Krisis Petugas Keamanan Bandara Amerika yang Kian Memburuk
GH News March 27, 2026 10:09 PM
New York -

Lebih dari sebulan sudah AS mengalami masalah hampir di seluruh bandaranya. Semua bermula dari krisis pekerja yang diminta bekerja tanpa digaji.

Transportation Security Administration (TSA) bertugas memeriksa jutaan orang yang melewati bandara di seluruh Amerika Serikat (AS) setiap harinya. Namun akibat adanya penutupan sebagian oleh pemerintah yang memengaruhi Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), yang mengawasi TSA, petugas mulai diminta bekerja tanpa digaji.

Akibatnya, petugas enggan masuk kerja. Perjalanan lewat bandara terganggu, pelancong harus antre berjam-jam untuk pemeriksaan karena kurangnya petugas, seperti dikutip dari pada Jumat (27/3/2026).

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah mengerahkan agen federal dari Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) ke bandara di seluruh negeri untuk mengisi kekosongan. Langkah itu telah menuai kritik mengingat kurangnya pelatihan yang relevan dan rekam jejak metode agresif mereka.

Penundaan ini juga terjadi pada saat perang AS-Israel melawan Iran telah mengakibatkan komplikasi tambahan terkait perjalanan internasional, mulai dari pembatalan atau pengalihan rute penerbangan hingga kenaikan harga energi dan kekhawatiran tentang keamanan.

Secara keseluruhan, para analis memperingatkan bahwa situasi ini telah menciptakan citra disfungsi sistemik dan mempertanyakan keamanan dan keandalan sistem perjalanan udara negara tersebut.

"Selama bertahun-tahun kita telah membanggakan bagaimana AS memiliki sistem penerbangan terbaik dan teraman di dunia," kata William McGee, seorang peneliti dan advokat konsumen di American Economic Liberties Project.

Lebih dari 450 pekerja TSA telah mengundurkan diri sejak penutupan sebagian pemerintah dimulai pada 14 Februari, menurut laporan CNN yang mengutip Lauren Bis, penjabat asisten sekretaris untuk urusan publik di DHS.

"Saya tidak yakin itu sesuatu yang masih bisa kita katakan lagi," ucapnya.

Everett Kelley, presiden American Federation of Government Employees (AFGE), sebuah serikat pekerja yang mewakili pekerja dari berbagai instansi pemerintah, termasuk TSA mengatakan bahwa petugas mengalami kelelahan terhadap ketidakstabilan profesional dan finansial dalam bekerja.

"Di seluruh negeri, petugas TSA sekali lagi diminta untuk melapor kerja tanpa gaji. Mereka memiliki keluarga, hipotek, dan tagihan seperti orang lain," kata Kelley dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui email kepada Al Jazeera.

Statistik tentang ketidakhadiran juga tidak mencerminkan keseluruhan cerita, dengan beberapa bandara beroperasi normal sementara yang lain mengalami penundaan yang kacau dan tingkat yang lebih tinggi. Bandara-bandara besar di kota-kota seperti New York, Atlanta, dan Houston telah mengalami penundaan hampir 30 persen atau lebih tinggi.

Dengan kondisi di setiap bandara yang bervariasi, sangat sulit memprediksi penundaan. Bahkan, antrean pengecekan keamanan harus masuk dalam perhitungan waktu.

"Intinya adalah, jika Anda harus bepergian sekarang, Anda perlu sampai di bandara sangat awal," katanya.

Para pengguna media sosial telah berbagi cerita tentang tiba di bandara dengan waktu sangat awal dan tetap ketinggalan penerbangan karena terjebak dalam antrean TSA.

Seorang juru bicara Otoritas Pelabuhan New York dan New Jersey, yang mengawasi operasi di bandara-bandara besar seperti Bandara Internasional John F Kennedy dan Bandara Internasional Newark, mengatakan kepada Al Jazeera dalam sebuah pernyataan bahwa meskipun Otoritas Pelabuhan tidak bergantung pada dana federal untuk beroperasi, para pekerja untuk lembaga federal seperti TSA masih bergantung pada dana tersebut.

"Selama beberapa hari terakhir, kami mulai melihat hal itu berdampak pada waktu tunggu yang lama di pos pemeriksaan keamanan selama periode tertentu tergantung pada volume penumpang, pergantian shift TSA dan istirahat staf, serta jumlah staf TSA yang datang bekerja untuk setiap shift," kata pernyataan itu.

Bonauli
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.