Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Suasana keceriaan masih terasa di sejumlah desa di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), meskipun perayaan Idulfitri telah berlalu seminggu yang lalu.
Salah satunya di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, merayakan tradisi turun-temurun, Lebaran Topat atau Lebaran Ketupat, pada Sabtu (28/3/2026).
Uniknya, perayaan Lebaran Topat di desa ini justru identik dengan kemeriahan yang dipusatkan pada anak-anak, sehingga tak jarang masyarakat setempat menyebutnya sebagai "Lebaran Anak-anak".
Berbeda dengan suasana Idulfitri yang lebih khidmat dan berfokus pada silaturahmi orang dewasa, Lebaran Topat di Lombok Timur menghadirkan nuansa yang lebih meriah dan cair, terutama di kalangan anak-anak.
Sejak pagi hari, jalanan dan towa masjid dan musala ramai dengan takbiran di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, hingga gang-gang dipadati dengan anak-anak yang mengenakan pakaian terbaiknya sambil mengikuti dulang yang berisi makanan dari aneka buah, opor telur dan ayam (pelalah) yang menjadi pasangan topat yang hendak dihidangkan.
"Kalau Idulfitri dulu, anak-anak ikut orang tua ke rumah sanak saudara. Nah, kalau Lebaran Topat ini, mereka yang jadi bintang utama. Mereka punya peran penting untuk menghidangkan makanan, anak-anak kita panggil melalui towa masjid dan tradisi ini setiap tahun kami lakukan," kata Amaq Asbi tokoh adat dan juga penjaga masjid Pusaka di desa itu.
Amaq Asbi menjelaskan, makna tradisi Lebaran Topat sendiri merupakan bentuk mengenang anak-anak yang sudah meninggal dunia, dalam perayaan tersebut setiap keluarga mempersiapkan Topat Telok (Topat Telur) yang harus ada disetiap dulang atau hidangan yang dibawa ke masjid.
"Selain untuk mengumpulkan anak-anak dan cucu kami, Lebaran Topat ini juga cara kami mengenang arwah anak-anak yang sudah meninggal di dalam keluarga itu, jadi jumlah Topat Telok itu tergantung banyak anak yang hidup maupun yang sudah meninggal," jelasnya.
Tradisi tahunan ini jatuh pada setiap tanggal 8 Syawal. Momen ini merupakan bentuk syukur masyarakat atas nikmat dan berkah setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan dan puasa sunah Syawal.
Simbol ketupat yang terbuat dari anyaman janur memiliki filosofi yang mendalam. Anyaman janur melambangkan kompleksitas masalah, sementara isi ketupat yang putih bersih melambangkan kesucian hati setelah saling memaafkan.
Bagi masyarakat Lombok Timur, tradisi ini juga menjadi ajang mempererat tali persaudaraan (silaturahmi) yang lebih luas, tidak terbatas pada keluarga inti. Rumah-rumah terbuka lebar bagi siapa saja yang datang untuk menikmati ketupat yang disajikan dengan pelalah.
"Maknanya ini agar hubungan antara sesama masyarakat dan anak-anak juga erat dengan beryaan atau makan bersama di satu tempat," tuturnya.
Baca juga: Dapur Warga Lombok Timur Mengepul Sambut Lebaran Topat
Di balik kemeriahan Lebaran Anak-anak ini, para tetua adat berharap agar generasi muda tetap menjaga makna esensial dari tradisi tersebut, juga memperkenalkan tempat ibadah orang muslim.
"Kami senang melihat anak-anak gembira. Ini cara kami mengenalkan mereka pada nilai-nilai budaya leluhur juga memperkenalkan tempat ibadah. Jangan sampai mereka kehilangan identitas di tengah gempuran budaya modern. Lebaran Topat adalah warisan yang harus terus dijaga," pungkasnya.
Dengan tetap lestari nya tradisi ini, Lombok Timur menunjukkan bahwa kebudayaan lokal mampu beradaptasi dan terus diwariskan, menjadikan momen Lebaran Topat tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai ruang tumbuh kembang anak dalam nilai-nilai sosial dan budaya yang kental.
(*)