Uskup Labuan Bajo Pimpin Jalan Salib di Rutan Polres Manggarai Barat 
Nofri Fuka March 27, 2026 05:47 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales 

TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO – Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, memimpin ibadah jalan salib bersama 15 tahanan di Polres Manggarai Barat, Jumat (27/3/2026).

Di lorong yang sempit itu, 15 tahanan yang beragama Katolik tertunduk khusyuk dan menyatukan tangan dari balik jeruji besi.

Ini adalah momen refleksi mendalam bagi mereka yang tengah kehilangan kebebasan fisik, namun sedang berjuang menemukan kembali kebebasan batin, sekaligus menyambut Paskah 2026.

Hadir mendampingi Uskup, Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang, S.I.K., bersama jajaran perwira serta sejumlah Romo, Pater, dan Suster. 

 

Baca juga: Tampil di Festival Golo Koe, Sanggar Nilo Watu Buan: Terima Kasih Untuk Uskup Labuan Bajo

 

 

Kehadiran para tokoh agama ini menjadi simbol kuat bahwa masyarakat tidak meninggalkan mereka yang sedang terjerat proses hukum.

Jeruji Besi Bukan Batas Bagi Kasih Tuhan

Dalam renungannya yang menyentuh di setiap perhentian, Mgr. Maksimus Regus menegaskan bahwa jeruji besi bukanlah batas bagi kasih Tuhan. Ia mengajak para warga binaan untuk melihat penderitaan saat ini sebagai proses pemurnian diri.

"Jalan Salib adalah jalan penderitaan yang berujung pada kemenangan. Di tempat ini, setiap pribadi diajak untuk memikul salibnya masing-masing dengan penuh penyesalan, namun tetap memiliki harapan akan kebangkitan hidup yang baru," ujar Mgr. Maksimus dengan nada suara teduh.

Uskup pertama Labuan Bajo itu juga memberikan penekanan khusus pada nilai pengampunan. Menurutnya, kesalahan masa lalu tidak boleh mendefinisikan masa depan seseorang.

"Tuhan tidak melihat masa lalu kalian yang kelam, tetapi Ia melihat kerinduan hati kalian untuk kembali ke jalan yang benar. Setiap manusia berhak atas kesempatan kedua, dan kesempatan itu dimulai dari pertobatan di tempat ini," tegas Yang Mulia di hadapan para tahanan yang tampak terpaku menyimak.

Ibadah berlangsung penuh haru. Beberapa tahanan tampak tertunduk lesu, bahu mereka bergetar, dan sesekali mengusap air mata dengan kaus tahanan saat mengikuti prosesi perhentian demi perhentian. 

Suara nyanyian rohani menggema di sel-sel tahanan, menciptakan kontras yang tajam antara ketegasan hukum dan kelembutan kasih.

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, S.I.K., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari pembinaan mental bagi para tahanan. 

Dirinya percaya, pendekatan hukum harus berjalan beriringan dengan pendekatan spiritual.

"Kami ingin memastikan bahwa di balik proses hukum yang berjalan, aspek kemanusiaan dan spiritual mereka tetap terjaga. Pendekatan spiritual sangat penting agar saat bebas nanti, mereka memiliki karakter yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama," tutur Kapolres Christian.

Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam atas kesediaan Mgr. Maksimus Regus mengunjungi para tahanan di tengah kesibukan menjelang Pekan Suci.

"Kehadiran Bapak Uskup di sini adalah anugerah yang memberikan penguatan luar biasa, tidak hanya bagi para tahanan, tetapi juga bagi seluruh personel kami dalam menjalankan tugas dengan hati," tambahnya.

Melalui ibadah ini, Polres Manggarai Barat berharap suasana Paskah dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. (moa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.