Oleh : RP. John Lewar SVD
Kapela St. Yohanes Paulus II Sikun
Paroki Besikama- Malaka Timor- NTT
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik Minggu 29 Maret 2026 Hari Minggu Palma dari RP. John Lewar SVD berjudul 'Sorak-Sorai Berujung Salib'.
Renungan Harian Katolik RP. John Lewar SVD merujuk pada Bacaan perarakan / pemberkatan daun palma : Mat. 21:1-11 Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Mat. 26:14-27:66. Warna Liturgi Merah
Pada hari Minggu Palma ini, kita diundang untuk merenungkan perjalanan Yesus menuju salib. Kita memperingati saat orang banyak menyambut Yesus dengan sorak-sorai, tetapi tak lama kemudian, mereka juga yang menyerukan penyaliban-Nya.
Sebuah perjalanan yang penuh kontradiksi, namun sangat sarat makna bagi hidup kita. Sorak-Sorai di Jalan Raya Yerusalem. Pada saat Yesus memasuki Yerusalem, orang banyak menyambut-Nya dengan sorak-sorai.
Mereka menghamparkan pakaian di jalan dan dengan daun palma di tangan, mereka an menyerukan: "Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Yohanes 12:13). Sorak-sorai ini merupakan ungkapan kegembiraan dan harapan.
Mereka menganggap Yesus sebagai Mesias yang akan membebaskan mereka dari penindasan Romawi. Mereka melihat Yesus sebagai pahlawan yang datang untuk mendirikan kerajaan baru, kerajaan yang penuh kedamaian dan keadilan.
Di balik sorak-sorai ini, terdapat perasaan yang sangat manusiawi: harapan akan kemenangan duniawi. Orang banyak menginginkan kemerdekaan politik, kebebasan dari penjajahan, dan kemakmuran materi.
Mereka tidak memahami sepenuhnya misi sejati Yesus yang datang untuk membawa kedamaian, bukan dengan kekuatan duniawi, tetapi dengan pengorbanan dan cinta yang tidak bersyarat.
Dari Sorak-Sorai Menuju Penyaliban. Hanya beberapa hari setelah soraksorai itu, orang banyak yang sama yang menyambut Yesus dengan suka cita, kini menyerukan agar Yesus disalibkan. "Salibkan Dia! Salibkan Dia!" (Lukas 23:21).
Mengapa perubahan yang begitu drastis ini bisa terjadi? Apa yang menyebabkan hati mereka berbalik begitu cepat?
Orang banyak di Yerusalem berharap Yesus akan mengusir penjajah Romawi, tetapi ketika mereka melihat bahwa Yesus memilih jalan penderitaan dan salib, mereka merasa disesatkan.
Mereka tidak lagi melihat Yesus sebagai Mesias yang mereka idamkan. Namun, di balik penolakan dan kemarahan itu, ada rencana Tuhan yang lebih besar. Salib, yang seharusnya menjadi simbol kekalahan dan penderitaan, justru menjadi kemenangan sejati bagi umat manusia.
Di atas salib itulah Yesus mengalahkan dosa dan maut. Jalan yang dipilih Yesus bukanlah jalan mudah atau sesuai dengan harapan manusia, tetapi jalan yang membawa keselamatan bagi kita semua.
Berikut ini makna Minggu Palma bagi kita umat Katolik. Pertama, Mengenang Yesus sebagai Raja yang rendah hati. Minggu Palma memperingati saat Yesus Kristus masuk ke Yerusalem dan disambut dengan daun palma.
Namun Ia datang bukan sebagai raja duniawi, melainkan raja yang sederhana. Kita diajak untuk bersikap rendah hati, tidak mengejar kemegahan atau kekuasaan semata.
Kedua, Simbol iman yang hidup, bukan hanya seremonial. Daun palma yang dibawa saat perayaan melambangkan kemenangan dan kesetiaan. Pertanyaan reflektif bagi kita, apakah iman kita hanya “rame saat perayaan”, atau benar-benar hidup dalam tindakan sehari-hari?
Ketiga, Mengingatkan kita, bahwa manusia punya pandangan selalu berubah. Orang banyak yang menyambut Yesus dengan sorak-sorai, tapi beberapa hari kemudian menuntut penyaliban-Nya. Manusia juga mudah berubah, setia saat senang, tapi goyah saat sulit. Minggu Palma mengajak untuk setia dalam segala situasi.
Kita semua diajak untuk ikut memikul salib. Perayaan ini tidak hanya tentang kemenangan, tapi juga jalan penderitaan menuju kebangkitan. Dalam hidup modern, orang mengalami tekanan kerja, masalah keluarga, dll.
Umat diajak melihat penderitaan sebagai bagian dari perjalanan iman, bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya.
Intinya, Minggu Palma di zaman sekarang adalah undangan untuk hidup lebih konsisten dalam iman, bersikap rendah hati, setia, dan berani mengikuti jalan Kristus, bahkan ketika itu tidak mudah.
Doa: Tuhan Yesus, kami mengucap syukur atas kasih-Mu yang tak terhingga. Engkau datang ke dunia ini bukan untuk dimuliakan dengan sorak-sorai manusia, tetapi mengorbankan diriMu melalui jalan salib, jalan penderitaan.
Kami mohon, kuatkanlah kami untuk setia mengikutiMu, dalam suka dan duka, dalam sorak-sorai dan penderitaan. Biarlah hidup kami menjadi saksi bagi cinta-Mu yang sempurna. Amin.
Sahabatku yang terkasih. Selamat Hari Minggu Palma, Mengenang Sengsara Tuhan. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin.