Pemilik Roti Maros Ngaku Didiskriminasi, Tegurannya Keras ke Satu Toko Saja, Kasat Lantas Bantah
Ansar March 28, 2026 11:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Keluarga pemilik usaha Roti Maros Setia Kawan mengaku mengalami perlakuan tidak adil saat didatangi oknum aparat kepolisian.

Mereka menilai penindakan yang dilakukan cenderung diskriminatif karena hanya menyasar satu toko, padahal kondisi serupa juga terjadi di lokasi lain.

Anak menantu owner, Hardi Arfandy, mengungkapkan kekecewaannya atas sikap Kasat Lantas Polres Maros, AKP Muhammad Arafah, yang dinilai datang dengan emosi, bukan solusi.

Menurutnya, saat kejadian ia tidak berada di tempat.

Oknum perwira tersebut justru meluapkan kemarahan kepada mertuanya yang sedang menjaga toko.

Sudah tiga kali Arfah disebut datangi toko tersebut.

“Datang langsung marah-marah. Padahal saya tidak ada. Yang ditemui orang tua di rumah. Alasannya karena kendaraan yang singgah dianggap bikin macet,” kata Hardi.

Hardi menilai tudingan itu tidak objektif.

Ia menyebut banyak kendaraan juga berhenti di titik lain, namun hanya tokonya yang mendapat teguran keras.

“Kami merasa diperlakukan berbeda. Banyak tempat lain juga sama, tapi kenapa hanya kami yang ditegur seperti ini,” ujarnya.

Ia menilai cara penyampaian aparat tersebut tidak mencerminkan sikap profesional seorang perwira.

“Seharusnya bisa disampaikan dengan baik, bukan dengan emosi,” tambahnya.

Tak hanya itu, Hardi juga menyoroti ucapan oknum tersebut yang dianggap meremehkan jika persoalan ini dilaporkan ke atasan.

Menurutnya, pernyataan itu disampaikan langsung kepada mertuanya saat kejadian.

“Dibilang silakan lapor ke Kapolda, tidak takut. Katanya paling cuma dipindahkan. Ini kan tidak pantas,” ungkapnya.

Hardi menyebut kejadian serupa bukan pertama kali terjadi.

Ia mengklaim sudah tiga kali mendapatkan perlakuan yang sama.

Namun, kali ini pihak keluarga memilih bersuara karena merasa sudah melewati batas kewajaran.

“Kami jadi bertanya-tanya, apakah ini murni penertiban atau ada kecenderungan tertentu,” katanya.

Atas peristiwa ini, pihak keluarga meminta Kapolda Sulsel, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, turun tangan.

Mereka mendesak adanya evaluasi terhadap kinerja Kasat Lantas Polres Maros agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami hanya ingin diperlakukan adil. Aparat harusnya memberi contoh, bukan membuat masyarakat merasa ditekan,” tutup Hardi.

Kasat Lantas Bantah Diskriminasi

Kasat Lantas Polres Maros, AKP Muhammad Arafah, membantah tudingan diskriminasi terhadap salah satu usaha roti di daerah tersebut.

Ia menegaskan, tindakannya murni sebagai bagian dari tugas menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait kemacetan.

“Saya tidak ada niat diskriminasi. Saya hanya menjalankan tugas karena ada keluhan soal macet,” ujarnya.

Arafah menjelaskan, saat itu ia memarkir mobil dinas di sudut area toko roti sebelum melakukan pengaturan arus lalu lintas.

Menurutnya, titik tersebut memang kerap menjadi sumber kemacetan kendaraan dari arah Maros.

Tak lama berselang, seorang juru parkir datang dan memintanya menggeser kendaraan dinas.

Namun, ia meminta waktu karena masih melakukan pengaturan lalu lintas.

“Saya bilang sebentar, selesai pengaturan baru saya geser,” katanya.

Beberapa saat kemudian, juru parkir kembali menyampaikan hal yang sama.

Setelah itu, Arafah mengaku mendatangi area toko dan memberikan imbauan terkait pola parkir.

Ia menyarankan agar kendaraan, khususnya bus, parkir dengan posisi serong agar tidak menghambat akses keluar masuk.

“Saya sampaikan kalau parkir serong, dua bus bisa masuk,” jelasnya.

Dalam situasi tersebut, Arafah melihat seseorang merekam menggunakan ponsel.

Ia kemudian mempertanyakan alasan dirinya direkam.

“Di situ saya juga ingatkan, kalau ada bus parkir melewati garis putih, pasti saya tindak,” tegasnya.

Ia mengaku sebelumnya sudah beberapa kali memberikan peringatan agar kendaraan dari arah Makassar tidak parkir hingga memakan badan jalan saat kondisi padat.

Menurutnya, parkir baru diperbolehkan saat malam hari, sekitar pukul 22.00 Wita, ketika arus lalu lintas mulai lengang.

“Kalau sudah sepi tidak masalah, karena tidak mengganggu,” ujarnya.

Setelah selesai, Arafah memindahkan mobil dinas ke area parkiran masjid.

Namun, saat hendak masuk, ia kembali mendapati bus berhenti di badan jalan.

Ia pun membunyikan klakson agar kendaraan tersebut segera bergerak.

“Setelah itu saya parkir, lalu jalan kaki ke minimarket beli air minum,” katanya.

Ia juga menyebut sempat membeli makanan untuk anak panti dalam kesempatan tersebut.

Arafah mengakui sempat meninggikan suara, namun hal itu ditujukan kepada pengemudi bus yang parkir sembarangan.

“Saya memang keras ke bus yang parkir di badan jalan,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat kembali dari minimarket, pemilik toko sempat menegurnya agar tidak marah-marah.

Namun, ia memilih tidak menanggapi dan langsung menuju masjid sambil tetap memantau arus lalu lintas.

“Saya diam saja dan lanjut memantau kondisi jalan,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.