Harga Cabai di Kutim Turun Drastis Pasca Lebaran, Pasokan Kembali Normal
Amelia Mutia Rachmah March 27, 2026 03:08 PM

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Kabar gembira bagi masyarakat di Kabupaten Kutai Timur, setelah sempat mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan pasca Lebaran, kini harga komoditas cabai di pasar-pasar tradisional mulai menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Berdasarkan pantauan terkini di lapangan, harga cabai yang sebelumnya sempat menembus angka ratusan ribu rupiah per kilogram kini sudah berangsur normal.

Penurunan harga ini terjadi secara bertahap seiring dengan mulai masuknya pasokan barang dari daerah penghasil serta optimalnya hasil panen petani lokal.

Pengawasan Ketat Disperindag

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur terus melakukan pengawasan intensif terhadap fluktuasi harga bahan pokok penting (bapokting).

Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada spekulasi harga yang memberatkan konsumen di tengah kondisi ekonomi yang sedang berupaya stabil.

Baca juga: Mobil Meledak di Jalan Bengalon-Muara Wahau Kutim, Diduga Akibat AC Menyala saat Bawa BBM

Kepala Disperindag Kutai Timur, Nora Ramadhani, menjelaskan bahwa kenaikan harga sebelumnya merupakan fenomena nasional yang dipicu oleh minimnya stok di tingkat distributor.

"Memang kemarin sempat melonjak drastis hingga angka 200 ribu rupiah lebih karena pasokan dari Jawa dan Sulawesi kosong akibat gagal panen, sementara produksi lokal kita hanya mampu mencukupi 30 persen kebutuhan daerah," ujar Nora, Jumat (27/3/2026).

Pasokan Mulai Lancar

Situasi sulit tersebut kini mulai teratasi dengan kembali lancarnya jalur distribusi logistik.

Kelangkaan yang sempat terjadi selama beberapa hari terakhir perlahan teratasi seiring datangnya kiriman stok baru yang mengisi lapak-lapak pedagang di pasar induk maupun pasar satelit.

Penurunan harga ini disambut baik oleh para pedagang yang kini lebih leluasa dalam mengatur stok.

Baca juga: Kebakaran Hebat di Kutai Timur Hanguskan 75 Rumah, Kerugian Capai Rp25 Miliar

Saat harga melambung tinggi, daya beli masyarakat menurun drastis sehingga pedagang tidak berani menyimpan barang dalam jumlah banyak karena risiko kerugian akibat pembusukan.

Dampak pada Daya Beli Masyarakat

Dengan turunnya harga cabai, aktivitas transaksi di pasar mulai kembali bergeliat.

Pemerintah daerah berharap kondisi harga yang mulai melandai ini dapat bertahan dalam jangka panjang.

Disperindag berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan para distributor agar rantai pasok tetap lancar dan tidak terganggu oleh faktor eksternal seperti biaya logistik atau kondisi cuaca.

Dorongan Kemandirian Pangan

Nora juga menekankan pentingnya penguatan sektor pertanian lokal sebagai langkah strategis jangka panjang.

Baca juga: Harga Cabai di Malinau Kaltara H+4 Lebaran 2026 Tembus Rp 140 Ribu per Kg

"Kami akan terus memantau pergerakan harga setiap hari agar jika terjadi anomali, langkah intervensi pasar seperti operasi pasar murah dapat segera dilakukan untuk melindungi daya beli masyarakat," terangnya.

Sementara itu, Petugas Bapokting Pasar Induk Sangatta, Yeni, memberikan rincian data harga yang menunjukkan penurunan tajam.

Pada 25 Maret 2026, harga cabai rawit sempat menyentuh Rp150.000 per kilogram, sedangkan cabai tiung berada di kisaran Rp115.000 per kilogram.

Namun, kondisi tersebut berubah drastis dalam waktu singkat berkat melimpahnya pasokan yang masuk ke Sangatta.

"Hari ini harga cabai sudah turun lagi menjadi Rp75.000 per kilogram, jauh lebih murah dibandingkan dua hari lalu saat stok benar-benar terbatas di tingkat pedagang," jelasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.