SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG – Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (Jatim), didorong untuk membentuk konsorsium usaha guna menangkap peluang investasi yang semakin berkembang.
Konsorsium ini, diproyeksikan mampu menggarap peluang investasi yang kini mulai dilirik para investor, seiring pertumbuhan ekonomi daerah.
Wakil Ketua Bidang IT Badan Pengurus Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC PHRI) Tulungagung, Hari Pradana, menyampaikan bahwa selama ini UMKM memiliki pengalaman dalam menjalankan usaha, namun masih lemah dalam kerja sama bisnis skala besar.
“Selama ini pelaku UMKM punya pengalaman menjalankan usaha, tapi jika urusan kerja sama usaha mereka masih kurang,” ujar Hari, saat menjadi narasumber halalbihalal Sahabat UMKM Tulungagung, Sabtu (28/3/2026).
Ia menilai, “kue pembangunan ekonomi” di Tulungagung hanya bisa dijangkau melalui kekuatan modal besar, sehingga UMKM perlu bersatu.
Hari mencontohkan, satu pelaku UMKM mungkin hanya memiliki modal Rp 5 juta. Namun jika dikumpulkan dari 1.000 pelaku, totalnya bisa mencapai Rp 5 miliar.
“Dengan dana Rp 5 miliar kemampuan investasinya akan semakin bertambah. Memang akan ada masalah kepercayaan dan ego masing-masing,” tambah Hari.
Menurut Hari, tantangan utama dalam membentuk konsorsium adalah membangun kepercayaan dan menyatukan visi antar pelaku usaha.
Solusinya, diperlukan diskusi intensif dan forum bersama seperti Focus Group Discussion (FGD).
“Memang perlu ada FGD berbagai hal agar lebih powerful,” ucapnya.
Hari juga menyoroti peluang besar yang muncul dari pembangunan Tol Kediri–Tulungagung. Sejumlah investor dikabarkan siap membangun hotel di sekitar exit tol, seperti di Karangrejo dan wilayah kota.
UMKM dapat mengambil peluang tersebut, baik sebagai investor langsung maupun mitra usaha.
“Dengan modal Rp 2 miliar kita bisa mendirikan restoran. Namun jika hanya Rp 100 juta, bisa mendirikan food container di titik-titik strategis,” paparnya.
Seiring perkembangan usaha, konsorsium UMKM dapat memperluas skala bisnis dengan berbagai strategi.
Pilihan pengembangan meliputi:
“Kalau tidak segera memunculkan ide, kita akan jadi penonton, atau sekadar partner,” tandas Hari.
Secara nasional, UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyerap sebagian besar tenaga kerja. Namun, tantangan terbesar UMKM adalah akses terhadap modal dan kolaborasi bisnis skala besar.
Model konsorsium dinilai menjadi solusi strategis untuk meningkatkan daya saing UMKM di tengah masuknya investasi besar di daerah.
Pelaku UMKM disarankan mulai membangun jaringan, memperkuat kepercayaan antar pelaku usaha, serta aktif mengikuti forum diskusi bisnis.
Dengan kolaborasi yang kuat, UMKM tidak hanya menjadi pelaku kecil, tetapi juga mampu menjadi pemain utama dalam pembangunan ekonomi daerah.