UMKM Tulungagung Didorong Bentuk Konsorsium Rebut Investasi, Jangan Jadi Penonton
Cak Sur March 28, 2026 11:32 PM

 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG – Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (Jatim), didorong untuk membentuk konsorsium usaha guna menangkap peluang investasi yang semakin berkembang.

Konsorsium ini, diproyeksikan mampu menggarap peluang investasi yang kini mulai dilirik para investor, seiring pertumbuhan ekonomi daerah.

Konsorsium UMKM untuk Perkuat Modal

Wakil Ketua Bidang IT Badan Pengurus Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC PHRI) Tulungagung, Hari Pradana, menyampaikan bahwa selama ini UMKM memiliki pengalaman dalam menjalankan usaha, namun masih lemah dalam kerja sama bisnis skala besar.

“Selama ini pelaku UMKM punya pengalaman menjalankan usaha, tapi jika urusan kerja sama usaha mereka masih kurang,” ujar Hari, saat menjadi narasumber halalbihalal Sahabat UMKM Tulungagung, Sabtu (28/3/2026).

Ia menilai, “kue pembangunan ekonomi” di Tulungagung hanya bisa dijangkau melalui kekuatan modal besar, sehingga UMKM perlu bersatu.

Modal Kecil Bisa Jadi Miliaran Rupiah

Hari mencontohkan, satu pelaku UMKM mungkin hanya memiliki modal Rp 5 juta. Namun jika dikumpulkan dari 1.000 pelaku, totalnya bisa mencapai Rp 5 miliar.

  • Modal individu kecil bisa dihimpun jadi besar
  • Konsorsium meningkatkan daya saing investasi
  • Peluang usaha lebih luas dan strategis

“Dengan dana Rp 5 miliar kemampuan investasinya akan semakin bertambah. Memang akan ada masalah kepercayaan dan ego masing-masing,” tambah Hari.

Tantangan: Kepercayaan dan Ego

Menurut Hari, tantangan utama dalam membentuk konsorsium adalah membangun kepercayaan dan menyatukan visi antar pelaku usaha.

Solusinya, diperlukan diskusi intensif dan forum bersama seperti Focus Group Discussion (FGD).

“Memang perlu ada FGD berbagai hal agar lebih powerful,” ucapnya.

Peluang Besar dari Tol Kediri–Tulungagung

Hari juga menyoroti peluang besar yang muncul dari pembangunan Tol Kediri–Tulungagung. Sejumlah investor dikabarkan siap membangun hotel di sekitar exit tol, seperti di Karangrejo dan wilayah kota.

UMKM dapat mengambil peluang tersebut, baik sebagai investor langsung maupun mitra usaha.

  • Hotel dan usaha pariwisata di sekitar exit tol
  • Restoran dengan modal sekitar Rp 2 miliar
  • Food container dengan modal sekitar Rp 100 juta

“Dengan modal Rp 2 miliar kita bisa mendirikan restoran. Namun jika hanya Rp 100 juta, bisa mendirikan food container di titik-titik strategis,” paparnya.

Strategi Pengembangan Usaha

Seiring perkembangan usaha, konsorsium UMKM dapat memperluas skala bisnis dengan berbagai strategi.

Pilihan pengembangan meliputi:

  • Menambah jumlah anggota konsorsium
  • Menggandeng investor eksternal
  • Bekerja sama dengan lembaga keuangan

“Kalau tidak segera memunculkan ide, kita akan jadi penonton, atau sekadar partner,” tandas Hari.

Data Tambahan: Tren UMKM dan Investasi

Secara nasional, UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyerap sebagian besar tenaga kerja. Namun, tantangan terbesar UMKM adalah akses terhadap modal dan kolaborasi bisnis skala besar.

Model konsorsium dinilai menjadi solusi strategis untuk meningkatkan daya saing UMKM di tengah masuknya investasi besar di daerah.

Imbauan untuk Pelaku UMKM

Pelaku UMKM disarankan mulai membangun jaringan, memperkuat kepercayaan antar pelaku usaha, serta aktif mengikuti forum diskusi bisnis.

Dengan kolaborasi yang kuat, UMKM tidak hanya menjadi pelaku kecil, tetapi juga mampu menjadi pemain utama dalam pembangunan ekonomi daerah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.