Atasi Gangguan Air di Kawasan Denbar, PDAM Usulkan Penambahan Booster dan Reservoar ke Pemprov Bali
Putu Dewi Adi Damayanthi March 28, 2026 10:34 AM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setelah rencana Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) ditunda, Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma atau PDAM Kota Denpasar akan fokus pada penataan jaringan perpipaan serta optimalisasi pasokan air baku.

Salah satunya terkait dengan permasalahan aliran air di kawasan Denpasar Barat.

Direktur Utama Perumda Tirta Sewakadarma, I Putu Yasa menjelaskan, langkah yang diambil saat ini meniru pola penanganan yang sebelumnya dilakukan pihak K-Water dari Korea, yakni dengan melakukan penataan dan penggantian pipa di sejumlah wilayah.

Dan di tahun 2026 ini, pihaknya fokus pada wilayah dengan aliran air kecil dan pipa-pipa yang sudah berumur.

Baca juga: METERAN Air Kerap Hilang & Krisis Air di Pecatu,  Made Sumerta Desak Progres Nyata PDAM Badung

Selain pembenahan jaringan di hilir, upaya peningkatan produksi air juga menjadi prioritas utama.

Harapan besar kini bergantung pada kerja sama pengaliran air dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Penet dan Petanu yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Bali.

Menurut Putu Yasa, kapasitas suplai dari SPAM Penet yang disepakati dalam nota kesepahaman (MoU) sebesar 150 liter per detik.

Namun untuk saat ini baru terealisasi sekitar 40-50 liter per detik.

Kondisi ini berdampak pada seringnya gangguan layanan di sejumlah wilayah Denpasar Barat, seperti Padangsambian, Pemecutan Kelod, Tegal Kerta, dan Tegal Harum.

"Kalau suplai dari Penet bisa ditingkatkan, gangguan air di wilayah tersebut bisa diminimalisir," katanya, Sabtu 28 Maret 2026.

Untuk mengatasi kendala tersebut, pihaknya telah mengajukan sejumlah usulan kepada Pemerintah Provinsi Bali.

Di antaranya penambahan booster (pompa peningkat tekanan) di wilayah Kerobokan untuk meningkatkan tekanan air yang saat ini baru mencapai 1,8-2 bar, dari kebutuhan ideal sebesar 3-3,5 bar.

Selain itu, pihaknya juga mengusulkan pembangunan reservoir di kawasan tertentu sebagai penampung air saat suplai melemah.

Menurut Putu Yasa, agar distribusi normal di wilayah-wilayah rawan gangguan, pihaknya membutuhkan pasokan sekitar 100-125 liter per detik dari Penet.

Sementara itu, untuk menutupi kekurangan suplai, pihaknya masih mengandalkan bantuan distribusi dari sumber lain seperti Belusung.

Namun, bantuan tersebut belum optimal karena keterbatasan jangkauan dan berpotensi mengganggu distribusi di wilayah hulu. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.