Iran Tolak Gencatan Senjata, Menlu AS Sebut Perang Segera Berakhir, Yakin Tujuan Militer Tercapai
Listusista Anggeng Rasmi March 28, 2026 09:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengungkapkan perang akan berakhir dalam hitungan minggu.

Ia memproyeksikan bahwa operasi militer terhadap Iran segera rampung, bukan dalam hitungan bulan.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio menjelaskan kemungkinan tersebut usai pertemuan tingkat menteri luar negeri G7 di Prancis pada hari Jumat (27/3/2026).

Rubio menegaskan bahwa Washington optimistis dapat mencapai seluruh target strategisnya.

Menurut keyakinannya, target tercapai tanpa perlu melancarkan invasi darat berskala besar. 

Melalui keterangannya kepada pers usai pertemuan Paris tersebut, Rubio menyatakan bahwa operasi militer di Iran sudah berjalan sesuai jadwal.

Bahkan menurutnya lebih cepat dari rencana semula.

Dikutip dari Reuters, Rubio menyampaikan bahwa Washington berharap dapat menyelesaikan operasi di Iran dalam kurun waktu hitungan minggu, bukan bulan.

Baca juga: Mengejutkan! Trump Ungkap Iran Izinkan 10 Kapal Minyak sebagai ‘Hadiah’ untuk AS, Sinyal Damai?

 

RUDAL IRAN - Penampakan rudal Khorramshahr-4 Khaibar missile milik Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kembali memperlihatkan kemampuan militernya di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. IRGC menyatakan bahwa serangan selanjutnya terhadap Israel akan menggunakan rudal balistik dengan hulu ledak seberat sekitar satu ton, terhitung mulai 10 Maret 2026.
RUDAL IRAN - Penampakan rudal Khorramshahr-4 Khaibar missile milik Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kembali memperlihatkan kemampuan militernya di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. IRGC menyatakan bahwa serangan selanjutnya terhadap Israel akan menggunakan rudal balistik dengan hulu ledak seberat sekitar satu ton, terhitung mulai 10 Maret 2026. (Dok./Wartakota)
RUDAL IRAN - Penampakan rudal Khorramshahr-4 Khaibar missile milik Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kembali memperlihatkan kemampuan militernya di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. IRGC menyatakan bahwa serangan selanjutnya terhadap Israel akan menggunakan rudal balistik dengan hulu ledak seberat sekitar satu ton, terhitung mulai 10 Maret 2026.
RUDAL IRAN - Penampakan rudal Khorramshahr-4 Khaibar missile milik Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kembali memperlihatkan kemampuan militernya di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. IRGC menyatakan bahwa serangan selanjutnya terhadap Israel akan menggunakan rudal balistik dengan hulu ledak seberat sekitar satu ton, terhitung mulai 10 Maret 2026. (Dok./Wartakota)

Meskipun Rubio meyakini tujuan militer dapat tercapai melalui serangan udara dan presisi jarak jauh, ia mengakui adanya pengerahan personel militer langsung ke kawasan Timur Tengah. 

Langkah ini diambil guna memberikan fleksibilitas maksimal bagi Presiden Donald Trump dalam menghadapi berbagai kemungkinan skenario di lapangan.

Saat ini, Washington telah mengirimkan dua kontingen yang terdiri atas ribuan personel Marinir.

Gelombang pertama dijadwalkan tiba pada akhir Maret dengan menggunakan kapal serbu amfibi raksasa, sementara Pentagon juga diperkirakan akan menerjunkan ribuan prajurit lintas udara elite.

Pengerahan ini memicu kekhawatiran global bahwa konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu melalui serangan udara Amerika Serikat dan Israel akan berubah menjadi perang darat yang berkepanjangan.

Respons Iran yang menyerang target Amerika Serikat, Israel, serta fasilitas sipil di negara-negara Teluk telah mengganggu jalur perdagangan komoditas dan energi dunia secara drastis.

Gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi sekitar dua puluh persen pasokan minyak dunia, juga telah memicu lonjakan harga yang signifikan dan ancaman resesi global.

Jika harga minyak mentah melonjak sebesar 10 Dolar AS atau setara dengan kurang lebih 158.500 Rupiah per barel, dampaknya akan langsung terasa pada biaya produksi industri dan inflasi di seluruh dunia.

Sementara itu, dari segi korban jiwa, Maria Martinez dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah melaporkan bahwa lebih dari 1.900 jiwa telah melayang dan sedikitnya 20.000 orang mengalami luka-luka di Iran.

Di tengah upaya Presiden Trump yang tampak ingin segera mengakhiri perangyang tidak populer ini, eskalasi justru terus meningkat.

Sejumlah media Iran melaporkan bahwa aliansi AS-Israel kembali melancarkan serangan terbaru yang kini menyasar reaktor riset nuklir air berat dan pabrik pengolahan yellowcake atau uranium pekat pada Jumat malam.

Baca juga: Brutal! Donald Trump Ingin Ambil Alih Minyak Iran, Pamer Keberhasilan Amerika Serikat di Venezuela

PERANG IRAN AS - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bersumpah akan tenggelamkan armada Iran jika berani hadang di Selat Hormuz.
PERANG IRAN AS - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bersumpah akan tenggelamkan armada Iran jika berani hadang di Selat Hormuz. (Dok./Truth Social)

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam keras serangan tersebut melalui media sosial dan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap tenggat diplomasi yang ditawarkan Amerika Serikat.

Araqchi menegaskan bahwa serangan tersebut bertentangan dengan perpanjangan tenggat waktu diplomasi oleh POTUS atau Presiden Amerika Serikat, dan Iran akan menuntut harga yang mahal atas kejahatan Israel.

Pihak Teheran saat ini dilaporkan sedang mempertimbangkan lima belas poin proposal perdamaian yang dikirimkan Amerika Serikat melalui Pakistan dua hari lalu.

Proposal tersebut dikabarkan mencakup tuntutan yang sangat berat, mulai dari pembongkaran program nuklir dan rudal Iran hingga penyerahan kendali atas rute perdagangan energi paling penting di dunia.

Namun, seorang pejabat senior Iranmenyatakan kepada Reuters bahwa melakukan serangan berkelanjutan di saat Amerika Serikat sedang mengupayakan pembicaraan diplomasi adalah hal yang tidak dapat ditoleransi.

Sementara itu, konflik ini juga telah merembet ke Lebanon, di mana serangan balasan Israel terhadap kelompok Hizbullah telah menyebabkan seperlima penduduk Lebanon terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.

(Tribunnewsmaker.com/ Tribunnews.com/Bobby)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.