Oleh : Muhammad Arsyad
Guru Besar Fisika Ekosistem Karst FMIPA UNM Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Tahun 1993 pada saat Kongres Internaional Union of Speology di Beijing, secara aklamasi peserta kongres memutuskan untuk merekomendasikan kawasan karst Indonesia sebagai situs warisan dunia (world heritage site) kepada Pemerintah Indonesia, termasuk kawasan karst Maros Pangkep TN Babul di Sulawesi Selatan.
Tulisan ini mencoba menelaah lebih jauh lagi tentang kawasan karst sekaligus untuk memperingati 28 Maret yang telah ditetapkan sebagai hari Karst Nasional.
Penulis ingin mengajak para pembaca untuk menelusuri karst Maros Pangkep yang mempunyai potensi sumberdaya alam dan potensi lainnya.
Secara ekologis kawasan karst memiliki keterkaitan dengan kawasan lain serta memiliki sumberdaya alam baik yang dapat diperbaharui (renewable) maupun yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable) yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Sumberdaya tersebut dikemukakan seperti berikut.
1. Sumber daya Air Bawah Tanah dan Air Permukaan
Kawasan karst pada umumnya adalah tandon air. Mediumnya sangat lentur bagaikan spons, sehingga pada musim penghujan menyerap air dan mengeluarkan air sedikit demi sedikit pada musim kemarau.
Hanya karena mediumnya heterogen dalam artian, terdapat kubangan yang terputus satu sama lain, sehingga koneksi antar kubangan perlu dipetakan.
Sungai bawah tanah di kawasan karst memiliki karakteristik unik karena terbentuk dari proses pelarutan batuan kapur (kalsium karbonat) oleh air.
Beberapa karakteristik sungai bawah tanah di kawasan karst:
(1) aliran air yang tidak stabil, karena air dapat mengalir melalui celah-celah batuan kapur yang tidak teratur.
(2) terbentuk dari proses pelarutan, melibatkan batuan kapur dan air, sehingga memiliki bentuk yang unik dan kompleks.
(3) tidak memiliki saluran air yang jelas, karena air dapat mengalir melalui celah-celah batuan kapur yang tidak teratur.
(4) kualitas air yang baik, karena air telah melalui proses filtrasi alami melalui batuan kapur.
Sungai bawah tanah di kawasan karst Maros Pangkep diantaranya sungai Leang Lonrong di Balocci Pangkep, sungai Goa Leang Tedongnge, Sistem Gua Salukang Kallang, ini adalah salah satu sistem gua yang paling terkenal dan terpanjang di Maros-Pangkep.
Gua Sumur Labbiri mempunyai sumur vertikal yang dalam dan terhubung dengan sistem sungai bawah tanah, dan Sistem Gua Leang-Leang, meskipun lebih terkenal dengan situs prasejarahnya, kompleks gua Leang-Leang juga memiliki potensi sistem hidrologi bawah tanah.
Studi yang dilakukan oleh penulis sejak tahun 2002 sampai sekarang memperlihatkan adanya ketersediaan airtanah di kawasan karst ini dengan potensi sumber air yang baik berkisar antara 4,03-45,1 ohm-meter.
Litologi batuan tersusun dari material tidak padu, padu sampai kompak dan keras. Material tidak padu berupa; pasir, pasir lempungan, lanau, lempung pasiran.
Sedang material padu, kompak dan keras, batu pasir tufaan, batulanau, batulempung, konglomerat, batugamping pasiran, napal tufa halus-lapilli dan batugamping terumbu, serta batuan terobosan basalt dan andesit yang kesemuanya merupakan media di mana air (akuifer) berada .
2. Sumber daya Gua dan Ornamennya
Sedikitnya terdapat 440 gua alam yang teridentifikasi di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung termasuk diantaranya merupakan gua terdalam dan terpanjang di Indonesia dan 49 gua prasejarah yang memiliki nilai arkeologi yang tinggi.
Gua adalah sebuah ruang atau rongga alami yang terbentuk di dalam tanah atau batuan, biasanya memiliki ukuran yang cukup besar untuk dimasuki oleh manusia.
Gua sejatinya terjadi karena proses alami melalui proses geologi seperti erosi, pelarutan batuan, atau aktivitas vulkanik lainnya.
Gua di Kawasan Karst Maros Pangkep ada yang vertikal, seperti Gua Salukang Kallang, sedangkan horisontal seperti Gua Mimpi di Bantimurung.
Gua kadang mempunyai kedalaman atau panjang beberapa kilometer seperti Gua Leang Londrong di Balocci Pangkep dan ada yang cukup pendek, seperti Gua Batu di Bantimurung dan beberapa gua yang ada di sekitaran Taman Purbakala Leang-Leang Maros.
