Krisis Energi Global Bayangi Bali, Dampaknya Bisa Menjalar ke Sektor Pariwisata dan Ekonomi Lokal
Irwan Wahyu Kintoko March 29, 2026 07:30 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Ketegangan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia.

Gangguan di kawasan ini dapat mendorong kenaikan harga energi global, yang pada akhirnya berdampak pada sektor transportasi, khususnya penerbangan.

Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar isu geopolitik.

Baca juga: Warga Padati Destinasi Wisata di Jakarta saat Libur Lebaran 2026, dari Ancol, TMII hingga Ragunan

Di Bali, dampaknya berpotensi langsung terasa, terutama pada sektor pariwisata yang menjadi tulang-punggung ekonomi daerah.

Gubernur Bali Wayan Koster memastikan kondisi saat ini masih terkendali.

Tapi para pengamat politik melihat adanya risiko yang tidak selalu muncul secara langsung, tapi dapat berkembang melalui tekanan biaya dan gangguan mobilitas.

Bagi Bali, dampak ini memiliki konsekuensi yang lebih luas.

Baca juga: Antisipasi Ledakan Penumpang Lebaran, PT Transportasi Jakarta Tambah Armada ke Tujuan Wisata

Pendiri Hey Bali sekaligus pelaku pariwisata, Giostanovlatto, menilai, sektor pariwisata menjadi titik paling sensitif terhadap gejolak energi.

"Pariwisata Bali bergantung pada mobilitas, jika harga avtur naik atau penerbangan dikurangi, efeknya langsung terasa pada kunjungan wisatawan," kata Giostanovlatto, Minggu (29/3/2026).

Ia menjelaskan, perubahan tersebut biasanya tidak terjadi secara drastis dalam satu waktu, tapi muncul bertahap.

"Ada perlambatan, pemesanan mulai turun, lama tinggal wisatawan berkurang, dan pengeluaran mereka ikut menurun, ini yang berdampak ke seluruh rantai ekonomi," ucap Giostanovlatto.

Baca juga: Pameran Internasional Seni Rupa dan Desain Bali Bhuwana Rupa Tampilkan Transformasi Batik

Data menunjukkan, sektor akomodasi dan makan-minum menyumbang lebih dari 20 persen terhadap PDRB Bali.

Namun jika dihitung secara luas, aktivitas ekonomi yang terkait dengan pariwisata dapat mencapai hingga 75–80 persen dari keseluruhan ekonomi daerah.

Dalam struktur seperti itu, tekanan terhadap pariwisata tidak hanya berdampak pada hotel dan restoran, tetapi juga pada sektor lain seperti transportasi lokal, perdagangan, hingga tenaga kerja informal.

Efek Berantai ke Biaya Hidup dan Usaha

Selain sektor pariwisata, dampak krisis energi juga berpotensi menjalar ke biaya operasional dan distribusi.

Pengamat kebijakan publik berbasis di Bali, Prazuni Firzan Nasution, menilai gangguan energi memiliki efek berlapis terhadap ekonomi daerah.

"Ketika energi terganggu, biaya transportasi naik, distribusi barang menjadi lebih mahal, dan pada akhirnya menekan daya beli serta sektor usaha, termasuk UMKM," ujarnya.

Menurutnya, Bali berada pada posisi yang lebih rentan karena tidak memiliki sumber energi sendiri.

"Bali tidak memproduksi energi, artinya, setiap gangguan pasokan dari luar akan lebih cepat dirasakan, baik dalam bentuk kenaikan harga maupun tekanan operasional," kata Prazuni.

Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut juga berpotensi memengaruhi stabilitas layanan dasar, seperti kelistrikan dan distribusi LPG, yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga dan sektor usaha.

Para pengamat menekankan bahwa risiko utama bukan pada kelangkaan energi secara langsung, melainkan pada efek tidak langsung yang muncul melalui kenaikan biaya dan gangguan mobilitas.

Bagi Bali, yang ekonominya sangat bergantung pada pergerakan wisatawan, perubahan kecil dalam biaya perjalanan dapat berdampak signifikan terhadap jumlah kunjungan.

Jika harga tiket meningkat atau frekuensi penerbangan menurun, wisatawan cenderung menunda perjalanan atau memilih destinasi alternatif yang lebih terjangkau.

Dampaknya kemudian menjalar ke berbagai sektor, dari tingkat hunian hotel hingga pendapatan pelaku usaha kecil di kawasan wisata.

Ketahanan Ekonomi

Meski pemerintah memastikan kondisi saat ini masih aman, para pelaku dan pengamat menilai perlunya langkah antisipatif untuk mengurangi dampak jika tekanan global berlanjut.

Giostanovlatto menilai diversifikasi pasar wisatawan dapat menjadi salah satu strategi jangka pendek.

"Pasar domestik dan regional bisa menjadi penyangga sementara jika kunjungan wisatawan internasional menurun," ujarnya.

Prazuni menekankan pentingnya kesiapan kebijakan dan sistem pendukung ekonomi.

"Yang perlu dipastikan adalah kesiapan sistem, baik dari sisi energi maupun ekonomi, karena dampaknya bisa terasa dalam waktu singkat," katanya.

Ketegangan di Timur Tengah mungkin terjadi jauh dari Bali.

Namun dalam sistem ekonomi global yang saling terhubung, dampaknya dapat menjalar dengan cepat ke daerah yang sangat bergantung pada mobilitas dan layanan.

Saat ini Bali dinyatakan dalam kondisi aman.

Namun para pengamat menilai bahwa kewaspadaan tetap diperlukan, mengingat tekanan global dapat berubah menjadi dampak lokal dalam waktu yang relatif singkat.

Di tengah dinamika tersebut, Bali menghadapi satu tantangan utama: menjaga stabilitas di tengah ketergantungan yang tinggi terhadap faktor eksternal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.