Ditekan Trump, Inggris Ogah Ikut Terlibat Lebih Jauh di Konflik Iran
Wawan Akuba March 27, 2026 10:47 AM

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan tidak akan mengubah sikapnya terkait konflik Iran, meskipun terus mendapat kritik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Starmer menilai pernyataan keras Trump merupakan bentuk tekanan agar Inggris menggeser posisinya dalam konflik tersebut. Namun, ia memastikan tidak akan “menyerah” terhadap tekanan itu.

Ia menekankan bahwa keputusan pemerintah Inggris tetap berpegang pada prinsip dan kepentingan nasional, termasuk tidak terlibat dalam konflik yang lebih luas selain untuk kepentingan defensif.

“Saya pikir saya memahami apa yang sedang terjadi, ini untuk memberikan tekanan kepada saya dengan berbagai cara,” kata Starmer.

Baca juga: Analis Ungkap Penyebab Emas Anjlok di Maret 2026

“Tetapi, tekanan itu tidak akan membuat saya goyah. Itu tidak akan membuat saya meninggalkan prinsip atau nilai saya, dan memang seperti itulah saya.”

“Itu bukan hal baru. Itu bukan karena Presiden Trump. Saya memiliki nilai dan prinsip inti yang saya pegang sepanjang hidup saya, dan itu tidak bisa dikompromikan.”

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump kembali melontarkan kritik terhadap keterlibatan Inggris di kawasan Timur Tengah.

Ia bahkan menyebut keputusan Inggris sebagai “kesalahan besar” dan meremehkan kekuatan militernya.

Starmer mengakui adanya perbedaan pandangan yang cukup tajam dengan Trump dalam menyikapi konflik tersebut.

Meski demikian, ia tetap membuka ruang untuk menjaga hubungan baik antara kedua negara.

“Pandangan saya adalah bahwa banyak dari apa yang dikatakan dan dilakukan bertujuan untuk menekan saya agar mengubah keputusan, tetapi saya tidak akan melakukannya, karena saya adalah Perdana Menteri Inggris dan saya harus bertindak demi kepentingan nasional Inggris, dan saya akan selalu bertindak demi kepentingan nasional Inggris,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam rapat kabinet yang disiarkan dari Gedung Putih, Trump kembali mengkritik sekutu NATO yang dinilai tidak memberikan dukungan berarti bagi Amerika Serikat dalam konflik Timur Tengah.

Selain itu, Trump juga menyinggung kemampuan kapal induk Inggris, termasuk HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales.

“Sekarang mereka semua ingin membantu. Ketika mereka hancur, pihak lain hancur, mereka berkata, ‘kami ingin mengirim kapal’…,” kata Trump.

“Kami mendengar Inggris mengatakan ‘kami akan mengirim’ – ini tiga minggu lalu – ‘kami akan mengirim kapal induk kami’, yang bukan kapal induk terbaik, omong-omong. Itu seperti mainan dibandingkan dengan yang kami miliki.”

Pernyataan tersebut menambah ketegangan diplomatik di tengah perbedaan sikap antara Washington dan London terkait arah konflik di Timur Tengah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.