Konflik Timur Tengah Picu Panic Buying di Sinjai: Antrean di SPBU, BBM Eceran Tembus Rp19 Ribu
Sudirman March 28, 2026 02:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, SINJAI— Konflik global di Timur Tengah berdampak terhadap pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

Sinjai berjarak sekitar 220 kilometer dari Kota Makassar.

Luas Kabupaten Sinjai 819,96 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 259.478 jiwa.

Analis Perdagangan Disperindag Sinjai, Burhanuddin, mengatakan situasi global turut memicu kepanikan di tengah masyarakat.

Ia menilai terjadi fenomena panic buying atau pembelian dalam jumlah besar oleh warga.

“Sepertinya terjadi panic buying akibat konflik di Timur Tengah, sehingga masyarakat berbondong-bondong ke SPBU untuk membeli BBM demi kebutuhan sehari-hari,” katanya kepada Tribun-Timur, (28/3/2026.

Baca juga: Kasihan! Sopir Mobil Rela Nginap di SPBU Alenangka Sinjai Demi Beli Pertalite

Lonjakan permintaan BBM juga dipicu oleh meningkatnya aktivitas masyarakat saat arus mudik dan arus balik Idulfitri.

“Selain itu permintaan juga meningkat saat arus mudik,” ujarnya. 

Tingginya permintaan tidak diimbangi dengan jumlah pasokan yang diterima SPBU.

Ia mencontohkan, ada SPBU yang mengajukan permintaan hingga 24 kiloliter (KL), namun hanya dipenuhi sebagian.

“Misalnya SPBU minta 24 KL, yang diberikan hanya 16 KL. Bahkan ada yang minta 16 KL, hanya dapat 8 KL akibatnya stok cepat habis,” katanya.

Burhanuddin memastikan distribusi BBM dari Pertamina tetap berjalan setiap hari.

Hanya saja, kuota penyaluran untuk masing-masing SPBU saat ini dibatasi.

“Penyaluran dari Pertamina masih lancar, tapi memang kuota yang diberikan ke setiap SPBU dibatasi,” katanya. 

Sebelumnya, Antrean panjang terjadi di SPBU 74.926.40 Balangnipa, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Sabtu (28/3/2026).

SPBU ini terletak di Jl Persatuan Raya, Kelurahan Balangnipa, Kecamatan Sinjai Utara. 

Pantauan Tribun-Timur, SPBU itu dipadati kendaraan roda dua dan roda empat sejak pagi.

Antrean kendaraan bahkan mengular hingga mendekati kawasan Tugu Bambu Sinjai.

Sejumlah warga memilih memarkir kendaraannya dan berteduh di bawah pohon akibat teriknya matahari saat menunggu giliran mengisi BBM.

Konsumen, Adi, mengaku harus mengantre cukup lama untuk mendapatkan bahan bakar.

“Sekitar dua jam saya antre baru bisa isi,” katanya kepada Tribun-Timur.

Konsumen lainnya, Sudi, mengatakan dirinya terpaksa ikut antre karena harga BBM eceran yang dinilai sangat mahal.

“Sangat mahal kalau beli BBM botolan,” ujarnya.

Ia menyebut harga BBM eceran saat ini mencapai Rp18 ribu hingga Rp19 ribu per botol.

Menurutnya, harga tersebut tidak masuk akal dan memberatkan masyarakat.

“Tidak masuk akal sekali harganya BBM botolan,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.