Dalam keadaan tertentu gua yang basah menunjukkan terdapatnya aliran air sungai bawah tanah dan ada yang kering. Jadi, gua berkaitan erat dengan keberadaan sungai bawah tanah.
Gua memiliki keindahan alam yang unik karena mempunyai ornamen yang sangat indah.
Stalaktit, stalakmit, pilar dan lainnya mempunyai tekstur, warna dan ukuran-ukuran butir yang bisa dijadikan indikasi apakah gua itu masih berproses atau sudah menjadi gua mati.
Selain itu, gua juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting, karena sering digunakan sebagai tempat tinggal atau ritual oleh masyarakat. Hal ini dapat dijumpai pada artefak yang ada dalam gua, atau hiasan pada dinding gua.
Penelitian yang berkaitan dengan gua sangat menarik bagi ilmuwan, karena ornamen gua dapat dijadikan sebagai indikasi perubahan iklim.
Sedangkan artefak lainnya sebagai petunjuk peradaban manusia di masa lalu.
Penelitian yang berkaitan dengan gua dapat meliputi berbagai bidang, seperti:
(1) geologi, terutama proses pembentukan gua, struktur batuan, dan evolusi geologi.
(2) biologi terutama keanekaragaman hayati di gua, termasuk spesies unik dan adaptasi mereka.
(3) arkeologi, terutama tentang sejarah manusia dan budaya di gua, termasuk penemuan artefak dan fosil.
(4) hidrologi, tentang aliran air di gua, termasuk sumber air dan kualitas air.
(5) ekologi, tentang ekosistem gua, termasuk interaksi antara organisme dan lingkungan, dan lainnya
3. Sumber daya Mineral
Kawasan Karst Maros Pangkep seperti yang telah terungkap di atas, dapat dikelompokkan pada dua kawasan utama, yakni kawasan karst non tambang dan daerah bekas tambang.
Kawasan karst selalu diasosiasikan dengan ciri khas warna yang kemerah-merahan dan tanah liat.
Ciri khas ini menunjukkan, bahwa kawasan karst banyak mengandung mineral yang berasal dari unsur-unsur pengiring unsur induk yang mengalami metamorphosis dalam pembentukannya.
Proses pembentukannya bergantung kepada sumber sekitar dengan perbedaan dalam mode transportasi dan dalam kondisi pengendapan.
Proses pengendapan mengakibatkan terjadinya proses perlapisan atau proses sedimentasi yang pada gilirannya akan membentuk batuan sedimen.
Batuan sedimen diklasifikasikan menjadi tiga kelompok utama berdasarkan asal-usul komponen utama, yaitu klastik, biogenik, dan kimia.
Mineral adalah zat padat alami yang terbentuk melalui proses geologi, memiliki komposisi kimia yang spesifik, dan struktur kristal yang teratur.
Mineral dominan di kawasan karst adalah kalsit (CaCO3) dan dolomit (CaMg(CO3)2). Kalsit adalah mineral yang paling umum ditemukan di kawasan karst, karena terbentuk dari proses pelarutan batuan kapur (kalsium karbonat) oleh air.
Proses pelarutan batuan kapur oleh air dapat membentuk struktur karst yang unik, seperti gua, stalaktit, dan stalagmit.
Selain kalsit dan dolomit, mineral lain yang dapat ditemukan di kawasan karst adalah gips (CaSO4·2H2O) dan kuarsa (SiO2).
Sejatinya mineral memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, sebagai bahan baku industri, seperti logam, keramik, dan kaca.
Mineral sebagai sumber nutrisi bagi tanaman dan hewan, dan sebagai komponen penting dalam tubuh manusia, seperti kalsium dan fosfor. Akbatnya mineral mempunyai nilai ekonomi strategis untuk pembangunan berkelanjutan.
4. Biodiversity dan turunannya
Kawasan Karst Maros Pangkep sebagai tandon raksasa dengan keanekaragaman hayati yang unik sedari dulu menjadi perhatian utama.
Top of Form Alfred Russel Wallace (1823-1913) seorang Inggris yang tiba di Makassar sekitar tahun 1856 dan tahun 1857 melanjutkan perjalanannya ke Maros dan Bantimurung memperoleh beraneka ragam kupu-kupu yang endemik.
Bantimurung dijulukinya dengan Kingdom of Butterflies (kerajaaan kupu-kupu) karena keanekaragaman tinggi yang dijumpainya.
Wallace membuktikan terjadinya seleksi alam. Kupu-kupu hanya bisa bertumbuh kembang pada lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kupu-kupu membutuhkan nutrisi, kelembapan, dan temperatur yang sesuai ( ≥ 32 °C sudah tidak disukai). Hal lain yang diperlukan adalah:
(1) lingkungan harus memiliki dua jenis tanaman utama yakni tanaman inang (host plants) dan tanaman pakan (nectar plants).
