diputerin di kelas juga,” katanya.
Sebagai informasi, melalui Broken Strings, Aurelie Moeremans tidak sekadar membagikan kisah pribadinya.
Ia juga membuka ruang untuk dialog, refleksi, serta proses pemulihan, yang lahir dari keberanian untuk bersikap jujur hingga akhirnya resonansinya meluas jauh di luar perkiraannya.
Secara garis besar, buku tersebut mengangkat pengalaman kelam yang pernah ia alami, termasuk trauma akibat child grooming saat masih remaja.
Dalam kisahnya, Aurelie menggambarkan hubungan manipulatif yang ia jalani dengan seorang pria yang jauh lebih dewasa, yang ia sebut dengan nama samaran 'Bobby'. (*)