SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menggelar rakor bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa guna mengantisipasi ancaman fenomena Godzilla El Nino di Grahadi, Jumat (27/3/2026).
Suharyanto menegaskan fenomena Godzilla El Nino diprediksi terjadi pada musim kemarau 2026 sehingga diperlukan melalui penguatan koordinasi dan antisipasi bencana terutama kekeringan yang berpotensi terjadi di Jatim.
Ia menyebutkan di Riau sudah terjadi kebakaran hutan dan lahan hampir 3.000 hektare, lalu di Natuna yang tidak pernah terjadi kebakaran hutan dan lahan juga terjadi.
“Maka dari itu, bukan sesuatu yang berlebihan apabila hari ini kami BNPB dengan Jawa Timur meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi musim kemarau atau musim kekeringan,” terangnya.
Untuk mengatasi kekeringan kebakaran, Suharyanto mengatakan tidak bisa diatasi salah satu institusi.
Baca juga: Maksimalkan MT3 di Tengah Dampak El Nino, Kementan Canangkan Percepatan Tanam Padi di Tulungagung
Melainkan pemerintah pusat berkolaborasi dengan desa, kecamatan kabupaten, provinsi sampai pemerintah pusat.
Dalam rapat tersebut, disepakati sejumlah langkah strategis, antara lain penguatan satuan tugas (satgas) darat untuk penanganan dini kebakaran, percepatan penyediaan sumber air melalui pembangunan sumur dan distribusi air bersih, serta kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca apabila diperlukan.
"Tadi kami sepakat bersama Provinsi Jatim akan segera menggelar apel di semua kabupaten kota termasuk juga peralatan-peralatan yang dibutuhkan," katanya.
Kemudian, mengatasi kekurangan air melalui pembuatan sumur untuk mengalirkan air dari puncak-puncak atau sumber-sumber air yang jauh.
Jika memang diperlukan operasi modifikasi cuaca untuk mengisi umbung-umbung serta mengisi kolam-kolam renang karena di satu titik kebakaran sumber airnya juga bisa diambil dari kolam renang.
Baca juga: Dampak El Nino Panjang, Dinkes Jember Minta Warga Waspada Ancaman Virus Chikungunya
Selain itu, kesiapan sarana pendukung seperti helikopter water bombing juga menjadi perhatian.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, keterlambatan mobilisasi armada udara dapat memperbesar skala kebakaran.
Oleh karena itu, direncanakan penempatan armada di wilayah strategis seperti Bandara Iswahyudi Madiun dan Bandara Juanda Surabaya.
“Karena prediksi BMKG puncak kemarau Agustus 2026 itu merah semua mulai Madiun sampai Banyuwangi sehingga kita antisipasinya dua pesawat,” ujarnya.
“Sedangkan untuk jumlah unit tergantung kebutuhan nanti di lapangan, tapi intinya berapapun kami siapkan sebagai catatan kalau musim El Nino seluruh Indonesia kita siapkan 50,” pungkasnya.
Sementara itu, Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa berdasarkan proyeksi BMKG, sejumlah wilayah di Jawa Timur mulai memasuki fase kekeringan sejak April 2026, dengan intensitas yang diperkirakan meningkat pada Mei dan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
“Nanti akan terus meningkat di bulan Mei dan prediksi dari BMKG puncak kekeringan terjadi Agustus mendatang,” ujar Khofifah.
Menghadapi kondisi tersebut, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa Jawa Timur harus tetap menjaga perannya sebagai lumbung pangan nasional. Oleh karena itu, Indeks Pertanaman (IP) padi ditargetkan tidak mengalami penurunan.
“Indeks Pertanaman beras di Jawa Timur harus tidak turun karena bagian dari lumbung pangan nasional sekaligus produksi padi dan beras Jatim tetap menjadi andalan Indonesia,” katanya.
“Oleh karena itu, September nanti saat musim tanam kita berharap indeks pertanaman Jawa Timur 2,7 tapi ada daerah yang 3,5 seperti Ngawi,” tuturnya menambahkan.
Untuk itu, lanjut Khofifah, Pemprov Jawa Timur melalui Dinas Pertanian telah melakukan pemetaan wilayah yang membutuhkan intervensi, khususnya dalam penyediaan sumber air melalui pembangunan sumur-sumur dalam guna mendukung irigasi lahan pertanian.
“Dinas Pertanian sudah memetakan daerah-daerah yang membutuhkan sumur dalam agar suplai air untuk pertanian tetap terjaga dan produksi tidak terganggu,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Khofifah menyampaikan bahwa strategi penanganan kekeringan dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni pemenuhan kebutuhan air untuk masyarakat sehari-hari serta kebutuhan air untuk sektor pertanian.
“Kita membagi dalam dua kategori, yaitu air untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat dan air untuk pertanian. Keduanya harus dipastikan terpenuhi dengan baik,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari langkah antisipatif yang terukur, Pemprov Jawa Timur juga tengah melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah sentra produksi padi, khususnya 10 besar produsen padi di Jawa Timur, sebagai dasar penyusunan plan of action yang lebih detail dan tepat sasaran.
"Kepala BNPB memiliki daftar peta yang sangat komprehensif sehingga bisa menjadi panduan bagi Pemprov Jawa Timur melakukan plan of action secara detail dan terukur," jelasnya.
Selain sektor pertanian, Khofifah juga menegaskan bahwa kesiapsiagaan lintas sektor terus diperkuat. Dinas Sosial, misalnya, dipastikan selalu bersiaga dalam menghadapi kondisi kedaruratan yang berpotensi muncul akibat kekeringan maupun dampak turunannya.
“Kita pastikan seluruh perangkat daerah siap. Dinas Sosial selalu bersiaga dalam kondisi kedaruratan, sehingga masyarakat tetap mendapatkan perlindungan,” tegasnya.