Menteri Abdul Mu'ti Titip Pesan Moderasi Beragama di Syawalan Muhammadiyah Sulsel
Muh Hasim Arfah March 28, 2026 08:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti menghadiri Syawalan 1447 Hijriah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan (Sulsel).

Acara tersebut berlangsung di Halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, Sabtu (28/3/2026).

Tampak hadir Ketua PP Muhammadiyah Prof Irwan Akib, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, jajaran PWM dan PWA Sulsel, para bupati dan wali kota, pimpinan daerah Muhammadiyah dan ’Aisyiyah se-Sulsel.

Hadir pula pimpinan amal usaha Muhammadiyah, rektor PTMA, pimpinan organisasi otonom, serta warga dan simpatisan Muhammadiyah dari berbagai daerah. 

Syawalan Muhammadiyah Sulsel ini terlaksana atas kerja keras Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, sebagai penyelenggara.

Ketua Panitia yang juga Rektor Unismuh Makassar, Dr Abd Rakhim Nanda, menjelaskan Syawalan ini digelar setiap tahun.

“Ini bukan sekadar rutinitas, melainkan forum silaturahmi yang memberi nilai bagi gerak persyarikatan,” jelasnya, saat sambutan.

Baca juga: Dihadiri Mendikdasmen, Munafri Apresiasi Peran Muhammadiyah Sektor Pendidikan dan Kesehatan

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti dalam kesempatan itu menitipkan pesan moderasi beragama.

Di depan ribuan tamu, ia menjelaskan bahwa perbedaan bukan alasan untuk mempertajam pertengkaran.

Melainkan kenyataan yang harus dikelola dengan lapang, dijawab dengan adab, dan diarahkan pada perlombaan dalam kebajikan.

Abdul Mu’ti mengajak umat melihat keragaman dengan cara pandang yang lebih dewasa. 

Menurutnya, tiap umat dan organisasi memiliki manhaj masing-masing, dan justru di situlah kedewasaan beragama diuji.

“Bukan pada kemampuan menyeragamkan, melainkan pada kesanggupan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan” jelasnya.

Pria kelahiran 2 September 1968 itu mengaku menolak kecenderungan menjadikan perbedaan sebagai arena saling menegaskan siapa yang paling benar. 

Ia mengingatkan agar umat tidak terjebak pada kebiasaan merasa paling lurus, apalagi sampai menentukan siapa yang lebih layak masuk surga. 

Dalam penjelasannya, soal-soal yang berbeda itu berada dalam wilayah ijtihad, dan ijtihad, benar atau salah, tetap mengandung nilai ikhtiar di hadapan Allah. 

Yang lebih berbahaya, menurut dia, justru mereka yang memperkeruh suasana dan menjadikan perbedaan sebagai bahan bakar pertikaian.

“Nggak usah ngotot siapa yang paling benar, nggak usah ngotot siapa yang masuk surga,” kata Mu’ti, disambut tepuk tangan tamu undangan.

Launching Buku 

Syawalan 1447 Hijriah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel tidak hanya menjadi ajang silaturahmi warga persyarikatan.

Tetapi juga menjadi panggung peluncuran buku “Tauhid sebagai Energi Spiritual dan Sosial Muhammadiyah: Bunga Rampai Pemikiran dan Aplikasinya.” 

Peluncuran buku ditandai dengan penandatanganan pada replika sampul buku oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Abdul Mu’ti, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, dan Ketua PWM Sulsel Prof Ambo Asse.

Setelah penandatanganan, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan buku oleh Prof Ambo Asse kepada Prof Abdul Mu’ti, Andi Sudirman Sulaiman, perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), dan perwakilan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA).

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM Sulsel, Dr Hadisaputra, yang juga menjadi editor buku bersama Andi Asywid Nur, mengatakan, peluncuran buku itu sengaja ditempatkan dalam momentum Syawalan.

Sebab, forum tersebut tidak hanya mempertemukan warga Muhammadiyah dalam suasana kebersamaan pasca-Ramadhan, tetapi juga menyediakan ruang untuk meneguhkan kembali fondasi ideologis gerakan.

Menurut Hadisaputra, buku itu lahir dari forum pengajian Ramadan PWM Sulsel, yang kemudian dibukukan, sebagai sumber pengetahuan, sumber orientasi gerakan, dan sumber energi peradaban. 

Karena itu, kehadiran buku tersebut di tengah Syawalan dimaksudkan sebagai pengingat bahwa persyarikatan tidak cukup hanya dirawat dengan silaturahmi, tetapi juga harus diteguhkan dengan gagasan.

“Buku ini sesungguhnya lahir dari persilangan antara penguatan akidah, kebutuhan konsolidasi persyarikatan, dan ikhtiar untuk menurunkan gagasan tauhid ke dalam aksi. Karena itu, judulnya tidak ornamental,” katanya.

“Ada penekanan pada pemikiran, tetapi pemikiran itu tidak dibiarkan membeku. Ada penekanan pada tauhid, tetapi tauhid itu tidak diperlakukan sebagai wilayah abstraksi yang jauh dari realitas,” sambung Hadisaputra.

Hadi, sapaan akrab Kepala Humas Unismuh Makassar itu menjelaskan, buku tersebut merupakan buah intelektual dari Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PWM Sulsel yang digelar di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara pada 11-12 Ramadan 1447 H atau 28 Februari-1 Maret 2026. 

Dari forum itu, menurut dia, lahir himpunan pemikiran yang kemudian disusun menjadi mozaik gagasan tentang bagaimana Muhammadiyah memahami tauhid bukan hanya sebagai akidah yang diyakini.

Tetapi juga sebagai horizon yang menggerakkan pembaruan sosial, pendidikan, ekonomi, kelembagaan, dan pemberdayaan umat.

Hadisaputra menilai, salah satu kekuatan utama buku tersebut terletak pada kemampuannya memperlihatkan tauhid sebagai sistem makna yang hidup. 

Dalam pembacaan itu, tauhid tidak tampil sekadar sebagai doktrin, tetapi sebagai kerangka simbolik, etis, dan praksis yang membentuk cara warga Muhammadiyah memandang dunia, menilai krisis, menyusun strategi, dan membangun institusi. 

Karena itu, peluncuran buku di momentum Syawalan dipandang sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang menjadikan Syawal bukan sekadar penutup suasana Lebaran, tetapi awal untuk melanjutkan energi Ramadhan ke dalam kerja-kerja gerakan.

Buku setebal lebih dari 300 halaman itu diterbitkan oleh Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sulsel dan menghimpun tulisan dari sejumlah tokoh Muhammadiyah Sulsel.

Seperti Prof Ambo Asse, Prof A Qadir Gassing, Prof Arifuddin Ahmad, Prof Mustari Bosra, Dr Abd Rakhim Nanda, Dr Dahlan Lama Bawa, Dr Abbas Baco Miro, Prof Zulfahmi Alwi, Dr Muhammad Syaiful Saleh, Dr Pantja Nur Wahidin, Prof Budu, Prof Gagaring Pagalung, Dr Husain Abd Rahman, Dr Mawardi Pewangi, dan Dr Mahmudah. 

Dalam uraian pembahasannya, buku itu bergerak dari genealogi pemikiran akidah Muhammadiyah, isu-isu akidah kontemporer, gagasan tauhid para tokoh, manhaj tarjih, praksis amal usaha, ekonomi umat, hingga pengembangan cabang, ranting, dan masjid sebagai pusat pemberdayaan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.