(2) kondisi iklim dan cahaya dengan sinar matahari yang cukup, kelembapan optimal, berkisar antara 84-92 persen, dan curah hujan sedang sekitar 2.000–4.000 mm/tahun dianggap ideal, namun hujan yang terlalu ekstrem dapat menyebabkan kematian pada tahap larva dan pupa.
(3) struktur fisik lingkungan, seperti pelindung angin, area berjemur, dan tersedianya mineral dan air.
(4) bebas dari polusi kimia.
Penulis hanya mengambil contoh ketersediaan kupu-kupu di kawasan bantimurung dan sekitarnya.
Terlihat dari penjelasan ini, sejatinya syarat perlu untuk tumbuh kembangnya sp. kupu-kupu di satu kawasan, seperti yang dinikmati generasi sekarang.
Beberapa syarat tersebut, cukup menjadi evidence yang memerlihatkan kayanya biodiversity kawasan karst. Jika bahasan ini dioverlay dengan kekayaan sebelumnya, maka kawasan karst mempunyai bioversity dan turunannya.
5. Cadangan Karbon untuk Perubahan Iklim
Penelitian terkini terhadap cadangan karbon yang dimiliki kawasan karst Maros Pangkep menunjukkan data signifikan. Cadangan karbon dihitung berdasarkan catatan Carbon accounting.
Carbon accounting adalah perhitungan cadangan karbon yang tersimpan di dalam hutan. Perhitungan karbon ini dilakukan melalui pengukuran langsung di lapangan (Ground Based forest carbon Accounting).
Jumlah karbon yang dihitung mengikuti standar SNI 7724: 2011 dimana kandungan karbon diperkirakan sebesar 47?ri biomassa.
Cadangan karbon Kawasan Karst Maros Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sebesar 223,366 tonC/ha, dengan luas wilayah 9.610,71 ha cadangan karbon total sebesar 2.146.705,850 tonC.
Dinamika serapan karbon organik berbasis biomassa sebesar 3,916 tCO₂e/ha/tahun menunjukkan bahwa Kawasan Karst Maros Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki kemampuan serapan karbon signifikan.
Dinamika serapan karbon anorganik berbasis karstifikasi sebesar 10,266 tCO2e/ha/tahun menunjukkan peran penting mekanisme geokimia karst dalam menyerap karbon di atmosfer.
Nilai ini dihasilkan oleh sistem hidrologi karst Sub-DAS Bantimurung dengan debit air rata-rata 7.653,543 L/s dan konsentrasi ion bikarbonat terlarut rata-rata 244,971 mg/L.
Dengan luas wilayah 2.077 ha, total serapan karbon tahunan melalui proses karstifikasi mencapai 21.322,482 tCO₂e/tahun.
Saat ini telah teridentifikasi sedikitnya 803 jenis tumbuhan yang terdiri 122 family yang terus menghasilkan serapan karbon dan dibutuhkan penelitian mendalam lagi di kawasan karst Maros Pangkep.
Angka serapan karbon ini mempunyai peranan urgen dalam mengantisipasi perubahan iklim dan mitigasinya di masa depan.
Sejatinya, dari apa yang dikemukakan di atas, maka sumber daya dapat digunakan di sektor:
(1) pertanian terutama sumber daya air yang berkelanjutan memerlukan kegiatan penelitian untuk mengestimasi ketersediaan air sungai bawah tanah dan pemanfaatannya yang berkelanjutan di Kawasan Karst Maros, untuk memastikan sumber daya ini dapat terus dimanfaatkan tanpa merusak ekosistem.
(2) pariwisata, meskipun tidak secara langsung memanfaatkan airnya, keberadaan sungai bawah tanah seringkali menjadi daya tarik wisata di dalam gua.
Kawasan seperti Rammang-Rammang, yang memiliki sistem gua dan aliran air, menjadi destinasi wisata alam yang populer.
(3) PDAM, air dari sungai bawah tanah di Kawasan Karst Maros dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Maros. Ini menunjukkan peran vitalnya dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. dan \
(4) penelitian untuk pengembangan sains dan teknologi.
Dari apa yang dikemukakan penulis di atas, maka pembangunan merupakan proses pengelolaan sumberdaya alam dan pendayagunaan sumberdaya manusia dengan memanfaatkan teknologi adalah suatu keniscayaan.
Pola pembangunan yang mengolah sumberdaya alam dan mendayagunakan sumberdaya manusia untuk pemanfaatan teknologi penting untuk kelestarian lingkungan.
Fungsi sumberdaya alam, termasuk sumberdaya alam karst, dan sumberdaya manusia dapat terus menerus menunjang proses pembangunan, sehingga pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan.