TRIBUNFLORES.COM- Mari simak renungan harian Katolik pekan Prapaskah Kelima, Sabtu, 28 Maret 2026.
Tema renungan harian Katolik " Kamu tidak insaf”
Renungan harian Katolik untuk hari Sabtu Pekan V Prapaskah, Santo Doroteus dari Gaza, Pengaku Iman, dengan warna liturgi ungu.
Dalam perjalanan Prapaskah, Gereja sering mengajak kita meninjau ulang hati kita: apakah kita bertobat atau justru mengeras. Bacaan pada Sabtu, 28 Maret 2026 memperlihatkan sikap “tidak insaf” dari pihak tertentu, mereka tidak mau melihat tanda-tanda Allah.
Namun Allah tetap berkarya, bahkan ketika manusia menutup mata. Tema “Kamu tidak insaf” mengundang kita untuk membaca peristiwa hidup dengan mata iman: apa yang Tuhan sampaikan lewat kenyataan yang terjadi, dan bagaimana kita meresponsnya.
Baca juga: Renungan Katolik Minggu Palma 29 Maret 2026, Kasih di Salib
Saudara-saudari terkasih
Dalam bacaan ini (Yeh. 37:21-28), Nabi Yehezkiel menubuatkan bahwa Allah akan mengambil dua bagian bangsa (yang terpecah) dan menyatukannya menjadi satu. Allah tidak hanya memulihkan keadaan luar, tetapi juga menempatkan Raja-Nya di tengah umat: tempat kudus Tuhan akan ada di antara mereka.
Intinya, Allah datang memulihkan perpecahan agar umat mengalami kehadiran-Nya: “Aku akan menjadi Allah mereka… mereka menjadi umat-Ku.” Dalam Injil (Yoh 11:45-56), setelah Yesus membangkitkan Lazarus, banyak orang menjadi percaya, tetapi sebagian lain pergi kepada para pemimpin untuk melaporkan peristiwa itu.
Dari sisi pemimpin, reaksi mereka bukan terutama bertobat, melainkan mencari cara menyingkirkan Yesus. Ketika iman seharusnya tumbuh, yang terjadi justru ketakutan dan perhitungan politik hingga mereka merencanakan menangkap Yesus.
Perikop ini menyingkap tragedi iman: kebenaran bisa terlihat, tetapi tidak diinsafi karena hati lebih sibuk melindungi kepentingan sendiri. Maka refleksi kita adalah “Tanda Allah tidak otomatis menjadi iman”. Dalam hidup kita, pernahkah kita melihat “tanda” kebaikan atau campur tangan Tuhan, tetapi tetap menutup hati karena takut, gengsi, atau merasa tidak cocok dengan rencana kita? Apa yang perlu kita ubah agar kita sungguh “menginsafinya”? “Ketakutan dapat mengeraskan hati”: Para pemimpin menjadi gelisah: “bagaimana kalau semuanya menjadi kacau?” Ketakutan membuat mereka tidak melihat karya Allah.
Renungkan: hal apa yang sedang membuat kita takut berubah takut kehilangan relasi, status, kenyamanan, atau kendali? Apakah kita mau menyerahkan ketakutan itu kepada Tuhan? Pertobatan berarti berubah menuju kehendak Allah”: Yehezkiel menubuatkan penyatuan umat karena Allah menaruh hadirat-Nya di tengah mereka.
Dalam Injil, sebaliknya, perpecahan makin besar karena keputusan yang salah arah. Renungkan: di komunitas atau keluarga kita, ketegangan atau perpecahan apa yang memerlukan “penyatuan” dari Tuhan? Langkah nyata apa yang dapat kita lakukan untuk merawat damai?
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, semoga Prapaskah ini membuat kita tidak jatuh pada sikap “tidak insaf”. Kedua, Tuhan tetap bekerja, tetap memanggil, dan tetap memberi tanda keselamatan namun kita dipanggil untuk membuka hati, mengakui kebenaran, dan bertobat. Ketiga, marilah kita memohon rahmat agar kita mampu melihat karya Allah dan menanggapinya dengan iman yang jernih.
Tuhan memberkati kita semua.
Oleh Br. Pio Hayon, SVD