Jejak Karomah Habib Husein, Pedagang Skaligus Tabib yang Sempurnakan Islam di Ampenan
Idham Khalid March 28, 2026 02:22 PM

 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, KOTA MATARAM - Di balik riuhnya kawasan pesisir Ampenan, tepatnya di Kelurahan Bintaro, berdiri sebuah situs religi yang menjadi saksi bisu perjalanan dakwah Islam di Pulau Lombok. 

Situs tersebt yakni Makam Bintaro, merupakan tempat peristirahatan terakhir Habib Husein bin Umar Al Mashyur hingga kini terus didatangi ribuan peziarah dari berbagai penjuru Nusantara, seperti halnya pada perayaan Lebaran Ketupat, Jumat (28/3/2026).

Tribun Lombok mencoba menggali di balik sejarah makam yang telah ada dan menjadi pusat religi di Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.

Sejarah makam waliullah ini bermula pada pertengahan abad ke-19. Habib Husein bin Umar Al Mashyur meninggalkan tanah airnya di Hadramaut, Yaman, sekitar tahun 1850-an.

Sebelum menginjakkan kaki di Lombok pada tahun 1865, Habib yang dipercayai masyarakat sekita merupakan keturunan langsung baginda Nabi Muhammad SAW ini sempat menetap beberapa tahun di Malaysia untuk mensyiarkan agama Islam di sana.

Setibanya di Lombok, Habib Husein mendapati kondisi masyarakat yang masih butuh pendalaman tentang ajaran Islam.

Dia kemudian memulai dakwahnya dengan metode yang sangat personal. Menurut penuturan Salim bin Karamah Bahweres yang menjadi penjaga makam generasi ketujuh, Habib Husein berdakwah sambil berdagang skaligus menjadi tabib di tanah Ampenan.

“Mereka (Hanib Husein dan Muridnya) ini syiar dan dakwah dari pintu ke pintu atau door to door di Ampenan. Mereka ini adalah seorang pedagang dan dia pun seorang tabib juga,” ucap pria yang akrab disapa Abah Salim saat menjelaskan dedikasi sang ulama di Lombok.

Baca juga: Momen Wali Kota Mataram Tabuh Beduk pada Perayaan Lebaran Topat di Makam Bintaro

Salah satu sejarah yang paling diingat masyarakat adalah saat Habib Husein berhasil menyembuhkan putri dari penguasa Lombok saat itu, yakni Anak Agung.

Sang putri raja yang menderita sakit parah tak kunjung sembuh meski telah diobati berbagai dukun dan dokter, hingga akhirnya raja menggelar sayembara.

Habib Husein berhasil menyembuhkan sang putri atas izin Allah SWT. Namun, ketika ditawari hadiah untuk menikahi putri raja, Habib Husein  menolak dengan halus karena sudah memiliki istri. Alih-alih harta atau kekuasaan, Habib pada saat itu justru meminta sebidang tanah untuk pemakaman.

“Saya tidak minta dinikahkan. Saya minta tanah untuk pemakaman badan saya dan keluarga saya,” ujar Abah Salim menuturkan permintaan Habib Husein kala itu.

Raja pun memberikan lahan yang membentang dari pinggir jalan Makam Bintaro saat ini, hingga ke bibir pantai Bintaro 

Tanah pemberian raja tersebut kemudian dikukuhkan oleh Habib Husein sebagai lahan pemakaman bagi keluarganya dan warga keturunan Arab secara umum yang datang dan singgah di tanah Ampenan.

Habib berpesan bahwa siapa pun orang Arab yang ingin dimakamkan di sana, diperbolehkan.

Hingga kini, amanah tersebut tetap terjaga, di mana makam tersebut dikelola secara turun-temurun oleh keluarga dari Abah Salim sendiri.

Saat ini, Makam Bintaro telah menjadi destinasi wisata religi utama di Lombok. Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari lokal Ampenan, tetapi juga dari Kalimantan, Sulawesi, Jakarta, hingga Papua, bahkan juga datang dari luar negeri seperti Malaysia hingga tanah kelahirang sang ulama yakni di Yaman.

Keramaian memuncak terutama menjelang musim haji, di mana ribuan orang datang untuk berziarah.

Kepribadian Habib Husein yang ramah, sopan, dan bersih semasa hidupnya meninggalkan kesan mendalam yang terus diceritakan lintas generasi.

“Beliau (Habib Husei) ini adalah orangnya ramah, sopan, bersih, tidak mengenal itu lelaki itu perempuan, itu anak-anak maupun orang tua, dia selalu ramah,” pungkas Abah Salim mengenang sosok sang Waliullah ini.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.