Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Danendra Kusuma
TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk melaksanakan asesmen di Dusun Kedungbajul, Desa Gemenggeng, Kecamatan Pace.
Di lokasi tersebut terjadi fenomena tanah gerak yang mengancam sepadan Sungai Bodor.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Nganjuk, Sutomo mengatakan fenomena itu dipicu tingginya intensitas hujan di wilayah hulu, Kecamatan Loceret dan Ngetos, sedari beberapa hari lalu.
Seiring dengan itu, debit air Sungai Bodor meningkat tajam dan menggerus dinding sungai, hingga memicu retakan tanah di dua titik krusial.
"Kerusakan sepanjang 12 meter dengan lebar 2 meter dan tinggi 6 meter dan titik dua kerusakan lebih luas dengan panjang mencapai 50 meter, lebar 2 meter, serta tinggi 6 meter," katanya, Sabtu (28/3/2026).
Ia menyebut, retakan ini dinilai membahayakan mobilitas warga.
Mengingat, letaknya yang sangat dekat dengan jalan desa.
"Jika debit air kembali naik, dikhawatirkan penggerusan akan meluas dan memutus akses jalan tersebut," paparnya.
Sutomo, menambahkan pihaknya saat ini memprioritaskan keamanan warga dan fasilitas umum di sekitar bantaran sungai.
Kebutuhan mendesak yang telah diidentifikasi meliputi pemasangan anyaman bambu dan kantong pasir sebagai tanggul darurat untuk memperkuat dinding sempadan yang retak.
"Kami terus berkoordinasi dengan pihak desa dan provinsi untuk pengadaan material darurat seperti kantong pasir dan anyaman bambu yang berfungsi menahan laju penggerusan tanah," terangnya.
Sutomo mengimbau masyarakat agar tetap waspada. Terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang berpotensi memperparah kondisi tanah di sempadan sungai.
"Kami minta warga tetap waspada dan melaporkan segera jika melihat retakan baru," tutupnya