SERAMBINEWS.COM - Amerika Serikat dilaporkan telah meluncurkan sekitar 850 rudal jelajah Tomahawk ke Iran dalam perang yang kini memasuki pekan keempat.
Angka ini memicu kekhawatiran internal di Pentagon karena persediaan senjata tersebut disebut mulai menipis ke level “mengkhawatirkan”.
Menurut laporan The Washington Post, sejumlah pejabat militer AS menyebut stok Tomahawk yang tersisa di kawasan Timur Tengah sudah berada di tingkat “alarmingly low” atau sangat rendah.
Bahkan, seorang pejabat menggambarkan situasi tersebut mendekati istilah militer “Winchester” kondisi ketika amunisi hampir habis.
Rudal Tomahawk, yang bisa diluncurkan dari kapal perang dan kapal selam Angkatan Laut AS, digunakan secara intens sejak hari-hari awal perang yang dimulai pada 28 Februari lalu.
Dengan harga lebih dari 2 juta dolar AS per unit, penggunaan ratusan rudal ini juga mencerminkan besarnya skala operasi militer yang sedang berlangsung.
Laporan awal investigasi bahkan menyebut satu rudal Tomahawk diduga menjadi penyebab serangan ke sebuah sekolah dasar di kota Minab, Iran selatan, yang menewaskan 175 orang termasuk anak-anak.
Jumlah pasti persediaan rudal Tomahawk memang dirahasiakan. Namun analis memperkirakan bahwa 850 rudal yang telah digunakan bisa mencapai sekitar seperempat dari total stok militer AS.
Center for Strategic and International Studies memperkirakan Angkatan Laut AS memiliki sekitar 3.000 rudal Tomahawk sebelum konflik dimulai.
Pakar pertahanan dari lembaga tersebut, Mark Cancian, memperingatkan bahwa penggunaan besar-besaran ini dapat menciptakan “kekosongan signifikan” jika AS harus menghadapi konflik lain, terutama di kawasan Pasifik Barat.
Ia juga menegaskan bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk mengisi kembali stok tersebut.
Meski demikian, pihak Pentagon membantah adanya krisis persediaan senjata.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa militer AS tetap memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjalankan misi kapan pun dan di mana pun.
Hal senada juga disampaikan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang menyatakan tidak ada kekurangan amunisi dan operasi militer dapat terus berlanjut sesuai kebutuhan.
Dari Gedung Putih, juru bicara Karoline Leavitt memastikan bahwa stok senjata masih lebih dari cukup untuk mencapai target Operasi Epic Fury yang dicanangkan Presiden Donald Trump.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintahan Trump telah bertemu dengan perusahaan industri pertahanan, termasuk Raytheon, produsen rudal Tomahawk.
Trump mengklaim perusahaan-perusahaan tersebut sepakat untuk melipatgandakan produksi hingga empat kali lipat secepat mungkin guna menjaga kesiapan militer AS ke depan.(*)