WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Satiah (55) dan Sri (42) sedang duduk menikmati nasi bungkus di bawah pohon kersen di pinggir rel kereta api samping Pasar Gaplok, Kramat, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2026).
Sekitar tiga meter dari tempat keduanya duduk, kereta api (KA) jarak jauh dan kereta rel listrik (KRL) silih berganti melintasi rel.
Suara bising KA dan KRL datang dan pergi, tetapi Satiah dan Sri seolah tak peduli hingga keduanya sibuk melahap santapan.
"Kami makan dulu ya, capek karena habis kemas-kemas, habis gusuran," kata Satiah pada Kompas.com.
Baca juga: Prabowo Instruksikan KAI Data Warga dan Siapkan Hunian Layak Bagi Warga Bantaran Rel
Kondisi di kanan dan kiri tempat Satiah dan Sri makan, terlihat bekas perabotan berceceran, mulai ember, gayung, tumpukan kasur busa, terpal, tumpukan kain, belasan galon air mineral hingga sampah plastik.
Di bagian timur seberang rel, terlihat tumpukan tanaman rambat, semak dan perdu yang baru saja dipotong dan ditinggalkan di lokasi.
Tumpukan tanaman itu layu karena panas matahari.
Satiah dan Sri menceritakan pengalamannya bertemu Presiden Pranowo Subianto pada Kamis (27/3/2026) sore.
Baca juga: Bertemu Presiden, Warga Bantaran Rel di Senen Jakarta Pusat Berharap Tinggal di Rumah Layak Huni
Ketika Presiden datang di bantaran rel sekitar pukul 17.00 WIB, Sri dan Satiah sedang istirahat sepulang memulung.
"Semua orang menuju arah utara, tempat presiden, kami kira ada orang ketabrak kereta," kata Sri.
"Kami langsung lari ikut antre salaman saat tahu ada presiden," lanjutnya.
Sri yang merupakan perantauan dari Brebes, Jawa Tengah, sudah enam tahun tinggal di Jakarta.
Baca juga: Satu Hari Setelah Salaman dengan Prabowo, Warga Bantaran Rel Senen Kaget Huniannya Dibongkar Paksa
Sejak awal di Jakarta, dia tinggal di bantaran rel Senen di rumah gubuk liar yang terbuat dari papan.
Sri senang Prabowo blusukan ke daerah tempat dia tinggal.
Namun, malam hari setelah bertemu orang nomor satu di Indonesia itu, ia tiba-tiba mendapat kabar bangunan liar di bantaran rel Senen bakal dibongkar, termasuk tempat tinggalnya.
"Sejak saya pertama di sini, baru kali ini ada presiden yang ke mari, senang bisa salaman, dapat THR, tapi habis itu kami sedih karena gubuk kami mau digusur sampai enggak bisa tidur semalaman," katanya.
Baca juga: Jamin Keamanan Mudik Lebaran 2026, KAI Daop 1 Jakarta Terjunkan Puluhan PPJ Cek 895 km Rel
Mendengar kabar gusuran yang disampaikan ketua warga di bantaran rel, Sri langsung mengemas baju-bajunya dan baju ketiga anaknya.
Peralatan memasak juga ikut dirapikan dan dititipkan sementara di Pasar Gaplok.
"Jam 06.00 WIB sudah ada petugas Satpol PP dan petugas dari pemkot (Jakarta Pusat), sekarang semua rumah rata tanah," kata Sri.
Satiah juga sedih karena terkena gusuran setelah lokasi tempat tinggalnya didatangi Presiden Prabowo.
Baca juga: Demi Keselamatan, KAI Bongkar Hunian Ekstrem di Kolong Rel KA Stasiun Rangkasbitung–Jambu Baru
Saat presiden datang, tidak ada pembicaraan sama sekali soal penggusuran rumah liar yang ditempati warga.
"Pak Presiden hanya nanya, 'Mau tidak kalau saya kasih rumah susun?' 'Mau tidak kalau anak-anaknya nanti disekolahkan?', selebihnya bilang, mau silaturahmi sama kami," jelas Satiah.
Presiden RI Prabowo Subianto menyusuri permukiman warga yang ada di pinggir rel Kawasan Senen, Jakarta Pusat, Kamis sore.
Prabowo blusukan ke rumah warga di pinggiran rel kereta api dengan memakai kemeja biru tua dan topi cokelat tua.
"Pada sore hari ini, saya menyusuri permukiman di bantaran rel kereta api di kawasan Senen, Jakarta Pusat, terletak sekitar 3 km dari Pusat Kota Jakarta," ujar Prabowo dalam unggahan Instagram @prabowo pada Kamis malam.
Sumber: Kompas.com