WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Setelah menempuh perjalanan panjang di panggung sinema dunia, film "Yohanna" akhirnya pulang ke rumah.
Aksi memukau Laura Basuki sebagai seorang biarawati muda yang bergulat dengan realitas sosial di Sumba, Nusa Tenggara Timur, dijadwalkan menyapa penonton Tanah Air serentak mulai 9 April 2026.
Film ini bukan sekadar tontonan biasa.
Baca juga: Akting dengan Laura Basuki, Fedi Nuril Sebut Perannya di Film Rumah Masa Depan Bukan Pria Poligami
"Yohanna" datang membawa tumpukan prestasi internasional, mulai dari debut di International Film Festival Rotterdam hingga raihan Best Actress bagi Laura Basuki di Roma, Italia.
Kini, giliran publik Indonesia yang akan menyaksikan kedalaman akting sang aktris dalam peran yang ia sebut paling berkesan sepanjang kariernya.
Menanggalkan Kesempurnaan demi Kemanusiaan
Dalam film garapan sutradara Razka Robby Ertanto ini, Laura Basuki memerankan Yohanna, seorang biarawati yang dikirim dalam misi kemanusiaan pasca-Badai Tropis Seroja.
Namun, Yohanna yang ditampilkan bukanlah sosok suci yang tanpa cela.
“Saya mendapat pelajaran berharga untuk memahami sisi kemanusiaan Yohanna, bahwa dia bukan sosok yang sempurna. Melainkan seseorang yang terus belajar memahami hubungannya dengan Tuhan dan kehidupan di sekitarnya,” tutur Laura Basuki saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (27/3/2026).
Laura harus keluar dari zona nyamannya. Ia tidak hanya dituntut mendalami gejolak batin, tetapi juga melakukan tantangan fisik seperti berkuda di sabana Sumba yang luas dan berinteraksi erat dengan anak-anak lokal yang menjadi bagian inti dari cerita ini.
Baca juga: Pertama Akting dengan Widyawati, Laura Basuki Banyak Diskusi Saat Syuting Film Rumah Masa Depan
Realitas Pahit di Balik Jubah Biarawati
Alur cerita "Yohanna" menjadi tajam ketika bantuan kemanusiaan yang dibawa sang biarawati dirampas.
Yohanna dipaksa berhadapan langsung dengan "wajah asli" kehidupan: kemiskinan sistemik, korupsi yang mengakar, hingga eksploitasi anak.
Rentetan kejadian ini perlahan mengguncang imannya dan mempertanyakan keadilan Tuhan di tengah penderitaan manusia.
Sang sutradara, Robby Ertanto, menegaskan bahwa film ini adalah refleksi tentang apa yang terjadi ketika keyakinan seseorang berbenturan dengan kenyataan yang tidak selalu hitam-putih.
“Ini bukan hanya tentang seorang biarawati, tapi tentang bagaimana seseorang menghadapi realitas yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Banyak hal yang kita anggap benar bisa goyah ketika berhadapan langsung dengan kehidupan,” jelas Robby.
Kolaborasi Global dengan Latar Autentik
Keindahan sekaligus kepedihan Sumba dihadirkan secara autentik melalui kolaborasi produksi antara Indonesia, Inggris, dan Italia.
Pengambilan gambar dilakukan langsung di lokasi untuk menangkap esensi alam dan sosial Sumba yang sesungguhnya.
Selain Laura Basuki, film ini juga diperkuat oleh aktris legendaris Jajang C. Noer, serta talenta muda Kirana Grasela dan Iqua Tahlequa.
"Yohanna" menjanjikan pengalaman sinematik yang kontemplatif, mengajak penonton bertanya: sejauh mana iman kita bertahan saat dunia di sekitar kita runtuh?
Jangan lewatkan perjalanan spiritual dan kemanusiaan Yohanna yang penuh haru, hanya di bioskop mulai pekan depan.