Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) setiap tahunnya pada 8 Syawal akan melaksanakan lebaran topat atau ketupat. Sebuah tradisi yang turun temurun dilaksanakan pasca hari raya Idulfitri.
Namun seperti apa sebenarnya awal mula lebaran topat di Lombok?
Pemerhati Budaya, Sahnan alias Papuq Icunk menjelaskan bahwa lebaran topat ini merupakan lebaran adat masyarakat Sasak Lombok setelah satu bulan penuh berpuasa Ramadan dilanjutkan dengan tujuh hari puasa Syawal.
Ia mengatakan dalam tradisi lebaran topat ini masyarakat akan membuat ketupat dan berbagai makanan pendukungnya, mereka kemudian akan mengunjungi tempat-tempat wisata seperti pantai dan taman-taman bermain.
Termasuk mengunjungi makam para ulama yang dikeramatkan seperti di Makam Loang Baloq dan Makam Batu Layar. Biasanya masyarakat Sasak akan menikmati hidangan ketupat tersebut di sekitar makam atau tempat wisata.
"Jadi suku bangsa Sasak saat lebaran topat ini pelesiran, membawa menu topatnya melepas lelah setelah sebagai bentuk kesyukurannya kepada Allah Swt setelah melaksanakan puasa satu bulan dan puasa sunnah," kata Papuq Icunk.
Baca juga: Meriam Lodong Berukuran Jumbo Disita Jelang Lebaran Topat di Mataram
Papuq Icunk mencontohkan salah satu pelaksanaan yang meriah yang dilakukan masyarakat Lombok Barat, mereka akan memulainya dengan mengambil air dari Lingkoq Beleq (Sumur besar).
Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan nyangkar atau menziarahi makam ulama yang ada di Lombok Barat yakni di Makam Batulayar, mereka menggunakan kendaraan tradisional berupa cidomo dari Lingkoq Beleq tersebut.
Setelah menziarahi makam kegiatan dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan seremonial lebaran topat di Pantai Senggigi Lombok Barat yang dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah.
Kegiatan ditutup dengan parade gunungan Topat atau ketupat dan dilanjutkan dengan makan bersama di tepi pantai.
Papuq Icunk mengatakan tradisi Lebaran Topat ini tidak terlepas dari awal mula penyebaran Islam di tanah Lombok, oleh Wali Songo yakni Sunan Prapen oleh karena itu di Jawa juga dikenal dengan istilah Syawalan.
Lebaran Topat ini juga dikenal dengan istilah Lebaran Nine atau Lebaran Perempuan, sementara Lebaran Idul Fitrinya sebagai Lebaran Laki-Laki.
"Ini hanya istilah, sebagaimana makhluk di muka bumi ini yang terlahir berpasang-pasangan," ujar Papuq Icunk menjelaskan makna dari istilah tersebut.
Pada tahun 2026 ini Lebaran Topat jatuh pada, Sabtu (28/3/2026). Salah satu lokasi perayaan lebaran adat ini di Senggigi, Kabupaten Lombok Barat yang dihadiri langsung Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini.
Dalam perayaan ini tidak hanya menghadirkan hiburan bernuansa Islami tetapi juga menghadirkan beberapa hiburan seperti Barongsai, menjadi simbol kerukunan antar umat di tanah Lombok yang beragam ini.
Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini mengatakan pelaksanaan Lebaran Topat kedepannya harus semakin baik, harus dilakukan pembenahan sehingga bisa menggaet wisatawan untuk berkunjung ke Senggigi.
"Harus semakin baik, harus bisa memberikan dampak ekonomi itulah yang namanya hidup," kata Bupati yang akrab disapa Laz ini.
Melihat ramainya masyarakat yang datang ke wilayah Senggigi, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini sangat yakin tradisi ini memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
(*)