TRIBUNGORONTALO.COM -- Penurunan tajam harga emas sepanjang Maret dinilai bukan disebabkan oleh melemahnya fundamental, melainkan tekanan likuiditas global yang semakin ketat. Hal ini disampaikan oleh Paul Wong dari Sprott.
Dalam analisanya, Wong menyebut bahwa penurunan harga emas lebih mencerminkan kebutuhan pasar akan uang tunai di tengah kondisi keuangan yang mengetat, bukan karena hilangnya peran emas sebagai aset lindung nilai.
Harga emas sendiri tercatat turun ke kisaran 4.400 dolar AS per ons dari posisi puncak 5.589,38 dolar AS pada akhir Januari.
Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, gangguan energi, serta volatilitas pasar yang tinggi.
Wong menjelaskan bahwa perubahan besar dalam dinamika emas sebenarnya sudah mulai sejak 2022, ketika pembekuan cadangan devisa Rusia mendorong banyak negara mengalihkan aset dari obligasi AS ke emas.
Akibatnya, harga emas kini semakin bergantung pada arus akumulasi cadangan, terutama yang berasal dari pendapatan komoditas.
Tekanan terhadap harga semakin besar setelah penutupan Selat Hormuz dalam konflik yang melibatkan Iran.
Jalur ini merupakan rute penting bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia.
Dampaknya, negara-negara anggota Gulf Cooperation Council yang selama ini menjadi pembeli utama emas mengalami perlambatan pendapatan energi.
Kondisi ini membuat pembelian emas terhenti, bahkan dalam beberapa kasus harus menjual cadangan yang ada.
Selain itu, kenaikan harga minyak juga memperburuk neraca perdagangan di sejumlah negara Asia, sehingga mengurangi cadangan devisa yang biasanya digunakan untuk membeli emas.
Meski demikian, China menjadi pengecualian dengan peningkatan arus masuk ETF serta premi harga emas di Shanghai yang mencapai 4,4 persen di atas harga spot London.
Menurut Wong, kecepatan penurunan harga emas juga dipicu oleh faktor investasi.
Gejolak di pasar saham, nilai tukar, dan suku bunga mendorong aksi pengurangan leverage oleh berbagai pelaku pasar, termasuk hedge fund dan strategi investasi sistematis.
Dalam kondisi tersebut, emas justru dijadikan sumber likuiditas karena mudah dijual.
Tekanan tambahan datang dari penguatan dolar AS, penyesuaian portofolio akibat kenaikan suku bunga, serta pergeseran investasi ke sektor energi.
Faktor teknis seperti posisi opsi dan strategi berbasis volatilitas juga memperbesar fluktuasi harga dalam jangka pendek.
Wong membandingkan situasi ini dengan krisis tahun 2008 dan 2020, di mana harga emas sempat turun saat tekanan pasar tinggi, sebelum akhirnya kembali menguat seiring munculnya kebijakan stimulus.
Ia menilai kondisi saat ini memiliki pola serupa, di mana tekanan sistemik dan pengetatan keuangan dapat membuka peluang intervensi moneter di masa depan.
Dalam jangka panjang, Wong menegaskan prospek emas tetap kuat. Faktor seperti keterbatasan energi, ekspansi fiskal, serta perlahan melemahnya dominasi dolar AS dalam sistem cadangan global masih menjadi penopang utama.
Ia juga menambahkan bahwa jika kondisi ekonomi global memburuk, peluang penerapan kebijakan pelonggaran moneter kembali akan meningkat, yang dapat menjadi pemicu kenaikan harga emas berikutnya.
Sementara itu, pergerakan harga perak bahkan lebih fluktuatif. Logam tersebut turun ke sekitar 65 dolar AS per ons setelah sebelumnya sempat menyentuh lebih dari 121 dolar AS pada Februari.
Pergerakan ini disebut lebih dipengaruhi oleh faktor derivatif dan struktur pasar dibandingkan fundamental.
Wong menegaskan bahwa penurunan harga emas saat ini merupakan bentuk penyesuaian akibat tekanan likuiditas, dan berpotensi kembali menguat ketika kondisi keuangan global mulai stabil.
(*)