Catat! Fenomena Astronomi April 2026 dari Bulan Purnama Pink Moon hingga Hujan Meteor Lyrid
Whiesa Daniswara March 27, 2026 05:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Langit malam selalu menghadirkan berbagai peristiwa menarik yang dikenal sebagai fenomena astronomi. 

Istilah ini merujuk pada kejadian alam yang terjadi di luar angkasa, seperti pergerakan Bulan, planet, hingga munculnya meteor yang bisa diamati dari Bumi.

Fenomena ini terjadi karena interaksi dan pergerakan benda-benda langit yang mengikuti hukum alam, sehingga bisa diprediksi waktunya dan diamati oleh manusia.

Fenomena astronomi tidak selalu membutuhkan alat canggih untuk dinikmati. 

Banyak di antaranya, seperti bulan purnama atau hujan meteor, bisa dilihat langsung dengan mata telanjang. 

Selain itu, fenomena ini juga sering memiliki makna lebih luas.

Mulai dari penanda perubahan musim, dasar perhitungan kalender, hingga berkaitan dengan tradisi dan kepercayaan di berbagai budaya.

Di awal bulan April 2026, cahaya Bulan yang bulat sempurna akan menyinari malam.

Sementara di akhir bulan, kilatan meteor akan melesat cepat.

Langit akan dihiasi dua fenomena yang cukup populer, yaitu Bulan Purnama Pink Moon dan hujan meteor Lyrid. 

2 Fenomena Astronomi yang Menghiasi Langit pada Bulan April 2026

Baca juga: 4 Fenomena Astronomi Februari 2026, Ada Gerhana Matahari Cincin, Catat Tanggalnya

1. Pink Moon

Awal April 2026 dibuka dengan kemunculan bulan purnama yang dikenal sebagai Pink Moon. 

Puncaknya terjadi pada malam 1 April waktu Amerika.

Pada saat ini, Bulan berada dalam posisi berlawanan dengan Matahari, sehingga seluruh wajahnya tampak terang sempurna dari Bumi. 

Dalam peta langit, Bulan akan berada di sekitar wilayah konstelasi Virgo, dikutip dari starwalk.space.

Namun, keistimewaan Pink Moon tidak hanya terletak pada tampilannya. 

Nama “Pink Moon” sendiri sering menimbulkan kesalahpahaman, seolah-olah Bulan akan berwarna merah muda. 

Faktanya, nama ini berasal dari tradisi masyarakat di Amerika Utara yang mengaitkan bulan purnama April dengan mekarnya bunga liar phlox, yang berwarna merah muda lembut dan menjadi simbol datangnya musim semi, dikutip dari space.com.

Seiring waktu, berbagai budaya memberikan makna berbeda pada bulan purnama ini. 

Ada yang menyebutnya sebagai bulan tunas, menandai awal kehidupan baru di alam. 

Ada pula yang melihatnya sebagai simbol mencairnya es dan kembalinya aliran sungai setelah musim dingin. 

Dalam tradisi keagamaan, Pink Moon bahkan memiliki peran penting sebagai penentu waktu perayaan besar.

Pada tahun 2026, Pink Moon berfungsi sebagai Bulan Purnama Paskah. 

Hal ini berkaitan dengan aturan kalender gerejawi yang menetapkan bahwa Hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama pasca ekuinoks musim semi. 

Karena ekuinoks terjadi pada 20 Maret 2026, maka Pink Moon pada 2 April menjadi acuan, sehingga Hari Paskah dirayakan pada 5 April 2026, dikutip dari skyatnightmagazine.com.

Menariknya, meskipun disebut Pink Moon, warna Bulan yang terlihat oleh mata justru sering cenderung oranye atau kemerahan, terutama saat berada dekat cakrawala. 

Fenomena ini terjadi karena cahaya Bulan harus melewati lapisan atmosfer Bumi yang lebih tebal. 

Dalam prosesnya, cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru tersebar lebih banyak, sementara warna merah tetap dominan hingga sampai ke mata kita. 

Inilah yang membuat Bulan tampak hangat dan kemerahan, sebuah ilusi optik yang justru menambah keindahannya.

2.  Hujan Meteor Lyrid

Jika Pink Moon menghadirkan ketenangan dengan cahaya lembutnya, maka paruh akhir April akan dipenuhi dinamika lewat hujan meteor Lyrid. 

Fenomena ini berlangsung dari pertengahan hingga akhir bulan, dengan puncaknya pada 22–23 April 2026.

Lyrid bukan sekadar hujan meteor biasa. 

Ia merupakan salah satu fenomena langit tertua yang pernah dicatat manusia, dengan pengamatan yang tercatat lebih dari 2.600 tahun lalu dalam sejarah Tiongkok kuno. 

Meteor-meteor ini bergerak dengan kecepatan luar biasa, sekitar 50 kilometer per detik. 

Dalam kondisi langit gelap, pengamat bisa melihat sekitar 10 hingga 15 meteor per jam saat puncaknya, dikutip dari National Geographic.

Yang membuat Lyrid semakin menarik adalah karakteristiknya yang kadang menghasilkan meteor terang dengan jejak cahaya yang bertahan beberapa detik. 

Jejak ini memberikan kesan dramatis, seolah langit sedang “melukis” garis cahaya dalam sekejap.

Waktu terbaik untuk menyaksikan fenomena ini adalah setelah tengah malam hingga menjelang fajar, saat titik asal meteor, yang berada di konstelasi Lyra, berada cukup tinggi di langit. 

Pada tahun 2026, kondisi pengamatan tergolong cukup baik karena cahaya Bulan tidak terlalu mengganggu, sehingga langit relatif lebih gelap.

Namun, seperti semua hujan meteor, pengalaman setiap orang bisa berbeda. 

Banyaknya meteor yang terlihat sangat bergantung pada kondisi langit, tingkat polusi cahaya, serta kesabaran pengamat. 

Tidak diperlukan alat khusus, cukup mencari tempat yang gelap, menjauh dari lampu kota, dan membiarkan mata beradaptasi dengan kegelapan.

(Tribunnews.com/Farra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.