TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO - Debu tanah beterbangan, namun sorak sorai, tawa, bercampur deru mesin motor matic semakin terdengar kencang di Lapangan Sepak Bola Desa Renah Alai, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin.
Ibu-ibu, baik yang berdaster maupun bercelana panjang, adu cepat membetot gas motor matic di track tanah.
Di tengah suasana Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah, lapangan desa yang berlatar pemandangan Gunung Masurai yang indah itu berubah fungsi.
Jika hari biasa menjadi lokasi anak muda berolahraga sepakbola, hari itu rumput hijau yang terbentang jadi arena balap yang tak biasa.
Bukan pebalap profesional yang adu cepat di sana, melainkan para emak-emak adu cepat ala pebalap profesional.
Desa Renah Alai, Kecamatan Jangkat, berada di pinggir Kabupaten Merangin. Dari Bangko yang merupakan pusat kabupaten, berjarak sekira 105 kilometer yang ditempuh dalam 3 jam perjalanan darat.
Sementara itu, jarak Desa Renah Alai dari Kota Jambi yang merupakan pusat Provinsi Jambi berjarak sekira 356 kilometer atau 8 jam perjalanan darat.
Dalam video tersebut, terlihat sejumlah ibu-ibu menunggangi motor matic berbagai jenis, memutari lintasan sederhana yang dibuat di dalam lapangan bola.
Ada yang melakukan cornering (menikung) dengan leg out alias satu kaki turun ala pebalap grasstrack. Ada juga yang melakukan kneedown.
Tapi tak terlihat ada ibu-ibu melakukan wheelie angkat roda depan kendaraan.
Sorakan warga, keluarga, dan anak-anak yang memberi dukungan membuat suasana semakin meriah.
Uniknya, tak ada wajah tegang seperti di arena balap profesional. Yang tampak justru senyum lepas, tawa renyah, dan adrenalin yang mengalir bersama kebahagiaan.
Para peserta emak-emak terlihat antusias, meski sebagian dari mereka sehari-hari lebih akrab dengan jalan kebun daripada lintasan balap.
Inisiatif Karang Taruna
Kepala Desa Renah Alai, Hasan Basri, menuturkan turnamen balap motor matic itu merupakan inisiatif pemuda Karang Taruna untuk menghidupkan suasana Lebaran di desa.
"Benar, itu kegiatan Karang Taruna dalam rangka memeriahkan Idulfitri 1447 H," ujar Hasan Basri kepada Tribun Jambi.
"Kami dari pemerintah desa mendukung, supaya warga tidak berkendara jauh ke luar desa dan menghindari kecelakaan,” sambungnya.
Dari Laki-laki ke Perempuan
Awalnya, lomba balap motor tersebut memang dirancang untuk peserta laki-laki.
Namun, antusiasme justru datang dari kalangan ibu-ibu.
Tergiur hadiah dan ingin mencoba sensasi berbeda, mereka pun ikut mendaftar.
"Awalnya untuk laki-laki, tapi ibu-ibu malah ikut. Ternyata yang paling meriah justru emak-emak,” kata Hasan Basri sambil tertawa.
"Banyak dari mereka biasa naik motor ke kebun, jadi merasa tertantang,” tambahnya.
Turnamen itu digelar selama empat hari, mulai Sabtu hingga Selasa, bertepatan dengan suasana libur Idulfitri.
Setiap peserta hanya perlu membayar uang pendaftaran Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.
Pemenang langsung mendapatkan hadiah di setiap putaran lomba.
Lebih dari sekadar balapan, kegiatan ini menjadi ruang hiburan sekaligus perekat kebersamaan warga.
Di tengah meningkatnya arus wisata ke kawasan Jangkat saat Lebaran, pemerintah desa sengaja menghadirkan kegiatan lokal agar warga tak perlu bepergian jauh.
“Daripada warga ‘round’ ke luar desa, jalanan ramai dan rawan macet, lebih baik kita buat kegiatan di desa sendiri,” jelas Hasan Basri.
“Yang penting warga senang, aman, dan kebersamaan tetap terjaga,” tuturnya.
Kata Hasan Basri, di Desa Renah Alai, Idulfitri tahun ini bukan hanya tentang silaturahmi dan hidangan khas Lebaran. Ini tentang keberanian ibu-ibu menarik gas motor, tawa yang lepas, dan kebahagiaan sederhana yang lahir dari kebersamaan. (Frengky Widarta)
Baca juga: Kerangka Manusia di Tanjabtim Jambi Ternyata Nelayan Asal Kepri
Baca juga: Dugaan Perselingkuhan ke Aksi Massa, Konflik Desa Pematang Raman Memanas