Opini: Artificial Intelligence sebagai Sarana Pewartaan Iman di Era Digital
Dion DB Putra March 28, 2026 07:38 PM

Oleh: Fladimir Sie
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di tengah derasnya arus revolusi digital, dunia hari ini tidak hanya berubah-ia berlari. 

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) hadir sebagai simbol kemajuan zaman yang mengubah cara manusia berpikir, bekerja, dan berkomunikasi. 

Namun, di balik kemajuan itu, muncul sebuah pertanyaan mendasar: di manakah tempat iman dalam dunia yang semakin dikuasai oleh teknologi? Lebih jauh lagi, dapatkah AI menjadi sarana pewartaan iman?

Pewartaan iman merupakan hakikat dari perutusan Gereja: menghadirkan kabar gembira di tengah dunia. 

Dalam sejarahnya, Gereja selalu menggunakan sarana-sarana yang tersedia pada zamannya. 

Baca juga: Opini: Dari Via Crucis Menuju Via Lucis

Dari tradisi lisan hingga media digital, semuanya dimanfaatkan untuk menyampaikan Injil. 

Dalam terang ini, AI tidak perlu dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana baru yang dapat memperluas jangkauan pewartaan iman.

Hari ini, AI memungkinkan umat untuk mengakses Kitab Suci, renungan, dan ajaran Gereja secara cepat dan praktis. 

Bagi kaum muda yang hidup dalam budaya digital, AI bahkan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal iman. 

Dalam konteks seperti Nusa Tenggara Timur, yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan tenaga pastoral, AI berpotensi menjadi sarana pendukung yang membantu umat untuk tetap belajar dan bertumbuh dalam iman.

Namun, justru di sinilah diperlukan kebijaksanaan. Iman Kristiani tidak pernah berhenti pada pengetahuan, tetapi berakar pada relasi personal dengan Allah yang hidup. 

AI dapat membantu manusia memahami iman, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman perjumpaan dengan Allah. 

Iman tidak lahir dari algoritma, melainkan dari pengalaman hidup, dari pergulatan batin, dan dari relasi yang nyata.

Bahaya yang mengintai adalah ketika iman direduksi menjadi sekadar informasi digital. 

Umat bisa saja mengetahui banyak hal tentang iman, tetapi tidak sungguh menghidupinya. 

Budaya instan yang melekat dalam teknologi berisiko melahirkan iman yang dangkal-cepat diketahui, tetapi tidak mendalam.

Selain itu, ketergantungan yang berlebihan pada AI juga dapat melemahkan dimensi komunitas dalam kehidupan beriman. 

Dalam tradisi Gereja, iman selalu dihidupi dalam kebersamaan: dalam liturgi, dalam persekutuan, dan dalam pelayanan. 

Kehangatan relasi manusiawi tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. 

AI tidak bisa menggantikan perjumpaan nyata yang menjadi inti kehidupan iman.

Oleh karena itu, AI harus ditempatkan secara tepat: sebagai sarana, bukan tujuan. Teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya. 

Gereja dipanggil untuk bersikap terbuka terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap kritis dan berakar pada nilai-nilai Injil.

Pewartaan iman di era digital menuntut keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kedalaman spiritual. 

AI dapat membantu manusia berbicara tentang Allah, tetapi tidak pernah dapat menggantikan pengalaman berjumpa dengan Allah. 

Di sinilah tantangan sekaligus harapan: bagaimana menjadikan teknologi sebagai sarana yang sungguh memanusiakan manusia dan membawa mereka semakin dekat kepada Tuhan.

Pada akhirnya, AI bukanlah ancaman bagi iman, melainkan peluang. Namun, peluang itu hanya akan bermakna jika digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab. 

Di tengah dunia yang terus berubah, pewartaan iman dituntut untuk tetap relevan tanpa kehilangan kedalamannya. Dan dalam proses itu, AI dapat menjadi sarana yang membantu Gereja menjangkau lebih banyak orang, tanpa kehilangan makna sejati dari iman itu sendiri. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.