TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Bagi Suwarno, menjadi abdi dalem di Pendopo Kabupaten Bondowoso bukan sekadar pekerjaan. Selama lebih dari tiga dekade, ia menjalani tugas tersebut sebagai bentuk pengabdian untuk mendukung jalannya pemerintahan daerah melalui pelayanan kepada para pemimpin.
Suwarno tercatat sebagai petugas perlengkapan pimpinan terlama yang bertugas di Pendopo Ki Ronggo Bondowoso. Ia mulai bertugas di pendopo sejak 1995 dan hingga kini telah melayani lima bupati yang berbeda.
Perjalanan karier Suwarno di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bondowoso dimulai pada 1990. Saat itu, ia masih berstatus tenaga sukwan di Bagian Umum Pemkab Bondowoso.
Namun pada masa awal tersebut, ia belum langsung bertugas di pendopo. Suwarno lebih dulu ditempatkan sebagai bagian dari tim perlengkapan yang berkantor di Gedung Olahraga (Gelora).
Perubahan terjadi ketika pemerintah daerah melakukan penataan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK). Pengelolaan Gelora kemudian dialihkan ke Dinas Pariwisata dan Olahraga. Dari situlah Suwarno dipindahkan untuk membantu operasional di Pendopo Bupati.
"Masuk pendopo sekitar tahun 1995," kenangnya saat dikonfirmasi, Jumat (27/3/2026).
Baca juga: Teduh Glamping dan Kawah Wurung Jadi Favorit Libur Lebaran di Bondowoso
Sejak pertama bertugas di pendopo, Suwarno langsung melayani Bupati Bondowoso saat itu, Agus Sarosa. Ia mendampingi hampir selama dua periode kepemimpinan.
Pengabdiannya kemudian berlanjut di masa kepemimpinan Bupati Mashoed, Bupati Amin Said Husni, Bupati Salwa Arifin, hingga saat ini Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid.
Pada awalnya, tugas Suwarno hanya sebagai pengemudi pikap untuk kebutuhan operasional. Seiring waktu, tanggung jawabnya bertambah hingga kini mengurus berbagai kebutuhan kegiatan pimpinan di pendopo.
"Awalnya saya driver pikap, sekarang diberi tanggung jawab untuk semua kegiatan di pendopo," ujar pria kelahiran 25 November 1969 tersebut.
Baca juga: Tak Dapat Anggaran di DAK, Pemkab Bondowoso Tetap Perbaiki 134 Titik Jalan
Selama lebih dari tiga dekade bertugas, Suwarno menyaksikan langsung gaya kepemimpinan yang berbeda dari setiap bupati. Salah satu sosok yang paling membekas baginya adalah Agus Sarosa, yang dikenal sangat disiplin.
Menurut Suwarno, sikap disiplin tersebut turut membentuk karakter dirinya dan rekan-rekan kerja saat itu.
"Beliau sangat disiplin, sehingga karakter saya pun ikut terbentuk," ungkap Suwarno yang kemudian diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 1997.
Meski memiliki kedekatan dengan pimpinan daerah, Suwarno mengaku tidak pernah memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi. Ia menilai integritas adalah hal utama yang harus dijaga selama bertugas.
Karena itu, selama bertahun-tahun bekerja di pendopo, ia tidak pernah meminta bantuan khusus ataupun mengajukan pindah tempat tugas.
"Saya tidak mau dipindah, di sini saja mengabdi sampai menunggu purna tugas pada 2027 nanti," ujarnya.
Bagi Suwarno, dapat menyapa atau berbincang sejenak dengan bupati sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
Baca juga: Hari Pertama Kerja Usai Lebaran, Puluhan ASN Bondowoso WFA dan 4 Orang Bolos
Puluhan tahun bekerja membuat Suwarno sangat mengenal setiap sudut Pendopo Bondowoso. Ia juga kerap menjadi rujukan tamu yang ingin mengetahui berbagai cerita mengenai tempat tersebut.
Salah satunya tentang tradisi yang biasanya dilakukan sebelum bupati baru menempati pendopo. Dalam beberapa periode, tradisi tersebut berupa pembacaan Sholawat Burdah hingga pengajian selama 41 hari.
"Saya tidak tahu filosofi mendalamnya, tapi kami menyiapkan semua kebutuhan doa tersebut," jelasnya.
Baca juga: Kebakaran Ruko di Pasar Induk Bondowoso Diduga Akibat Korsleting
Pengalamannya bekerja di pendopo juga memberinya kesempatan bertemu langsung dengan Presiden Republik Indonesia tanpa harus berdesak-desakan dengan tamu lain.
Ia pernah menyiapkan kebutuhan kamar di pendopo saat Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Bondowoso.
Meski menjadi pengalaman yang membanggakan, Suwarno mengaku sempat diliputi rasa khawatir sepanjang malam.
"Takut ada yang kurang," kenangnya sambil tersenyum, mengaku saat itu tidak sempat berfoto dengan presiden.
Di balik pengabdiannya, Suwarno juga mengakui ada konsekuensi yang harus dijalani, yaitu berkurangnya waktu bersama keluarga. Tidak jarang ia harus bertugas mendadak bahkan pada malam hari.
Meski demikian, istri dan kedua anaknya selalu memberikan dukungan penuh.
Dua tahun lagi, tepatnya pada 2027, Suwarno akan memasuki masa purna tugas. Baginya, melayani para pemimpin daerah adalah cara sederhana namun nyata untuk ikut berkontribusi membangun Bondowoso.