SURYA.CO.ID, GRESIK - Kemeriahan Lebaran Ketupat di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim), diwarnai dengan aksi unik warga yang saling berebut uang di jalanan pada Sabtu (28/3/2026).
Tradisi ini dikenal dengan nama Udik-udikan, sebuah warisan budaya lokal yang tetap terjaga hingga kini. Warga menaburkan uang koin hingga uang kertas ke jalanan atau halaman rumah, sebagai simbol rasa syukur atas rezeki sepanjang tahun.
Prosesi Udik-udikan dimulai tepat setelah tasyakuran bersama yang menjadi puncak rangkaian perayaan Lebaran Ketupat di desa setempat.
Aruf, salah satu warga Desa Suci, mengungkapkan bahwa tradisi ini bukan sekadar berebut uang, melainkan bentuk kebersamaan masyarakat yang tidak terpisahkan.
"Setiap rumah biasanya menyiapkan uang pecahan mencapai ratusan ribu rupiah. Harapannya agar rezeki semakin lancar dan diberikan keberkahan," ujar Aruf saat ditemui SURYA.co.id di lokasi.
Uang yang ditebarkan bervariasi, mulai dari koin pecahan Rp 500 hingga uang kertas Rp 5.000. Fenomena ini menarik minat anak-anak hingga orang dewasa untuk berkeliling kampung berburu 'hujan uang'.
Faisal, peserta Udik-udikan lainnya, mengaku selalu menantikan momen ini setiap tahun. Menurutnya, aspek 'guyub' atau kerukunan antarwarga jauh lebih berharga daripada nominal uang yang didapatkan.
Berdasarkan data sejarah lokal, Udik-udikan merupakan tradisi turun-temurun di wilayah pesisir dan agraris Jawa Timur, khususnya Gresik. Istilah ini berasal dari kata 'udik' yang berarti menyebar.
Secara filosofis, tradisi ini melambangkan kerelaan pemilik harta untuk berbagi dengan sesama secara terbuka (transparan). Di Desa Suci, tradisi ini dikaitkan dengan penghormatan terhadap leluhur dan perayaan kemenangan setelah berpuasa syawal selama enam hari.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik juga terus mendorong tradisi ini sebagai daya tarik wisata religi dan budaya, yang memperkuat identitas lokal di tengah modernisasi.