Dukung Wacana WFH Jumat, Pengusaha Ingatkan Risiko ‘Long Weekend’ Terselubung
Muhammad Hadi March 28, 2026 10:33 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH — Wacana penerapan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan kian menguat di tengah tekanan global akibat konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Dunia usaha mendorong skema paling efektif, yakni WFH diberlakukan pada hari Jumat. Pola ini dinilai mampu menciptakan rangkaian tiga hari berturut-turut dengan mobilitas rendah, sehingga berdampak langsung terhadap konsumsi energi dan aktivitas ekonomi nasional.

“WFH Jumat ini bisa menjadi langkah strategis untuk menekan konsumsi energi dan menjaga stabilitas ekonomi,” kata Ketua Harian Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Aceh, Mahfudz Y Loethan, Sabtu (28/3/2026).

Pengurus pusat Kadin Indonesia ini juga menilai kebijakan tersbut sebagai langkah adaptif yang relevan di tengah tekanan global. 

Sebab, Indonesia saat ini mengonsumsi sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sementara produksi domestik masih berada di kisaran 600 ribu barel. 

Baca juga: Houthi Yaman Bantu Iran Lawan AS-Israel, Ini Dampaknya Jika Selat Bab al-Mandab Diblokade

Dalam kondisi tersebut, kata dia, setiap kenaikan harga minyak global akan langsung menekan APBN, terutama dari sisi subsidi dan impor energi.

Untuk itu, WFH satu hari dinilai sebagai langkah cepat yang bisa menekan konsumsi BBM tanpa membutuhkan kebijakan fiskal besar. 

Dengan pengurangan mobilitas pada hari Jumat yang terhubung dengan Sabtu dan Minggu, potensi efisiensi energi menjadi lebih besar karena terjadi penurunan aktivitas selama tiga hari berturut-turut.

Ia mengungkap, jika mobilitas turun hingga 20 persen dalam satu hari kerja, maka penghematan konsumsi BBM dinilai bisa signifikan. 

Efek lanjutannya adalah berkurangnya impor minyak, menurunnya tekanan terhadap subsidi energi, serta membantu menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Namun demikian, kebijakan ini juga dinilai memiliki konsekuensi terhadap sejumlah sektor. 

Aktivitas transportasi, ojek online, hingga pelaku UMKM di kawasan perkantoran berpotensi mengalami perlambatan pada hari Jumat.

“Sebaliknya, sektor digital dan layanan berbasis rumah diperkirakan meningkat, seiring perubahan pola kerja dan konsumsi masyarakat,” ujarnya. 

Baca juga: Houthi Yaman Serang Israel dengan Rudal, Konflik Timur Tengah Kian Memanas?

Selain itu, kata Mahfudz, sektor pariwisata dan perjalanan antarkota juga berpotensi terdorong. 

Pola tiga hari ini membuka peluang masyarakat untuk bepergian lebih panjang. 

Kondisi ini dinilai perlu diantisipasi agar tidak justru meningkatkan mobilitas dan konsumsi BBM.

“Harus diantisipasi agar tidak berubah menjadi long weekend (libur panjang) yang justru meningkatkan mobilitas,” ungkapnya. 

Menghemat energi

Ia menambahkan, kebijakan ini juga memiliki nilai tambah bagi masyarakat, khususnya umat Muslim.

”Bagi umat Muslim, WFH di hari Jumat memberi ruang untuk memaksimalkan ibadah dengan lebih tenang tanpa tekanan mobilitas.

 Ini menjadi nilai positif, selama tetap dijalankan dengan tanggung jawab,” kata alumni Lemhannas ini.

Ia menambahkan, keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada disiplin pelaksanaan dan keseimbangan dampak terhadap sektor ekonomi.

“Jangan sampai niatnya menghemat energi, tapi di lapangan justru terjadi pemborosan baru. Ini harus dijaga agar tetap on track,” tegasnya.

Baca juga: Demi Hemat BBM, Pemkab Sumenep Dorong ASN Jalan Kaki dan Bersepeda

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.