Usai Kematian Andito Dokter Muda Akibat Suspek Campak, RSUD Pagelaran Cianjur Vaksinasi Massal Nakes
Kharisma Tri Saputra March 29, 2026 02:45 PM

TRIBUNSUMSEL.COM - Kematian Dokter muda berinisial AMW (26) atau Andito Mohammad Wibisono di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat diduga akibat penyakit campak menjadi sorotan.

Manajemen RSUD Pagelaran, Cianjur, Jawa Barat, bergerak cepat melakukan langkah preventif menyusul kabar duka meninggalnya seorang dokter muda di rumah sakit tersebut.  

Adapun RSUD Pagelaran Cianjur menggelar pelaksanaan vaksinasi measles-rubella (MR) bagi seluruh tenaga kesehatan (nakes).

Baca juga: Dokter Usia 26 Tahun Meninggal Dugaan Campak, Kemenkes Ingatkan Campak Tak Hanya Serang Anak-anak

Direktur RSUD Pagelaran, dr. Jan Izaac Ferdinandus, mengonfirmasi bahwa langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada penyebaran virus di lingkungan kerja, mengingat nakes memiliki risiko paparan yang tinggi.

“Semua sudah didata, baik yang sudah maupun yang belum, sehingga hal ini segera akan kami tindak lanjuti. Meski sebenarnya vaksinasi ini sudah berjalan secara simultan,” ujar Irvan kepada Kompas.com, Sabtu (28/3/2026).

Selain imunisasi massal, RSUD Pagelaran bersama Kementerian Kesehatan RI telah melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE). Tim melakukan penelusuran kontak erat serta memeriksa kondisi kesehatan seluruh karyawan rumah sakit.

Berdasarkan pengecekan di seluruh instalasi, Irvan memastikan belum ditemukan adanya nakes atau karyawan yang menunjukkan gejala menyerupai campak.

Dua rekan sejawat almarhum yang juga dokter internship telah diperiksa dan dinyatakan sehat.

“Selama tidak ada gejala, tidak masalah untuk kembali bertugas. Namun, kami meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk mengkaji standar operasional untuk menjamin keselamatan pegawai,” tutur Irvan.

Menunggu Rilis Kemenkes

Hingga saat ini, status medis AMW masih dinyatakan sebagai suspek campak.

Manajemen rumah sakit dan Dinas Kesehatan masih menunggu rilis resmi hasil pemeriksaan laboratorium dari Kementerian Kesehatan dalam beberapa hari ke depan. 

AMW diketahui baru menjalani satu bulan program internship di RSUD Pagelaran dari total enam bulan masa penugasan.

Baca juga: Hasil Investigasi Sementara Penyebab Dokter Muda di Cianjur Meninggal Akibat Suspek Campak

Sebelumnya, almarhum telah menuntaskan tugas di Puskesmas Sukanagara, Cianjur.

“Almarhum sosok yang sangat antusias, berdedikasi, dan memiliki inisiatif baik. Almarhum kerap mendapat apresiasi dari para dokter karena sigap membantu tugas-tugas medis,” kenang Irvan.

Sebelum meninggal dunia, AMW sempat menjalani perawatan intensif akibat komplikasi pneumonia.

Kemenkes menyebutkan almarhum mengalami gejala klinis berupa demam, ruam merah, dan sesak napas berat sebelum kondisinya memburuk.

Berawal Demam

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman, mengatakan almarhum AMW dilaporkan mengalami gejala klinis berupa demam, ruam merah, serta sesak napas berat.

Merujuk hasil investigasi sementara, pasien mengalami penyakit campak dengan komplikasi pneumonia yang memperburuk kondisi kesehatannya.

Pihak RSUD Cimacan telah melakukan penanganan medis sesuai standar pada 26 Maret 2026.

Namun, pasien kemudian dinyatakan meninggal dunia setelah pihak RS memberikan penanganan maksimal.

“Kemenkes menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya tenaga medis tersebut. Kasus ini mengingatkan bahwa campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang belum divaksin atau belum pernah terinfeksi, dengan risiko komplikasi serius hingga fatal,” ungkap Aji di Jakarta, Jumat.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena menunjukkan bahwa campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga dapat berdampak fatal pada orang dewasa.

"Kasus ini mengingatkan bahwa campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang belum divaksin atau belum pernah terinfeksi, dengan risiko komplikasi serius hingga fatal,” tutur Aji, dikutip Tribunnews.com.

Sumber Penularan Ditelusuri

Aji menyebut, Kemenkes menelusuri sumber penularan campak yang diduga menyebabkan meninggalnya dokter internship di Cianjur itu.

“Kemenkes bersama Dinkes Cianjur, Dinkes Provinsi Jawa Barat akan melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) di lapangan pada tanggal 27 Maret 2026,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, tim kesehatan akan turun langsung ke lapangan untuk menelusuri kontak erat pasien, mengidentifikasi kemungkinan sumber penularan, serta melakukan penilaian risiko di lingkungan sekitar.

Selain itu, tim juga akan memberikan vitamin A kepada kelompok rentan sebagai upaya meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah penularan yang lebih luas di wilayah setempat.

“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit campak. Segera lengkapi status imunisasi karena vaksinasi merupakan perlindungan paling efektif untuk mencegah gejala berat dan kematian akibat penyakit campak,” tutur dia.

Masyarakat diharapkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala penyakit campak berupa demam tinggi dan ruam merah.

Untuk pencegahannya, masyarakat tetap perlu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti rajin mencuci tangan pakai air dan sabun, konsumsi makanan bergizi, serta menggunakan masker jika sedang sakit campak.

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.