Paus Leo XIV Getarkan Nurani, Kecam Pemimpin Bawa Nama Tuhan di Konflik Iran: Tuhan Menolak Perang!
Budi Sam Law Malau March 29, 2026 07:30 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM – Di bawah langit Roma yang kelabu pada Minggu Palma, 29 Maret 2026, Paus Leo XIV berdiri di hadapan puluhan ribu umat di Lapangan Santo Petrus dengan pesan yang menggetarkan sanubari.

Pemimpin Gereja Katolik kelahiran Amerika Serikat pertama ini menyampaikan teguran keras terhadap para pemimpin dunia yang menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan pertumpahan darah dalam sebuah peperangan.

"Tuhan tidak mendengarkan doa mereka yang mengobarkan perang, melainkan menolaknya," tegas Paus Leo dalam homili Pekan Suci pertamanya sejak terpilih.

Baca juga: 3.500 Marinir AS Tiba dan Siap Perang Darat Berminggu-minggu, Iran: Mendekatlah, Kami Kubur Kalian!

Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang kian memanas antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran, yang telah mengubah peta keamanan Timur Tengah menjadi palagan yang mengerikan.

Kidung Perang Vs Doa Perdamaian

Pesan Paus Leo XIV terasa sangat kontras dengan narasi yang datang dari Washington.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam pengarahan resminya baru-baru ini, secara terang-terangan mengutip Mazmur 144 untuk memberikan legitimasi religius pada operasi militer.

"Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang melatih tanganku untuk peperangan, dan jari-jariku untuk pertempuran," kutip Hegseth saat mengenang prajurit AS yang gugur.

Bagi Paus Leo, penggunaan kitab suci sebagai instrumen 'kekerasan yang luar biasa' adalah sebuah kemunduran peradaban.

Ia justru mengutip mendiang Uskup Antonio Bello, pejuang perdamaian Italia yang dikenal vokal menentang Perang Teluk, untuk menegaskan bahwa tak ada satu pun alasan suci yang bisa membenarkan penghancuran nyawa manusia.

"Tidak seorang pun dapat menggunakan Tuhan untuk membenarkan perang," kata Paus di depan ribuan orang yang tampak tergetar sanubari dan nuraninya.

Yerusalem yang Terluka: Tradisi yang Terhenti

Dampak perang tidak hanya terasa dalam retorika politik, tetapi juga mematikan tradisi ribuan tahun di Tanah Suci.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, prosesi Minggu Palma yang meriah di Yerusalem dibatalkan.

Baca juga: Reaktor Nuklir Iran Digempur Israel, Ratusan Tentara AS Tumbang dalam Konflik Timur Tengah

Kota yang seharusnya dipenuhi lambaian daun palem dan nyanyian syukur kini sunyi oleh sirene dan larangan berkumpul.

Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, mengungkapkan kesedihan mendalam atas situasi ini.

"Tahun ini kita tidak bisa menjalani perjalanan prapaskah tradisional di Yerusalem. Ini adalah luka tambahan di atas banyak luka lainnya yang disebabkan oleh konflik ini," ujarnya dalam pernyataan resmi.

Fakta Kelam di Balik Garis Depan

Sejak serangan udara gabungan dimulai pada akhir Februari 2026, realita di lapangan jauh dari kata pembebasan.

Lebih dari 1.900 orang dilaporkan tewas di Iran, termasuk warga sipil dan anak-anak sekolah yang terjebak dalam serangan di pemukiman.

Korban jiwa ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perang yang belum juga berakhir.

Serangan terhadap depot bahan bakar juga menyebabkan fenomena mengerikan di mana minyak mentah turun bersama hujan dari langit Tehran.

PBB memperkirakan lebih dari satu juta orang telah mengungsi di wilayah Iran dan Lebanon akibat serangan balasan yang tidak kunjung reda.

Di tengah ketegangan ini, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa Pekan Suci adalah peringatan tentang pengorbanan, bukan penindasan.

Saat dunia menanti apakah gencatan senjata yang dijanjikan Presiden Trump akan terwujud pada 6 April mendatang, Vatikan terus menjadi mercusuar bagi mereka yang percaya bahwa dialog lebih kuat daripada bubuk mesiu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.