TRIBUNNEWS.COM - Peringatan Hari Filateli Nasional diperingati setiap tanggal 29 Maret yang tahun ini jatuh pada hari ini Minggu (29/3/2026).
Hari Filateli Nasional 2026 bertepatan dengan peristiwa penting yang menjadi penanda tonggak sejarah filateli di Indonesia.
Filateli menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah koleksi dan penyelidikan tentang perangko dan meterai atau kegiatan pengumpulan perangko.
Mengutip Buku "Mengenal Filateli di Indonesia" karya Richard Susilo, Philateli berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu Philos yang berarti Teman dan Ateleia yang berarti Bebas Bea.
Penulisan kata philateli ini kini diganti penulisan menjadi filateli.
Sehingga dari asal kedua kata tersebut dapat digabungkan menjadi arti filateli adalah membebaskan teman atau kawan dari bea pos.
Wujud dari bea pos tersebut berupa prangko yang telah dibayarkan oleh si pengirim dan dilekatkan pada sampul surat sebagai bukti.
Pelunasannya ditandai dengan pemberian cap tanggal pos.
Momentum ini bukan sekadar perayaan bagi para kolektor, melainkan sebuah refleksi panjang atas dedikasi para pecinta prangko dalam menjaga kepingan-kepingan sejarah bangsa yang terabadikan melalui desain-desain kecil namun sarat makna.
Akar sejarah dari peringatan Hari Filateli Nasional 2026 bermula tepat 99 tahun yang lalu, ketika pada tanggal 29 Maret 1927, sebuah organisasi resmi bernama Nederlandsch-Indische Vereeniging van Postzegelverzamelaars (Perhimpunan Pengumpul Perangko Hindia Belanda) resmi didirikan di Jakarta.
Indonesia saat itu masih bernama Nederlands Indie.
Baca juga: Tanggal 29 Maret 2026 Memperingati Hari Apa? Ada Hari Filateli Nasional
Pendirian organisasi ini menjadi tonggak awal yang sangat krusial karena untuk pertama kalinya, kegiatan pengumpulan dan studi prangko di wilayah Nusantara dilakukan secara terstruktur.
Meskipun pada saat itu Indonesia masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda, kehadiran perhimpunan ini telah meletakkan dasar bagi pengembangan hobi filateli yang melibatkan penelitian mendalam terhadap benda-benda pos.
Hingga kemudian hari menjadi salah satu saksi bisu perjalanan administrasi dan budaya di wilayah Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1947 perkumpulan ini mengganti namanya menjadi AVPI (Algemene Vereniging voor Philatelisten in Indonesie).
Pasca kemerdekaan, tongkat estafet perjuangan dan pengembangan dunia filateli dilanjutkan oleh putra-putri bangsa melalui berbagai organisasi nasional, salah satunya adalah Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) yang berdiri pada tahun 1955.
Organisasi ini memiliki sejumlah cabang di sejumlah daerah.
Kehadiran PFI dan organisasi-organisasi serupa telah berhasil mengubah wajah filateli di Indonesia menjadi sebuah gerakan yang tidak hanya bersifat hobi, tetapi juga memiliki misi pembinaan bagi generasi muda.
Bahkan Indonesia juga menjadi bagian dari organisasi filateli internasional.
Pada 1969 Indonesia menjadi anggota Federation International de Philatélie (FIP) berkedudukan di Swiss.
Serta pada 1974 Indonesia dan beberapa anggota FIP di wilayah Asia mendirikan Federasi Filateli Regional berkedudukan di Singapura bernama Federation of Inter-Asian Philately (FIAP) dengan anggota organisasi perkumpulan filateli di wilayah Asia-Pasifik.
Lalu pada tanggal 3 Mei 1973 berdirilah Pusat Philateli bertempat di Jalan Cikini Raya 5, Jakarta Pusat.
Tanggal 26 Agustus 1981 nama Pusat Philateli berubah menjadi Kantor Philateli Jakarta yang sekaligus pengalihan tanggung jawab dari Dirjen Pos ke Kantor Daerah Pos I, Jakarta.
Melihat kembali pada peristiwa bersejarah 29 Maret 1927 sebagai awal resmi gerakan filateli terorganisir, diharapkan peringatan di tahun 2026 ini mampu membangkitkan kembali minat masyarakat.
Terutama di tengah arus digitalisasi, untuk terus menghargai prangko sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan dokumentasi sejarah nasional Indonesia.
Pada momen spesial ini, Ketua Himpunan Penulis Filateli Indonesia (Hipfil), Richard Susilo memberikan pesan dan harapannya di momen Hari Filateli Nasional 2026.
Ia berharap agar masyarakat Indonesia masih mengingat akan sejarah masa lalu tentang budaya perangko atau Filateli.
"Pesan saya agar sebanyak mungkin anggota masyarakat ingat akan sejarah masa lalu budaya prangko/filateli yang sangat berguna bagi kehidupan kita sendiri. Benda kecil tapi tak bisa dilupakan. Dari samakan sejarah tercetak dengan baik," kata Richard Susilo saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (29/3/2026).
Lebih lanjut, Richard juga memberikan gambaran tentang perkembangan filateli di Indonesia saat ini, terutama di era digital.
Richard Susilo menekankan bahwa berkembangan filateli di Indonesia tidak akan hilang meski memasuki era digital.
Perkembangan dunia filateli tetap bagus karena ini hobi kategori khusus. Era digital tidak akan hilang. Hal itu sudah saya sampaikan sejak 45 tahun lalu saat saya masih di Indonesia. Selain itu juga telah muncul sejak satu dua tahun terakhir adanya prangko digital yang juga dikoleksi para penggemarnya," terangnya.
"Bukti upaya kalangan pengumpul prangko menyesuaikan dirinya dengan era digital saat ini," imbuhnya.
Menurut Richard, filateli adalah hobi yang sangat lengkap dan ada di semua sisi kehidupan manusia.
"Mengumpulkan benda filateli ada semua di dalam kehidupan manusia. Misalnya mata, telinga tangan dan sebagainya, ada prangko dengan tema tersebut, tema mata telinga tangan dan sebagainya."
"Silakan sebut dalam kehidupanmu apa saja. Nuklir, persenjataan, sepatu, motor mobil, bunga, palang merah dan sebagainya. Semua ada prangkonya," tandasnya.
Tidak hanya itu, Richard juga memberikan pendapatnya tentang minat generasi muda terhadap perkembangan filateli di Indonesia.
Menurutnya peran generasi muda terhadap perkembangan filateli di Indonesia masih tetap baik.
"Peran generasi muda dan perkembangan filateli di Indonesia masih tetap baik," ujarnya.
Namun, ia menyayangkan saat ini di Indonesia masih kurang generasi muda yang sukarela mau mengembangkan filateli di Indonesia.
"Yang menjadi masalah kini justru masih kurangnya Penggerak, Aktivis Filateli yang mau sukarela menyebarluaskan perkembangan filateli lebih lanjut."
"Di Jaman saya dulu tahun 70 an dan 80 an banyak penggerak filateli yang ke luar uang dari kantongnya sendiri. Sukarena dan suka cita membangun dan aktif mengembangkan perfilatelian di Indonesia. Kini tampaknya jadi barang sangat langka orang yang demikian," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka)